Like a Star 3

Mungkin ini post terakhir sebelum benar-benar hiatus sampai beberapa waktu ke depan,, banyak sekali problem di dunia nyata, yang cukup menguras tenaga maupun otak 😀 do’a kan saja semuanya akan baik-baik saja.. untuk semuanya minal aidzin ya…

Happy reading ^^

 

Cinta adalah sebuah anugerah Tuhan…

Yang mengikat kedua insan untuk saling bersama..

Disetiap duka pasti terselip suka…

Disetiap kesedihan pasti akan ada kegembiraan..

 

Seperti biasa, pagi hari adalah waktu yang sangat sibuk untuk gadis bernama Hye Ji itu, dimulai ketika bangun pukul 05.00, gadis itu akan membereskan apartemenya, mencuci baju kotor suaminya, memasak dan berakhir dengan menyiapkan segala keperluan yang akan suamianya pakai.

Hye Ji seolah sudah terbiasa dengan kegiatannya setiap hari. Tak henti-henti nya Hye Ji selalu mengerjakan pekerjaannya dengan hati yang ikhlas, seperti kata pepatah. Sumur, dapur, kasur. Ketiga hal itulah yang harus di kuasai oleh istri di apartemennya. Memasak, beres-beres apartemen dan juga melayani suami.

“Aku sudah menyiapkan, baju dan juga dasi yang cocok”Kyu Hyun mengangguk. Tanpa banyak bicara lelaki itu segera menyambar kemeja dan dasi yang telah disiapkan istrinya, dengan cepat kemeja putih itu telah melekat dengan pas di tubuhnya. Kyu Hyun mulai mengambil dasi dan memakaikannya sendiri.

“Aku akan membantumu…”Kyu Hyun terlihat kesusahan saat akan menyimpul dasi nya. Hye Ji tiba-tiba datang dan mengambil alih pekerjaannya. Kyu Hyun hanya diam saat tangan terampil itu mulai menyimpulkan dasi untuknya

Kyu Hyun merasakan jantungnya berdebar saat gadis itu berada di dekatnya. Kyu Hyun tidak berani menatapnya dengan jelas, apalagi kini terdengar helaan nafas putus asa keluar dari bibirnya. Sungguh tak bisa disangkanya, kalau Hye Ji benar-benar seperti menggodanya pagi ini. Ya meskpin gadis itu hanya memakai piyama, namun Kyu Hyun merasa perlakuan Hye Ji yang sedang mengikat simpul dasinya adalah menggodanya. Damn it, Kyu Hyun benar-benar merasa dirinya mulai tidak waras.

“Tidak sarapan?”Tanya Hye Ji. Kyu Hyun menatapnya sekilas, membuang wajahnya ke samping, tak ingin lama-lama bertatapan dengan gadis itu, rasanya bisa gila kalau Kyu Hyun berada di dekat istrinya.

“Aku akan makan di kantor”Ucapnya pelan. Seperti dugaannya, Hye Ji menyerahkan sebuah bekal yang sudah disiapkannya tadi, takut-takut jika suaminya tidak sarapan dulu, dan benar saja. Kyu Hyun memilih untuk bekerja tanpa memakan masakannya dulu

“Aku tidak bisa menjamin makanan di luar benar-benar higenis”

“Aku pergi dulu—“Hye Ji terdiam di depan pintu. Menatap punggung suaminya, berjalan dengan sedikit pelan memasuki mobilnya. Lelaki itu masih sama saja, bersikap dingin layakanya seperti es batu, sampai kapan dia harus seperti ini? Menghadapi sikap dingin dari suaminya? Padahal Hye Ji sudah berusaha keras melakukan semua yang terbaik untuk Kyu Hyun.

“Baiklah, aku akan belanja persediaan makanan”Hye Ji memilih untuk segera memasuki apartemen itu. Menatap sekilas ke jam dinding yang bertengger di dekat tv. Sudah waktunya, waktunya untuk Hye Ji berangkat ke supermarket, memilih bahan makanan yang akan dijadikannya persediaan untuk beberapa hari ke depan.

Hye Ji memilih untuk berjalan kaki untuk sampai ke supermarket terdekat dari apartemennya. Hye Ji mulai memilih troli dan segera melangkahkan kakinya menuju dimana bahan-bahan masakan di jual disana. Hye Ji memilih beberapa buah-buahan, Ramyun instan, daging, sayur-sayuran dan juga tak ketinggalan beberapa rempah-rempah yang dirasanya perlu.

“Hye Ji—“

“Hye Ji, kau kah itu?”Hye Ji terlihat sedikit terkejut karena terlihat seorang gadis memanggilnya. Gadis itu tersenyum padanya, memeluk tubuhnya sekilas.

“Sakura”Gadis itu mengangguk di dalam pelukannya. Hye Ji melepas pelukan itu, dan menatap dengan semua rasa rindu yang dimilikinya untuk temannya yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya

“Kau baik-baik saja?”Sakura mengangguk

“Bagaimana denganmu?”

“Aku baik-baik saja“

“Sudah sangat lama ya?”Gumam Hye Ji. Sakura menganggukan kepalanya.

“Bagaimana dengan Myungsoo. Aku dengar kau—“

“Dia meninggalkanku, dan beberapa hari kemarin dia kembali muncul di depanku”

“Sakura. Apa aku bisa melupakannya?”Hye Ji menumpahkan semua yang ia alami dengan Myungsoo. Sakura adalah salah satu temannya yang juga berteman baik dengan Myungsoo. Dulu mereka bertiga adalah teman yang sangat kompak sewaktu SMA sampai Sakura seolah menghilang tertelan bumi. Entah kemana, dan hari ini, Hye Ji seolah mendapatkan sebuah kabar baik. Sakura temannya berada di hadapannya, dan dalam keadaan baik-baik saja,

“Aku turut prihatin Hyeji”

“Aku sangat tahu bagaimana dulu kau sangat mencintainya, tapi mendengarmu bercerita, aku berkesimpulan kalau kau telah menemukan penggantinya—“

“Siapa dia Hye Ji?”

“Aku sudah menikah”Ucap Hye Ji dengan raut wajah sedihnya. Dia tidak bisa berbohong dihadapan sakura, berpura-pura senang dengan pernikahannya. Padahal sama sekali tidak, Hye Ji tidak pernah merasakan ada cinta diantara dia dan suaminya. Hye Ji hanya menikah karena dia merasa perlu memilih untu melanjutkan sekolahnya dengan di biayai ayah Kyu Hyun. Bahkan ayah mertuanya menjamin kehidupannya setelah menikah dengan anaknya.

“Aku benar-benar tidak tahu, apa kau bahagia?”Tanya Sakura hati-hati. Melihat bagaimana ekspresi yang ditunjukan Hye Ji. Sepertinya gadis itu tidak bahagia sama sekali, malang sekali nasib Hye Ji. Sakura memeluknya dengar erat

“Maafkan aku Hye Ji”Sakura benar-benar minta maaf. Karena tidak berada saat temannya sedang mmebutuhkannya. Sakura benar-benar menyesal karena meninggalkan temannya seorang diri, Hye Ji pasti sangat menderita selama ini. Sendirian gadis itu menghadapi semua ini. Kasihan dia.

“Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong kau selama ini dimana?—“

“Aku..aku di jodohkan oleh ayahku Hye Ji-ya

“Setelah lulus SMA waktu itu, beberapa bulan setelahnya aku menikah—“

“Wah. Aku turut bahagia”

“Kau kenapa? Kenapa kau seakan-akan sangat sedih Sakura?”

“Suamiku selingkuh, dan kami memilih untuk berpisah.”Hye Ji menggenggam erat tangan temannya. Mencoba untuk memberikan kekuatan pada temannya. Sayang sekali, Hye Ji tidak tahu kalau hidup sakura akan semenyedihkan ini.

“Eomma”Sakura merentangkan kedua tangannya, begitu seorang anak kecil berlari padanya, Sakura memeluk anak kecil itu dan mendudukannya di atas pahanya

“Eric. Dia anak ku..”Hye Ji tersenyum senang. Ternyata sahabatnya sudah memiliki anak, dia anak yang lucu. Hye Ji mencoba untuk memegang tangan anak Sakura. Anak itu terlihat ketakutan karenanya. Hye Ji tertawa, anak Sakura begitu gemas dan sangat tampan

“Dia anak yang manis Sakura. Beritahu aku bagaimana kau bisa melahirkan anak semanis dia..”Sakura tertawa. Temannya ini masih bisa bercanda. Disaat seperti ini. Disaat dia masih bingung dengan keputusan yang sudah diambilnya. Hye Ji tertawa renyah saat dengan jahilnya mencoba untuk membuat anak Sakura menangis, pagi itu dihabiskan Eunji dan Sakura jalan-jalan di sekitar mall dekat apartemennya. Hye Ji benar-benar terhibur karena kehadiran Sakura dan malaikat kecil yang sangat manis itu

***

Kyu Hyun menatap ngeri ke atas tumpukan kertas yang berada di atas meja nya. Kertas-kertas itus seperti sebuah soal-soal pelajaran yang sangat sulit dikerjakannya. Bukan sulit sebenarnya, hanya saja karena terlalu banyak. Kyu Hyun jadi sedikit bosan untuk segera mengerjakannya. Huftt, ternyata begini ya rasanya bekerja? Bahkan sampai sore pun, waktu seolah berjalan dengan begitu lambat

“Bagaimana?”Tanya Seunghwan dengan meneguk secangkir kopinya. Menatap seorang lelaki bertopi dihadapannya

“Tuan muda sedang kerepotan mengerjakan pekerjaannya tuan, kurasa ada baiknya jika tuan muda diberikan tugas yang sedikit—“

“Tidak. Aku dengan sengaja memilihkan agar dia mengerjakan laporan-laporan keuangan bulanan, kurasa itu adalah tugas yang sangat cocok untuknya”Seunghwan tersenyum penuh kemenangan. Melihat bagaimana anaknya sendiri bekerja sangat gigih untuk menyelesaikan laoran-laporan bulanan itu. Ya meskipun Kyu Hyun bukan kelulusan Sarjana akuntansi. Tapi Seunghwan sangat tahu, bagaimana Kyu Hyun sangat cerdas dan bisa mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan padanya.

“Awasi dia. Dan laporkan padaku setiap gerak-geriknya”

“Baik tuan”

***

Kyu Hyun berjalan pelan menuju apartemennya. Rasanya cukup melelahkan untuk hari pertamanya bekerja di kantor ayahnya. Beberapa laporan itu bahkan masih belum selesai dikerjakannya. Kyu Hyun memilih untuk segera pulang. Karena tubuhnya yang cukup lengket dan juga perutnya yang mulai berbunyi meminta untuk diisi. Kyu Hyun sangat merindukan seseorang menyambutnya. Pasti saat ini Hye Ji sedang menunggu kepulangannya

Kyu Hyun menghentikan langkahnya saat terlihat seorang gadis yang sepertinya di kenalnya. Gadis itu terlihat seperti Hye Ji. Kenapa dia ada disana, tepatnya di depan apartemennya. Dan seorang lelaki. Siapa lelaki itu? Kyu Hyun merasa tidak mengenalnya, dan tidak mungkin jika Hye Ji berselingkuh, Kyu Hyun sedikit ragu namun memutuskan untuk semakin mendekat

“Hye Ji aku minta maaf”Ucap Myungsoo. Hye Ji masih diam dan seolah bungkam. Dia berdiri menatap tak suka pada lelaki dihadapannya, lelaki itu bisa-bisa nya mengikutinya sampai ke apartemennya. Hye Ji tidak ingin bertemu dengannya. Apa dia tidak tahu kalau Hye Ji sudah mulai membencinya?..

“Hye Ji ku mohon, kembalilah padaku—“Hye Ji masih tidak bergeming

“Aku begitu mencintaimu—“Hye Ji menjerit saat suara pukulan begitu terdengar jelas di telinganya. Kyu Hyun? Bukankah itu Kyu Hyun yang sedang menghajar Myungsoo. Tapi kenapa dia bisa berada disana? Hye Ji tanpa mau berpikir lama-lama, dia segera berusaha memisahkan Kyu Hyun yang mulai brutal memukuli Myungsoo

“Siapa dia?”Ucap Myungsoo yang terlihat beberapa luka di wajahnya. Hye Ji sedikit tidak tega melihat keadaan Myungsoo. Hye Ji melirik sekilas ke arah suaminya, tatapan itu seolah melarangnya untuk melakukan sesuatu selain membantu suaminya. Hye Ji terdiam, memilih untuk membiarkan Kyu Hyun melingkarkan tangannya di pinggangnya.

“Suaminya. Cho Kyu Hyun”Hye Ji menatap lelaki disampingnya. Merasa tidak percaya apa yang dikatakan lelaki itu. Lelaki itu sendiri yang mengenalkan dirinya sebagai suaminya. Hye Ji cukup terkejut karena Kyu Hyun semakin memeluk pinggangnya dengan erat, membuat tubuhnya semakin menempel dengan tubuh Kyu Hyun.

“Aku tidak percaya. Dia pasti bohong kan Hye Ji?, tolong katakan kalau semua ini bohong Hye Ji-ya”

“Brengsek”Kyu Hyun melepaskan pelukan tangannya. Dengan kedua tangannya, lelaki itu berhasil membuat Myungsoo tersungkur dan mendapatkan luka lain di wajahnya, Kyu Hyun tersenyum senang, lelaki seperti dihadapannya perlu diberi pelajaran agar tida terus mengganggu istri orang lain.

“Kau penipu, aku tidak percaya kau suami Hye Ji ku”Myungsoo balas menyerang. Dengan memukul bertubi-tubi Kyu Hyun, tubuh Kyu Hyun berhasil terjungkal ke tanah. Myungsoo berada di atasnya, kedua tangannya dengan asyik saling menyentuh dengan keras ke wajahnya, membuat beberapa luka memar tercetak disana.

“Hentikan, kumohon”Hye Ji tidak tahu lagi dengan cara apa agar mereka berdua berhenti berkelahi. Hye Ji memilih untuk menarik tubuh Myungsoo dari atas tubuh suaminya, dengan sedikit susah, akhirnya Hye Ji berhasil menyingkirkannya. Membantu suaminya untuk berdiri.

“Dia suamiku”Jelas Hye Ji. Hye Ji menggenggam erat tangan Kyu Hyun. Dengan menatap datar pada Myungsoo yang kini terlihat terguling diatas tanah karena ulah Hye Ji. Myungsoo memukulkan sebelah tangannya ke tanah, tidak. Myungsoo masih tidak percaya kalau Hye Ji telah menikah, dan meninggalkannya seperti ini. Myungsoo masih mencintainya, apakah sudah tidak ada lagi nama Myungsoo di hatinya?
“Aku ingin agar kau tidak mengganggu ku lagi”

“Aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang”

“Jangan membuatku untuk semakin membencimu, pergilah..”Myungsoo masih terbaring di tanah. Kata-kata itu seperti sebuah racun untuknya, membuat semua rongga-rongga dadanya terasa sesak, hatinya sakit dan tubuhnya lemas untuk sekedar berdiri. Myungsoo masih belum bisa menerima semua ini. Tapi apakah dia berhak mengganggu kehidupan Hye Ji yang sudah bersuami? Myungsoo memilih untuk memejamkan matanya rapat-rapat, menelpon seseorang yang akan membantunya berdiri dan segera meninggalkan tempat ini. Rasanya seluruh tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk sekedar berdiri

Keduanya berjalan tanpa bersuara sedikitpun. Hye Ji yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakannya tadi. ‘semakin membenci Myungsoo’ tidak, bahkan sampai sekarang, Hye Ji masih memikirkan Myungsoo. Hye Ji terpaksa membohongi lelaki itu agar cepat-cepat meninggalkan kehidupannya

Kyu Hyun menyadari sesuatu yang tidak beres dengan istrinya. Sebenarnya istrinya tidak benar-benar membenci lelaki itu. Malah sebaliknya, Kyu Hyun merasakan jika Hye Ji memiliki perasaan untuk lelaki itu. Hanya saja mungkin Hye Ji sudah menikah, itu sebabnya dia mengatakan itu agar lelaki itu segera menjauhinya. Entah kenapa hati Kyu Hyun seolah membenarkan sikap Hye Ji. Benar apa yang sudah dilakukan Hye JI, dia memang harus berusaha untuk tetap setia pada suaminya

“Aku belum sempat memasak—“

“Kau mau makan apa?, aku akan memesan—“

“Aku tidak lapar”Kyu Hyun berbohong. Sejak tadi perutnya terus berbunyi. Kyu Hyun hanya tidak ingin masakan dari luar, akan lebih baik jika Hye Ji yang memasak untuknya, tapi sepertinya gadis itu terlihat kelelahan. Kyu Hyun tidak akan memaksanya.

`“Aku minta maaf, aku..aku bahkan tidak ingat soal makan malam—“

“Tidak apa-apa, aku akan ganti baju dulu”Ucap Kyu Hyun dingin. Hye Ji merasakan hatinya seolah tertohok. Lelaki itu sepertinya marah padanya, bukannya tidak mau memasak, hanya saja setelah pertemuannya dengan sakura tadi siang. Hye Ji tidak pernah menyangka kalau Myungsoo ternyata mengikutinya sampai ke apartemennya. Dan sampai malam hari dia masih berdiri di depan apartemennya. Untuk itulah, dengan sangat terpaksa Hye Ji turun dari apartemennya dan berniat untuk mengusirnya. Tepat saat itu Kyu Hyun pulang, dan melihat semuanya. Hye Ji menduga kalau lelaki itu telah salah paham padanya, pasti dia marah karena mengira lelaki itu adalah pacaranya, apakah Hye Ji perlu mengatakan yang sebenarnya?

Hye Ji memilih untuk mengikuti lelaki itu ke kamarnya. Hye Ji menunggu dengan was-was diatas ranjang mereka. Mengukir kata-kata apa yang pantas, yang akan digunakannya untuk bertanya apakah Kyu Hyun marah karena Hye Ji menemui lelaki di depan apartemennya? Hye Ji tidak ingin memperburuk suasana hatinya dengan marahnya Kyu Hyun, setidaknya Hye Ji masih bisa berhubungan baik dengan lelaki itu

“Kyu—“Ucap Hye Ji pelan. Hye Ji terlihat berpikir kalimat apa yang akan ia tanyakan, agar lelaki itu mengerti dengan keadaannya saat ini

“Tadi..tadi sebenarnya. Aku menemui lelaki itu di halaman apartemen kita”Hye Ji mengutuk dirinya sendiri. orang bodoh pun tahu kalau tadi Hye Ji menemui Myungsoo. Bukan itu maksudnya, Hye Ji refleks mengucapkannya

“Dia mantanku”Kyu Hyun bersikap tenang. Mengambil baju tidurnya, membuka handuknya dan meletakan secara asal. Kyu Hyun berpakaian dengan cepat dihadapan Hye Ji yang kini memilih untuk menutup kedua tangannya

“Apa kau mendengarku?”Hye Ji membuka matanya. Dan merasa lega, karena lelaki itu sudah selesai memakai pakaiannya.

“Aku hanya berusaha untuk mengusirnya dari apartemen kita”

“Kau masih mencintainya?”Ada nada kesal terdengar disana. Entahlah Kyu Hyun juga bingung kenapa dia bisa sekesal itu. Padahal itu bukan urusannya,

“Aku tidak tahu…”Jawab Hye Ji terbata. Ya Hye Ji juga tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Sekilas Hye Ji begitu membenci Myungsoo tapi dibalik itu semua, Hye Ji juga merindukan Myungsoo.

“Kau masih berhubungan dengannya?”

“Tidak”

“Apa kau berniat kembali dengannya?”

“Tidak”Seulas senyuman tersungging di bibirnya. Baiklah semua itu hanya masa lalu, dan Kyu Hyun tidak perlu mempermasalahkan sebuah masa lalu, tapi tetap saja. Kyu Hyun sangat marah melihat Hye Ji mengobrol dengan lelaki lain. Tapi kenapa? Toh itu bukan urusannya?

“Buatkan aku ramyun”

“Mwo?”

Hye Ji mengambil panci kecil, menuangkan air dan menyalakan api. Hye Ji mulai memotong-motong daun bawang dan sedikit sayuran yang dia punya. Setelah airnya masak, Hye Ji memasukan telur ke dalamnya, memasukan ramyun dengan sayurnya. Beberapa menit kemudia ramyun itu telah matang. Hye Ji menuangkan diatas mangkuk dangan telur ceplok diatasnya.

Hye Ji dengan sedikit kesal. Karena malam-malam disuruh memasak ramyun. Membawa ramyun itu ke kamar mereka, meletakannya di atas nakas ranjang nya. Hye Ji memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa dengan menyelimuti hampir seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Kenapa?”Tanya Hye Ji

“Apanya?”

“Putih telur, apa kau tidak menyukainya?”

“Apa aku boleh memakannya, ah maksudku aku tidak suka melihat makanan sisa”

“Ada begitu banyak orang di luar sana kekurangan makanan”Kyu Hyun tersenyum melihat bagaimana gadis itu benar-benar menghabiskan putih telur yang tersisa dengan sedikit ramyun di mangkuk. Kyu Hyun sengaja menyisakan ramyun nya, sangat tahu kalau gadis itu juga belum makan sama sekali.

“Habis”

“Kenapa kau tidak suka putih telur?”Hye Ji meletakan mangkuk itu kembali ke nakas dekat ranjang Kyu Hyun. Menunggu jawaban lelaki itu dengan duduk di atas sofa nya yang selama ini menjadi kasur nya.

“Karena putih telur menjijikan”

“Aku begitu menyukai hal yang menjijikan itu, dan tidak menyukai kuning telur. Bagaimana ini? Ternyata kita punya kebiasaan makan yang cukup unik ya?”Hye Ji tertawa dengan cukup lebar. Kyu Hyun ikut tertawa. Menyadari keunikan mereka berdua. Hye Ji yang sangat suka putih telur dan cenderung tidak suka yang namanya kuning telur, dan Kyu Hyun sebaliknya. Hei apakah mereka berjodoh? Bukankah akan sangat menyenangkan jika keduanya hidup berdampingan. Mereka begitu saling melengkapi satu sama lain.

“Aku rasa kita adalah jodoh..haha”

“Hye Ji-ssi”

“Kau sudah tidur?”Kyu Hyun tidak mendengar lagi celotehan gadis itu. Apa dia benar-benar sudah tidur? Ah rasanya tidak begitu menyenangkan kalau dia tidur seawal ini. Kyu Hyun menatap punggung itu, Hye Ji memilih untuk tidur menyamping dan memungginya.

“Cho Kyu Hyun—“Mata itu bertemu pandang, saat dengan cepat Hye Ji memutar tubuhnya dan saat itu Hye Ji menatap mata itu yang sedang menatapnya. Ada apa ini? Kenapa rasanya kamar ini terasa begitu panas dari sebelumnya?

“Tidurlah di ranjang, aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam—“

“Aku hanya akan memelukmu…”Ucap Kyu Hyun di dalam hatinya

“Tapi—“Hye Ji terlihat berpikir. Apa yang merasuki lelaki itu sampai dia begitu baik untuk menyuruhnya tidur di ranjang. Hye Ji tanpa mau repot-repot memikirkan alasan kenapa lelaki itu tiba-tiba menjadi baik. Segera menuju ranjang dan berdiri di sisi kanan. Menunggu sampai lelaki itu akan beranjak dari sana

“Bisakah kau mulai menyingkir?”

“Tidurlah”Tenaga nya sudah mulai habis. Selain karena rasa kantuk yang menderanya. Juga karena perkelahian tadi dengan lelaki itu membuat tubuhnya begitu lemas. Kyu Hyun tidak mengerti kenapa gadis itu tidak segera membaringkan tubuhnya di sebelahnya, apa dia menyangka kalau Kyu Hyun menawarinya dengan Kyu Hyun yang harus tidur di sofa itu? Jangan harap, Kyu Hyun hanya ingin berbagi ranjang tanpa mau mengorbankan dirinya untuk pega-pegal besok paginya karena tidur di sofa yang cukup keras itu.

“Ya.. apa yang kau lakukan?”Hye Ji hanya bisa pasrah saat tangan itu menguncinya dengan memeluk pinggangnya erat. Hye Ji tidak bergerak sedikitpun. Kenapa dengan lelaki itu? Kenapa dia bisa menariknya dan memeluknya seperti ini

“Tidurlah. Aku sudah cukup lelah hari ini”Tak ada yang bisa dilakukannya. Selain pasrah dan tertidur dengan canggungnya ketika tangan itu begitu erat memeluk pingangnya. Hye Ji sudah mencoba untuk melepaskannya, namun bukannya terlepas, pelukan itu makin mengerat di pinggangnya.

“Good Night”Kyu Hyun tersenyum di balik punggung itu. Rasanya hangat bisa membawa gadis itu ke pelukannya.

***

“Sudah selesai?”Tanya Kyu Hyun. Hye Ji mengangguk, setelah membawa beberapa buku paket juga buku tulis, tak lupa ada juga bolpoint yang terselip di tas kecilnya, Hye Ji mengikuti Kyu Hyun keluar dari apartemen mereka. Setelah liburan yang cukup panjang untuknya, maka hari ini adalah hari pertamanya kembali ke kampus. Hye Ji jadi tak sabar menunggu pembelajaran dari dosen.

Tanpa mau menunggu sampai suaminya menaiki mobilnya, Hye Ji memilih berjalan kaki sampai ke depan, menunggu bus lewat, kaki nya berhenti melangkah saat terdengar suara mobil berhenti di belakangnya”Kyu”

Hye Ji cukup terkaget karena lelaki itu bukannya pergi malah menghentikan mobilnya.

“Naiklah”

Hye Ji sedikit berpikir, apakah barusan Kyu Hyun memberinya tumpangan? Atau”Sudah sangat siang, cepat naiklah”Ujar lelaki itu, mau tak mau Hye Ji segera membuka pintu mobil itu, dan memilih terduduk di samipng kemudi

“Aku akan pulang sedikit larut”Ucap Kyu Hyun, memecah keheningan diantara mereka berdua

“Kau tidurlah duluan”

“Nde”

“Hye Ji-ssi?”

“Nde?”Hye Ji harus menahan nafasnya karena dengan tiba-tiba lelaki itu mendekatkan tubuhnya dan menncoba memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Betapa terkejutnya Hye Ji saat wajah itu sangat dekat dengannya, bisa dirasakannya kalau nafas lelaki itu terdengar dan terasa olehnya. Sial. Kenapa Hye Ji jadi merasa aneh saat lelaki itu berada di dekatnya. Tenangkan dirimu Hye Ji, tenang.

“Dimana kampusmu?”

“Belok kanan—“Hye Ji terdiam begitu mobil itu telah sampai di halaman kampusnya. Hye Ji mneunggu beberapa saat sampai. Kyu Hyun membuka pintu, berjalan mengitari mobilnya dan membuka pintu untuk Hye Ji. Hye Ji sedikit canggung, tapi akhirnya dia keluar dari sana dengan Kyu Hyun yang masih berdiri memegangi handle pintu mobilnya. Lelaki itu kenapa dia tiba-tiba bersikap manis seperti ini?

“Terimakasih, aku pergi dulu..”Kyu Hyun masih di samping mobilnya. Menatap tubuh istrinya yang kian lama kian menghilang dari jarak pandangannya. Ada apa dengannya hari ini? Apa yang dikatakan Hyuk Jae benar, kalau dia mulai menyukai gadis itu? Bahkan Kyu Hyun bersikap manis padanya tadi. Apakah dia memiliki perasaan?

Kyu Hyun tak mau ambil pusing, daripada lama-lama berdiri disana dengan berbagai pemikiran yang membuatnya semakin stres. Kyu Hyun membelokan mobilnya dan mulai menjalankannyam, membelah jalan raya, menuju ke kantor ayahnya

“Sunbae”Hye Ji tersenyum ramah. Orang pertama yang dilihatnya hari ini adalah Changmin. Tanpa menunggu lama Hye Ji segera berlari dan menuju ke arah Changmin berada

“Oh.. Hye Ji”Changmin menutup bukunya dan menatap Hye Ji dengan senang. Semenjak insiden osepk, lebih tepatnya setelah Hye Ji di suruh untuk menemukan jarum di tumpukan jerami, dan Changmin yang menolongnya. Hye Ji dan Changmin menjadi semakin dekat, dan Changmin selalu memberinya informasi mengenai kampus, dan Hye Ji sangat nyaman dengan Changmin, lelaki itu selalu baik.

“Kalau tak salah dengar, aku tadi mendengarmu memanggilku sunbae?”Hye Ji tersenyum dan mengangguk. Tidak ada salahnya memanggil seseorang yang lebih tua dengan sebutan sunbae, lagipula sudah seharusnya Hye Ji memanggil seniornya dengan Sunbae

“Apa kau keberatan?”Tanya Hye Ji

“Tidak. Aku hanya merasa lebih tua dengan sebutan itu..haha”Hye Ji ikut tertawa mendengarnya

“Sudah sedikit lama, kenapa kau absen di malam ospek?”Hye Ji meringis. Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya, kalau hari itu Hye Ji malah berbulan madu bersama suaminya, dan karena nama seseorang yang berpengaruh, membuat Hye Ji dibebaskan dari ospek kampusnya.

“Oh Sunbae, aku harus melihat kelasku dulu..dah”Hye Ji sedikit berlari, menembus beberapa orang yang ada di sekitar. Hye Ji mencari-cari namanya di kaca-kaca kelas. Begitu sulit ternyata menemukan namanya dari beberapa kelas yang ada.

“Aw.. sakit”Keluh gadi itu, tanpa sengaja Hye Ji malah menginjak kaki wanita yang berada di sampingnya

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja—“Hye Ji menyesali perbuatannya yang sangat ceroboh. Hye Ji membungkukan tubuhnya, meminta maaf dengan setulus hatinya

“Ah aku akan membantumu”gadis itu menyambut baik uluran tangan Hye Ji. Hye Ji membawa gadis itu untuk terduduk di bangku yang dekat disana. Dia benar-benar merasa amat bersalah, karena sepertinya gadis itu kesakitan karenanya.

“Song Hena”Hye Ji menyambut uluran tangan itu dengan senang, akhirnya di hari pertama efektif belajar Hye Ji menemukan seorang teman, akhirnya Hye Ji bisa juga menemukan teman yang akan menemaninya dan menjadikan hari-hari sepi nya menjadi lebih berwarna.

“Han Hye Ji—“

“Aku akan menjadi temanmu”Hye Ji mengangguk. Rasanya tidak bisa diungkapkan. Ada juga seseorang yang bahkan dengan senang hati mau menjadi temannya.

“Terimakasih, dan maaf aku benar-benar tidak sengaja—“

“Tidak apa-apa”Hena tersenyum ke arahnya. Hye Ji membalas senyuman itu. Mulai dari ini Hye Ji akan lebih bersemangat untuk datang ke kampusnya setiap hari. Kini satu temannya telah bertambah, selain Changmin tentunya. Kini Hena telah resmi menjadi temannya.

“Lihat, kita ternyata sekelas”Hena menunjukan sebuah nama-nama mahasiswa yang akan menghuni kelas tak jauh dari tempat mereka berada. Hye Ji tersenyum senang, Hena pasti akan menjadi salah satu temannya yang baik, tidak apa-apa memulai dengan 1 teman, seiring berjalannya waktu, Hye Ji akan menemukan teman-teman lainnya.

***

Kyu Hyun terlihat canggung diantara kerumunan orang-orang yang sedang berpesta itu. Tanpa banyak bicara, Kyu Hyun hanya makan beberapa sajian pesta itu dna memilih diam saat orang-orang mengajaknya minum. Ya hari ini ada berita yang sangat membahagiakan, perusahaan ayahnya menang tender besar, dan bisa dibilang pesta ini juga diadakan oleh manager yang bersangkutan untuk merayakan kemenangan mereka.

“Ayo Kyu Hyun-ssi “Kyu Hyun menggeleng, saat teman sekantornya menuangkan minuman ke gelasnya, dan menyuruhnya untuk minum. Tidak, Kyu Hyun sudah berjanji untuk hidup sehat, dan alhokol adalah salah satu yang Kyu Hyun coba hindari akhir-akhir ini, alkohol selalu membuatnya mabuk, dan Hye Ji tidak menyukainya. Untuk beberapa alasan, Kyu Hyun menyetujui saat Hye Ji melarangnya, karena dengan minuman itu malah akan membuatnya semakin meiliki hidup yang tak sehat.

“Kau mau bernyanyi?”Kyu Hyun menggeleng. Mengabaikan beberapa teman kantornya yang mengajaknya untuk maju dan bernyanyi di depan. Kyu Hyun tidak berminat untuk menjadi tontonan semua orang, dia lebih memilih untuk diam di tempatnya, dengan pikirannya yang sedang melayang saat ini

“Kau mau kemana?”Tanya seseorang, Kyu Hyun terlihat tersenyum dan membungkukan tubuhnya

“Aku pulang duluan, istriku sudah menungguku…”Hanya sebuah alasan untuknya bisa pulang lebih awal. Kyu Hyun merasa tidak nyaman saat di pesta itu, rasanya hanya dia satu-satu nya orang yang terlihat kalem disana. Beberapa orang lebih memilih untuk bersenang-senang tadi, sedangkan Kyu Hyun. Dia tidak berminat, untuk itulah dia memilih untuk segera pulang dengan alasan istrinya yang sedang menunggunya

“Apa dia sudah pulang?”

Kyu Hyun memilih untuk menaiki mobilnya, ingin segera sampai apartemennya, dan berharap akan seseorang yang akan menyambutnya di depan pintu. Ah rasanya menyenangkan memiliki istri, ternyata tidak seburuk itu, bahkan Kyu Hyun tidak perlu repot-repot memilih pakaiannya karena Hye Ji setiap hari sudah memilihkannya, soal makanan, istrinya akan dengan senang hati memasakannya setiap hari makanan yang lezat, dan—

Dan Kyu Hyun begitu bangga memiliki istri seperti Hye Ji. Dia adalah istri yang bisa diandalkan, istri yang selalu mengerti akan suaminya. Dan tungu, tunggu. Kenapa Kyu Hyun jadi memujinya habis-habisan? Hey.. apakah Kyu Hyun mulai menyukainya, tanpa dia sadari, entahlah. Lelaki itu lebih memilih untuk memutar lagu romantis, dan dia ikut bernyanyi seiring lagu itu yang mulai terdengar.

Tanpa mau menunggu lama untuk segera sampai ke apartemennya. Kyu Hyun menyuruh kurir untuk memarkirkan mobilnya di garasi, Kyu Hyun segera menuju lifht dan memasuki lifht itu, sebelah tangannya memencet angka 14, dengan harap-harap cemas Kyu Hyun menunggu sampai pintu lifht terbuka lebar dan menampakan pintu apartemennya.

Pintu lifht terbuka dan menampakan seseorang yang akan masuk ke dalam lifht itu. Kyu Hyun terlihat diam saat seorang gadis mulai berdiri di sebelahnya. Ada yang aneh, sepertinya Kyu Hyun mengenali gadis itu, tapi siapa? Dilihat sekilas wajah gadis itu memang sepertinya mirip seseorang. Tapi siapa? Kyu Hyun melirik sekilas dan tiba-tiba light berhenti di lantai 14. Kyu Hyun melangkahkan kakinya keluar dari lifht itu, menoleh sekilas ke arah gadis yang masih berada di lifht itu, sampai dengan pelan lifht itu tertutup kembali, Kyu Hyun memilih untuk meneruskan langkahnya dan menuju ke apartemennya.

“kau sudah pulang?”Hye Ji dengan cekatan membawa tas kecil suaminya. Hye Ji menggiring suaminya memasuki apartemen.

“Mandi?”Tawar Hye Ji. Kebetulan Hye Ji sudah membereskan apartemen mereka dan menyiapkan beberapa makanan. Karena tadi temannya kebetulan mengunjungi apartemennya.

“Air hangat”Hye Ji mengangguk. Bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat seperti pesanan suamianya. Hye Ji keluar dan menyuruh suaminya untuk segera membersihkan tubuhnya, Hye Ji menaruh masakan-masakan yang sudah di masakanya tadi ke atas meja makan, tak lupa dengan pencuci mulut dan juga susu hangat yang sudah disiapkannya. Sambil menunggu suaminya, Hye Ji memilih untuk menyalakan tv dan melihat drama favoritnya.

Kyu Hyun menatap sekilas beberapa makanan yang tersaji di atas meja itu. Ada capcay, kimchi dan juga sup ayam ginseng, di tambah dengan 2 gelas susu dan beberapa buah yang telah siap untuk di makan. gadis itu masih sempat untuk menyiapkan segala kebutuhannya di tengah sibuknya perkuliahannya.

Tanpa mau menuggu lama, Kyu Hyun dengan pelan akhirnya terduduk tepat di depan istrinya, tak mau menimbulkan suara, Kyu Hyun memilih untuk mengambil piringnya sendiri dan menuangkan nasi nya beserta lauk pauknya.

“Biar aku saja—“Hye Ji mematikan tv dan segera terfokus dengan suaminya. Hye Ji mulai mengambilkan nasi dan menyodorkan lauk-pauk ke hadapan suaminya, bagi Hye Ji tidak ada yang diprioritaskan selain suaminya,. Kyu Hyun memilih untuk segera menyantap masakan istrinya, terasa sangat pas dan begitu nikmat dilidah, tak perlu mengatakannya, masakan Hye Ji selalu membuatnya nafsu makan, dan seolah menginginkannya lagi dan lagi.

“Kyu, aku minta maaf—“Ucap Hye Ji pelan. Hye Ji tidak berani untuk menatap suaminya secara langsung, ada sedikit rasa sesal dihatinya, kesalahan kecil dilakukannya siang tadi dan Hye Ji merasa bersalah karenanya.

“Aku..aku tadi membawa temanku ke apartemen ini”Lanjutnya. Kyu Hyun memilih untuk menaruh sendok dan garpuhnya, menatap istrinya dengan tajam. Siapa? Siapa yang Hye Ji bawa ke apartemen mereka. Setahu Kyu Hyun, Hye Ji tidak pernah membicarakan temannya, tapi kenapa dia bilang membawa temannya ke apartemen hari ini?

“Siapa dia?”Tanya Kyu Hyun. Kyu Hyun diam dan memperhatikan gerak-gerik gadis itu

“Apa dia laki-laki?”Kyu Hyun menautkan sebelah alisnya, menunggu reaksi Hye Ji. Apa Hye Ji membawa laki-laki ke apartemen mereka.

“Tidak. Dia perempuan”Kyu Hyun sedikit lega mendengarnya. Tapi meskipun begitu, Kyu Hyun tidak ingin sembarangan orang bisa leluasa memasuki apartemennya begitu saja. Tanpa seijin darinya Hye Ji tidak boleh membiarkan siapapun masuk ke apartemennya.

“Song Hena. Teman baru ku”Hye Ji terlihat bangga memperkenalkan temannya pada suaminya. Setidaknya Hye Ji mempunyai teman sekelas, dan mulai besok Hye Ji tidak akan kesepian lagi. Hari-harinya akan diisi dengan ceritanya bersama Hena

“Song Hena..?”Kyu Hyun sepertinya sedikit tidak asing mendengar nama itu. Sepertinya nama itu pernah di dengarnya dan sedikit familiar. Tapi siapa? Dan kapan Kyu Hyun pernah mendengar nama itu. Tanpa mau memikirkan siapa itu Song Hena. Kyu Hyun memilih untuk melanjutkan makannya, sampai titik dimana semua makanan itu bersih tak tersisa di piringnya. Hye Ji tertawa lebar dan merasa berbangga hati, semua masakannya telah habis. Kyu Hyun ternyata benar-benar menyukai masakannya

“Waktunya minum susu—“Hye Ji menyodorkan segelas susu coklat hangat itu pada suaminya, sedikit enggan. Kyu Hyun menerimanya, dan meminumnya perlahan. Tidak cukup buruk, rasanya manis dan Kyu Hyun juga tidak masalah jika setiap hari harus meminum susu.

“Ayo kita tidur, sudah malam”Hye Ji membereskan piring-piring kotor itu ke wastefel, setelah semua wadah kotor itu berada di wastefel, Hye Ji memilih untuk membresihkannya dulu. Sebelum beranjak ke kamar mereka, rasanya Hye Ji tidak bisa mengabaikan piring-piring kotor itu tanpa mencucinya, Hye Ji bernafas legas setelah semua piring-piring itu nampak bersih dan berjajar di rak nya.

Hye Ji menyusul Kyu Hyun ke kamar mereka. Setelah Hye Ji selesai menggosok gigi dan membasuh wajahnya. Hye Ji telah siap tidur dengan memakai piyama bermotif beruang besar kesukaannya. Hye Ji membersihkan sofa tempatnya tidur dan membaringkan tubuhnya tepat di atasnya.

“Hei.. apa yang kau lakukan?”Hye Ji begitu terkejut karena lelaki itu tiba-tiba menggendongnya, dan tanpa bicara membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ada apa? Kenapa sikap Kyu Hyun seolah berubah? Ada apa dengan jantungnya. Sebelah tangannya menyentuh dadanya, tepat dimana jantungnya berada. Matanya bertemu pandang dengan mata itu, sengatan-sengatan itu dirasakannya, seluruh tubuhnya seolah-olah panas karena tatapan mematikan itu. Kyu Hyun kau..?

“Tidurlah—“Kyu Hyun melepas kontak mata itu, memilih untuk membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Tak mau lama-lama berdebat dengan pikiran dan hatinya, Kyu Hyun memilih untuk mengambil selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Aku bisa tidur di sofa itu—“Ucapannya terhenti tatkala dirasakannya sebuah benda dingin yang menempel tepat di punggungnya. Kyu Hyun? Hye Ji tidak bisa bernafas dengan baik, saat tangan itu mulai melingkarkan tangannya di pinggangnya. Kenapa ini? Kenapa dia menjadi berubah padanya?

“Diam atau aku akan—“

“Kyu”Hye Ji merasa sedikit geli karena hembusana nafas itu terasa menggelitik tengkuknya, dengan sedikit kekuatan Hye Ji berhasil menyingkirkan tangan itu yang melingkar di perutnya

“Aku bisa tidur di sof—“

Kyu Hyun menempelkan bibirnya tepat di bibir Hye Ji. Hye Ji terkejut dan refleks memejamkan matanya, jantungnya berdetak dengan cepat, nafasnya terdengar putus-putus. Sungguh Hye Ji tidak bisa membayangkan kalau untuk kedua kalinya mereka berciuman.

“Masih mau tidur di sofa?”Hye Ji menggeleng. Lebih memilih untuk memejamkan matanya, lelaki itu benar-benar tak bisa diperkirakan. Dengan tiba-tiba menggendongnya, membawanya keranjangnya dan mengancam dengan sebuah ciuman kilat. Yang Hye Ji rasakan, manis? Manis. Rasanya bahkan masih terasa. Ya, Hye Ji bisa gila memikirkan beberapa menit yang lalu, bahkan Hye Ji belum sempat membalasnya, tapi Kyu Hyun sudah melepaskannya

“Apa yang kau pikirkan Han Hye Ji”

“Hye Ji-ssi?”Hye Ji mencoba untuk meredam rasa malu nya. Pipinya masih bersemu merah, dengan pelan Hye Ji memutar tubuhnya dan menatap suaminya

“Bisakah kita memulainya?”

“Huh…?”

“Aku merasa kalau ada baiknya kita menjadi suami istri”Kyu Hyun meringis, sepertinya bukan itu yang ingin ia sampaikan, Kyu Hyun terlalu gugup. Membuatnya kehabisan kata dan mengucap kata yang tak pernah ia susun sebelumnya. Sungguh, niat Kyu Hyun sebenarnya. Malam ini, Kyu Hyun ingin membuat malam yang romantis dan berniat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan, tapi dengan ucapannya tadi. Membuatnya gagal, isi hatinya bahkan Kyu Hyun sudah menyusun kata-kata gombalannya untuk Hye Ji.

“Aku hanya ingin menjadi anak baik, dengan menuruti semua perintah ayahku—“Dengan sebelah tangannya, Kyu Hyun menggaruk belakang kepalanya. Hye Ji hanya diam dan terlihat berpikir untuk beberapa saat, jadi Kyu Hyun hanya menuruti perintah ayahnya? Ah, Hye Ji sedikit kecewa. Tapi ada baiknya, jika kyu Hyun mulai menuruti apa yang ayahnya inginkan

“Baiklah, tidak ada salahnya—“Jujur, Kyu Hyun kurang puas mendengar jawaban itu. Hatinya mendesah kecewa karena Hye Ji hanya mengatakan itu. Tapi Kyu Hyun menerimanya, setidaknya ini adalah lampu hijau untuknya, bisa memiliki istrinya sebagai seorang suami pada umumnya, Kyu Hyun akan membuktikan pada Hye Ji, kalau Kyu Hyun adalah sosok suami yang bisa diandalkan

“Sudah malam”Ucap Hye Ji. Kyu Hyun masih sedikit tak rela gadis itu akan memejamkan kedua matanya, rasanya masih banyak yang ia bicarakan. Terutama tentang tender yang telah dimenangkan tim nya.

“Sebenarnya aku ingin mengatakannya, tapi sepertinya kau sudah mengantuk—“Hye Ji mengangguk. Kyu Hyun mendesah kecewa. Malam ini benar-benar kacau, tidak sesuai harapannya

“Sedikit saja. Aku ingin membagi kebahagiaan dengan istriku..”Hye Ji hanya mengangguk-ngangguk tanpa tahu apa yang dibicarakan suaminya. Matanya sudah cukup lelah dan Hye Ji sangat butuh istirahat malam ini, tapi sepertinya Kyu Hyun benar-benar ingin mengatakan sesuatu itu.

“kami menang tender, dan aku bahagia malam ini—“Hye Ji hanya menyimaknya sedikit, Hye Ji sedikit tidak fokus, memaksakan matanya yang mulai tertutup, Hye Ji hanya tersenyum dan dengan cepat memeluk tubuh suaminya. Menyampaikan Hye Ji juga turut bahagia mendengar suaminya menang tender.

“Aku ingin meminta sesuatu—“

“Katakanlah”Ucap Hye Ji setengah memejamkan kedua matanya

“Kencan. Aku ingin berkencan denganmu”Hye Ji membelalakan matanya. Kyu Hyun meminta nya untuk berkencan? OMG, bahkan di mimpi pun Hye Ji tidak pernah berpikir untuk berkencan dengan suaminya. Melihat dari wajahnya, lelaki itu sangat penuh pengharapan padanya. Akhirnya karena Hye Ji ingin membahagiakan suamianya yang sudah memenangi tender. Hye Ji menganggukan kepalanya.

 

 

 

Like A Star 2B

 

Gadis itu terlihat termenung, terduduk di atas ranjangnya, menatap pemandangan dibalik jendela besar kamarnya. Ingatannya masih berputar ke kejadian beberapa jam yang lalu, saat dengan lancanganya dia mencium suaminya sendiri. saat dengan tiba-tiba suaminya juga malah membalas ciumannya.

Gila!!

Bahkan tidak pernah sedikitpun hal senekat itu bisa dilakukannya. Tapi tadi benar-benar refleks, semata-mata Hye Ji melakukannya hanya—

Hanya ingin membuat lelaki itu  yakin, sementara hanya itu yang bisa Hye Ji katakan, Hye Ji tidak tahu perasaan macam apa yang ia miliki sebenarnya, dirinya sendiri pun masih bingung, yang jelas keinginan Hye Ji begitu kuat untuk bisa merubah semua kebiasaan buruk lelaki itu.

Proses, semua akan berjalan dengan perlahan-lahan dan membutuhkan waktu. Hye Ji mempercayai itu, Hye Ji sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga Seunghwan, kalau dia akan bisa merubah dan membawa kembali Kyu Hyun yang dulu. Kyu Hyun yang memiliki hati yang hangat dan bersikap ramah.

Flasback

“Aku sudah mendengarnya dari orang kepercayaanku, kalau kau—“Hye Ji terlihat gusar, jadi lelaki itu sudah tahu kalau Hye Ji berniat menjual tubuhnya untuk dimilikinya, dan betapa Hye Ji cukup menyesal akan keputusannya, lelaki itu terlihat seperti seorang ayah untuknya, ya bagaimana kalau lelaki itu ternyata malah menerima tawarannya dan menikahinya.

“Tuan, aku..aku”

“Aku akan menikahkanmu dengan putraku, ku rasa kau akan cocok dengannya”Deg, jantungnya seakan berdetak begitu cepat. Putranya? Apa Hye Ji tidak benar-benar akan menikah dengan lelaki di depannya, syukurlah. Tapi Hye Ji akan dinikahkan dengan putranya.

“Aku akan memberikan separuh kekayaanku untukmu, dan soal biaya hidup sekaligus kuliah, aku akan menangggungnya—“Hye Ji tidak tahu harus berekspresi seperti apa, dia sangat malu, harga dirinya begitu murah, bahkan jika saja lelaki itu mau menikahinya, namun sepertinya lelaki itu cukup baik. Hye Ji cukup bersyukur, setidaknya Hye Ji tidak perlu bekerja terlalu keras. Air matanya tanpa terasa menetes, hatinya cukup perih menerima kenyataan kalau hidupnya begitu menyedihkan.

Hye Ji menatap dirinya di pantulan cermin itu, berpikir apa benar dia bisa membuat Kyu Hyun menjadi Kyu Hyun yang diinginkan Cho Seunghwan? apa Hye Ji benar-benar bisa merubahnya? Hye Ji merasa kalau dirinya begitu matre, dengan jaminan sekolah dan juga biaya kehidupannya di tanggung oleh tuan Cho dan juga Hye Ji harus bisa setidaknya membuat lelaki itu jatuh cinta padanya, dan Hye Ji hanya harus menaklukan Cho Kyu Hyun.

“Aku benar-benar sudah gila—“

“Aku tidak mengerti tapi kenapa seolah-olah aku menginginkannya”Hye Ji masih menatap pantulan dirinya di cermin itu. Bisa gila kalau dia lama-lama seperti ini, Hye Ji memutuskan untuk mengambil handuknya dan memilih untuk berada di dalam kamar mandi selama beberapa menit, rasanya berendam akan membuatnya segar, entah itu pikiran maupun hatinya.

***

“Kau sudah gila? Maksudku kau memilih untuk mabuk hanya karena istrimu telah menciumu… haha, hey lihatlah apakah ini Kyu Hyun kami yang cassanova itu?”Hyuk Jae tertawa, menggoda Kyu Hyun yang saat ini memilih untuk menenggak habis alkohol yang ada di depannya, sepuluh botol minuman itu telah habis oleh lelaki yang saat ini terlihat kebingungan, entahlah. yang jelas Hyuk Jae merasa Kyu Hyun begitu lucu saat ini—

“Kau tidak pernah tahu apa yang ku alami—“Keluh Kyu Hyun. Dia sangat frustasi, tak tahu apa yang dirasakan hatinya sendiri, saat bibir itu menempel begitu erat, dan beberapa detik berikutnya Kyu Hyun membalas ciuman itu sampai beberapa menit mereka terlihat bergumul dan menikmatinya tapi—

“Aku..aku tidak tahu apa yang kurasakan, aku sedikit bingung”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa saat nanti kami bertemu”

“Cinta, Aku mengira kau telah jatuh cinta padanya”Ucapan enteng Hyuk Jae membuat Kyu Hyun terlonjak kaget. Benarkah itu? Benarkah jika Kyu Hyun mulai mempunyai perasaan untuk gadis itu? Tapi apa mungkin, bahkan Hye Ji tidak sedikit pun menyerupai tipe wanita yang diinginkannya.

“Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya—“

“Hei itu kan menurutmu, tanyakan pada hatimu apa yang sebenarnya kau rasakan”

“Hei cantik”

“Kyu maaf karena harus meninggalkanmu”Kyu Hyun hanya mengangguk saat Hyuk Jae tengah membawa seorang wanita di gendongannya. Lelaki itu telah menaiki tangga dan menuju ke ruangan yang sudah disiapkan club ini. Senyum tersungging di bibirnya, benar-benar. Lelaki itu sama sekali tidak berubah, cassanova dan persis seperti Kyu Hyun yan dulu.

Kyu Hyun yang dulu? Bukankah beberapa hari kemarin dia baru saja mengunjungi club ini dan bersama Stela, lupakan. Saat itu Kyu Hyun hanya sedang membutuhkan sedikit ‘hiburan’dan Kyu Hyun bersumpah, tidak akan pernah terjadi lagi. Hari itu adalah hari terakhir untuknya melakukan perbuatan itu, entahlah apa yang di rasakannya, yang jelas saat ini Kyu Hyun hanya merasa tidak tertarik dengan wanita-wanita penggoda itu. Ada apa ini? Apakah karena ciuman itu? Atau—

“Kyu?”Stela menangkap sekilas seseorang tengah membelakanginya dengan meneguk minuman yang di yakininya adalah minuman keras. Lelaki itu tampaknya sangat menikmati minuman itu, Stela menahan nafasnya dengan masih menatap lelaki itu yang tidak sedikit pun berusaha melihatnya.

“Ayo sayang—“Sebelah tangannya mengelap air mata yang keluar dari kedua matanya, tangan itu membawanya dan memaksanya untuk melihat ke depan, tanpa melihat seorang lelaki yang dia cintai, kenapa rasanya sakit sekali? Saat laki-laki itu bahkan sepertinya tidak merindukannya

“Tunggu, aku ingin—“

“Ayolah, aku tidah tahan lagi sayang”Stela harus menahan hatinya yang sangat ingin segera berlari dan memeluk tubuh itu, rasa rindu ini begitu menyiksanya, Kyu Hyun. Apakah dia merasakan hal yang sama seperti Stela?

“Ayo”Akhirnya Stela membiarkan lelaki itu menggandengnya mesra, membawanya menaiki tangga dan menuju kamar nya. Hatinya menangis, batinnya menjerit. Stela tidak ingin melakukannya tapi bagaimanapun inilah profesi nya, hanya ini yang bisa Stela lakukan untuk menyambung kehidupannya. Seberapapun Stela mengingkari pekerjaan kotornya, tetap pekerjaan ini yang selama ini membuat hidupnya berkecukupan.

***

Cho Kyu Hyun memandang kamar bernomor 312 itu. Masih ragu antara memegang handle pintu, membukanya dan masuk ke dalam kamar itu. Di dalam sana pasti Hye Ji berada, dan rasanya Kyu Hyun belum bisa melihat dan berhadapan dengan gadis itu, kejadian beberapa jam yang lalu masih teringat jelas dikepalanya.

“Masuk…..tidak….masuk..tidak—“Hatinya seolah-olah meragu, membuatnya bingung kemudian Kyu Hyun memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sisi kamarnya, sebelah tangannya mengurut kepalanya. Rasanya sedikit pusing untuknya. Kenapa dia bisa semalu itu? Itulah pertanyaannya, dan kenapa Kyu Hyun seolah enggan bertemu dengan gadis itu? Dan bukankah mereka sudah menikah?

Kyu Hyun memilih untuk melangkahkan kaki nya ke dalam sana. Berjalan sedikit pelan saat menuju ranjangnya, Kyu Hyun merasa lega karena sepertinya gadis itu sedang terlelap di ranjangnya, dan kabar baiknya kyu Hyun tidak perlu bertatapan wajah dengannya. Syukurlah. Kyu Hyun sangat senang

“Kau.. pulang—“Kyu Hyun mengangguk, hatinya berdebar saat senyum gadis itu terlihat tersungging di bibirnya. Ada apa dengan hatinya? Kenapa hanya dengan melihat senyum itu membuatnya salah tingkah, ayolah Kyu Hyun kenapa dia jadi seperti ini?

“Kau mabuk?”Hye Ji sudah berada di hadapannya. Nafasnya terdengar begitu jelas di wajahnya, gadis itu berada dekat dengannya, Kyu Hyun hanya diam saat tangan gadis itu berada di keningnya

“Abojji tadi telpon—“

“Dan…”Hye Ji tak mampu mengatakan kalimat selanjutnya, rasanya sedikit aneh karena lelaki itu terus saja menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Panas, bahkan lelaki itu sedikit demam. Haruskan Hye Ji mengatakan apa yang Seunghwa bicarakan padanya tadi—

“Cucu… Abojji meminta seorang cucu..haha”Wajahnya sudah bersemu merah. Sedikit malu karena harus mengatakannya, Kyu Hyun masih menatapnya, mengunci dengan tatapannya, membuat Hye Ji tak berkutik, perlahan senyuman itu tergantikan dengan raut wajahnya yang menegang. Menunggu sampai dimana lelaki itu akan melepaskannya.

“Ayo..”Hye Ji terlihat sedikit terkejut karena kedua tangannya sudah di cengkram suamianya. Dengan kekuatan yang tersisa di tubuhnya, Hye Ji mencoba menahannya dan perlahan melepaskan cengkraman itu

“Bukankah kau bilang tadi Abojji meminta cucu, jadi ayo lakukan—“

“Kau gila? Aku tidak sedang bercanda Cho Kyu Hyun”

“Kau pikir aku bercanda?!”Hye Ji menatapnya tak percaya, walau pelan saat lelaki itu mengatakannya tapi ucapan itu begitu terdengar di telinganya.

“Kyu, Aku tidak yakin tapi apakah kau mulai menyukaiku?”Tanya Hye Ji sedikit pelan. Rasanya dia tidak bisa membedakan apakah Kyu Hyun benar-benar sudah menyukainya atau belum. Lelaki itu masih saja berekspresi sama padanya, dingin. Namun ada hal yang berbeda, Hye Ji seolah merasakannya. Perlahan lelaki itu mulai sedikit baik padanya—

“Atau kau sedang mengujiku?”

“Aku tidak tahu, tapi kenapa hatiku seolah menghangat setiap mata itu menatapku dan bibir itu begitu manis saat tersenyum, mungkinkah?—“

“Aku tahu kau mabuk Kyu”

“Sebaiknya kau istirahat, aku akan membuatkanmu sesuatu”Hye Ji memilih untuk meninggalkan lelaki itu sendirian di kamarnya. Rasanya tidak nyaman kalau harus berlama-lama dengan Kyu Hyun, ucapannya sedikit melontar dan Hye Ji, dengan jelas dia mendengar kalau lelaki itu mengajaknya untuk membuat cucu untuk Seunghwan.

Sungguh tak terbayangkan, dan pasti karena lelaki itu mabuk. Makanya dia sedikit ngaco. Hye Ji memilih untuk berjalan keluar meninggalkan kamar mereka. Memesan sesuatu pada petugas hotel, rasanya Hye Ji cukup puas karena akhirnya bisa keluar tanpa bantuan lelaki itu. Sambil menunggu pesanannya datang, Hye Ji memilih untuk duduk di kursi lobi hotel itu.

“Hye Ji-ssi”Hye Ji cukup kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Hye Ji menggigit jari-jari tangannya saat dihadapannya berdiri seorang lelaki yang begitu di kenalnya. Kim Myungsoo.

“Kau disini?”Tanya Myungsoo dengan senyumnya. Sebelah tangannya terbuka lebar, untuk beberapa saat Hye Ji hanya terdiam dengan tatapan mata nya yang kosong, entahlah. Dia sedikit ragu untuk bersikap seperti apa pada lelaki dihadapannya. Kim Myungsoo adalah mantannya dan bahkan setahun yang lalu keduanya berniat untuk serius dan melangkah ke jenjang pernikahan.

“Aku sedang honeymoon dengan suamiku…”Hye Ji seolah menegaskan keberadaannya di jezu ini. Myungsoo tersenyum dan kembali menarik sebelah tangannya yang terulur, sepertinya Hye Ji sedang mencoba memberitahunya kalau dia sekarang suah dimiliki oleh orang lain.

“Kau menikah? Aku sedikit terkejut, tapi Selamat Han Hye Ji—“

“Semoga pernikahan kalian langgeng”Sedikit tak rela mengucapkannya. Hye Ji tersenyum canggung di depannya. Myungsoo terlihat tidak tahu lagi apa yang dikatakannya. Rasanya sedikit kecewa mendengar Hye Ji sudah menikah, tapi bagaimanapun Myungsoo tidak boleh egois, setidaknya biarkan gadis di depannya bahagia walaupun bukan dengan dirinya.

“Kau disini?..”Tanya Hye Ji. Myungsoo mengangguk

“Aku sedang ada perjalanan bisnis. Bisakah kita duduk sambil menyesap kopi?”Hye Ji terlihat menimbang-nimbang saat lelaki itu mengajakanya mengobrol. Hye Ji menduga kalau bukan hanya obrolan ringan yang akan mereka perbincangkan tapi sebuah obrolan yang akan merujuk ke arah permusuhan. Tentunya Hye Ji tidak akan begitu saja melupakan kalau dulu Myungsoo tiba-tiba saja lari darinya. Hye Ji hanya ingin tahu apa alasannya, dan sekarang bahkan Hye Ji masih ingin tahu. Tapi—Hye Ji tidak bisa melakukannya. Suaminya, Hye Ji tidak ingin menghianati suaminya.

“Aku harus ke kamarku, suamiku sedang menungguku—“

“Maaf”Hanya itu yang bia Hye Ji katakan. Myungsoo sedikit kecewa karena Hye Ji menolak ajakannya, bagaimana pun Hye Ji sudah menikah, dan Myungsoo tidak bisa memaksakan kehendaknya

“Baiklah, tapi Hye Ji—“Ucapnya mengantung

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan, besok siang di lobi ini”Hye Ji meninggalkannya tanpa sedikit pun memberikan jawabannya. Myungsoo harus menelan kekecewaannya, melihat gadis yang begitu rindukan selama ini berjalan bahkan tanpa menoleh sedikitpun padanya. Apakah semenyedihkan ini untuk dirinya? meminta kembali waktu untuk berhenti di saat satu tahun yang lalu, saat kebersamaannya dengan Han Hye Ji. Myungsoo menyunggikan senyumnya, dan memilih untuk mendudukan dirinya di tempat bekas Hye Ji tadi duduk. Bahkan jika gadis itu sudah bersuami pun, Myungsoo tidak berani untuk tak berhenti mencintainya walaupun untuk beberapa saat saja.. hatinya masih dimiliki gadis itu, dan rasanya hanya Hye Ji yang mampu membuatnya bahagia.

Perlahan kaki itu terlihat melangkah ke depan kamarnya. Hye Ji masih berdiri disana dengan wajahnya yang nampak sangat kebingungan. Hye Ji tidak tahu apa yang akan dilakukannya, dengan jelas tadi Hye Ji mendengar kalau Myungsoo memintanya untuk bertemu dan membicarakan sesuatu padanya. Hye Ji tidak bisa menenangkan dirinya walau sebentar, nyata nya seseorang di masa lalu nya begitu saja muncul dihadapannya.

Dengan lancangnya orang itu tiba-tiba menyapanya, tiba-tiba tersenyum padanya dan tiba-tiba seperti mengingatkan akan luka lama yang masih terasa begitu nyata di hatinya. Hye Ji masih ingat dengan jelas, saat dimana ia berusaha memperjuangkan cintanya, namun lelaki itu malah memilih meninggalkannya tanpa satu patah katapun dari mulutnya. Pantaskah Hye Ji memberikannya kesempatan untuk Myungsoo?ah tidak, bahkan Hye Ji tidak berani untuk menatapnya tadi, Hye Ji masih sakit hati dengan segala tingkah laku lelaki itu padanya.

Pertemuan. Bisakah mereka kembali bertemu tanpa ada ucapan apapun. Sungguh Hye Ji tidak ingin untuk sekedar melihat wajah itu, wajah yang beberapa bulan ini coba untuk dilupakannya.

Hye Ji memilih untuk membuang nafasnya kasar, memencet password dan suara pintu kamar itu terbuka. Hye Ji segera menuju dapur, mengambil piring dan menata makanan itu. Merapihkannya di atas meja kecil yang ada di dalam kamar mereka. Ngomong-ngomong Hye Ji belum melihat dimana suaminya?

Terdengar suara shower dari dalam kamar mandi. Hye Ji hanya mengangguk dan duduk dihadapan makanan itu, menunggu sampai suaminya benar-benar keluar dan menikmati makanan itu bersamanya.

“Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu, jadi aku membelikan jangjjamyun”Kyu Hyun tanpa banyak bicara segera mengambil baju nya dan memakainya dengan cepat. Hye Ji memejamkan matanya saat tanpa malu lelaki itu membuka handuknya dan memakai pakaiannya. Sedikit gugup, karena Hye Ji belum pernah berada di kamar ini saat suaminya sudah selesai mandi seperti ini, kalau tahu akan seperti ini, mungkin Hye Ji akan berlama-lama di luar, sampai lelaki itu benar-benar selesai dengan membersihkan tubuhnya.

“Aku sudah selesai, kau bisa membuka matamu..”Hye Ji sedikit gugup. Suaminya sudah selesai, terduduk di depannya. Sungguh aroma sampo bercampur sabun yang menguar dari tubuhnya, di tambah dengan  wangi Cologne yang segar menggelitik hidungnya. Kyu Hyun begitu wangi dan terlihat tampan dengan kaos sederhana nya. Tanpa sadar Hye Ji tersenyum, menatap suaminya yang begitu tampan dimatanya,

“Aku menyukainya, jangjjamyun adalah makanan kesukaanku”Kyu Hyun mengambil semangkuk jangjjamyun hitam, dengan cepat tangannya sudah berhasil membuka kemasan jangjjamyun, merobek bumbunya dan menuangkannya di mangkuknya. Tanpa sadar sekali lagi senyum itu tersungging di bibirnya, Hye Ji senang karena suaminya menyukai makanan yang dia beli. Rasanya tidak sia-sia sedikit lama menunggu petugas hotel memberikan pesanannya. Lelaki itu begitu menyukai jangjjamyun dan hal itu akan diingatnya mulai dari sekarang.

“Kyu—“

“Hm”

“Sampai kapan kita disini?”Kyu Hyun menghentikan suapannya. Menatap Hye Ji sekilas dan dia sendiri pun bingung. Sampai kapan mereka akan berada disini, di pulai Jezu. Ini sudah hari ketiga dimana Kyu Hyun dan Hye Ji tinggal, dan sama sekali Kyu Hyun tidak tahu kapan rencananya untuk kembali ke Seoul. Rasanya masih sedikit nyaman untuknya tinggal di Jezu, selain karena pemandangannya yang sangat bagus, juga Kyu Hyun tidak harus bertemu dengan ayahnya disini.

“Aku sudah sangat ingin ke kampus, mereka bilang akan  dimulai untuk pembelajaran”Hye Ji sedikit kecewa saat salah satu temannya mengatakan kalau pembelajaran tahun angkatannya akan segera dimulai. Jujur saja Hye Ji sedikit tidak senang karena Kyu Hyun memilih untuk honeymoon di jezu, meninggalkan begitu saja kampusnya saat semua teman-temannya sedang di ospek, dan kalau bukan karena Seunghwan meminta langsung pada dekan kampusnya. Sudah pasti Hye Ji akan dikeluarkan karena tidak mengikuti ospek.

“Ku mohon Kyu, aku sangat ingin kuliah di kampus itu”Mata itu, mata itu mengatakan kalau dia bersungguh-sungguh. Kyu Hyun tidak tega melihatnya, bagaimana pun sepertinya Hye Ji begitu menginginkannya. Tanpa disadarinya kepalanya mengangguk

“Besok. Kita pulang besok”Hye Ji tersenyum senang. Menyimpan sumpit yang dipegangnya dan berhambur ke pelukan suaminya dengan cepat.

“Ah maaf, aku hanya senang”Hye Ji cukup gugup. Dengan cepat Hye Ji menegakan tubuhnya dan melepas pelukan itu. Rasanya sangat senang karena dia bisa segera ke kampusnya dan belajar disana. Hye Ji tidak sabar untuk menantikan segudang tugas yang akan menantinya nanti.

***

Tanpa terasa sebuah lirik lagu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Dengan senang Hye Ji menyanyikan lagu kesukaannya.

Saranghae Sunday Monday tto Sunday Monday everyday

Haru tto haru maeil mannado bujokhae

Iroeke Sunday Monday eonjena neowa everyday

Shigani da memchum deushi anajulle

A-pink-Sunday Monday

Bibirnya membentuk sebuah garis lengkungan yang sangat indah. Sedikit fals tapi rasanya bahagia bisa mendengar gadis itu bernanyi. Tak biasanya, tapi Kyu Hyun tahu kalau Hye Ji sedang bahagia.

Kyu Hyun memilih untuk membereskan barangnya sendiri tanpa mau mengganggu Hye Ji yang sedang asyik bernyanyi. Beberapa baju dan keperluan lainnya sudah dimasukannya ke dalam koper. Kyu Hyun hanya akan sedikit beristirahat menunggu beberapa jam lagi untuk ke bandara dan meakhiri honeymoon nya bersama Hye Ji.

“Astaga. Kenapa mengagetkanku”Hye Ji menatap ponselnya yang sejak tadi bergetar terus menerus. Sebuah nomor yang tak dikenalnya tertera disana. Hye Ji mengecek panggilan yang tak terjawab, sekitar 5 kali dan ada dua buah pesan disana. Hye Ji membukannya dan betapa kagetnya karena semua itu ternyata Myungsoo yang melakukannya. Hye Ji begitu kaget karena dia mengatakan akan menunggu sampai Hye Ji mau menemuinya di tempat yang sudah di janjikannya kemarin, sial. Bahkan Hye Ji melupakan kalau Myungsoo kemarin sudah bilang kalau dia akan menunggunya di lobi hotel ini

Dengan kecepatannya larinya. Beberapa menit saja Hye Ji sudah berada di lobi itu. Meninggalkan koper dan juga suaminya yang nampak tertidur. Urusannya harus segera selesai, Hye Ji harus menyelesaikan urusannya dengan Myungsoo hari ini. Matanya menatap ke sekililing, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan lelaki itu. Sebenarnya dimana dia? Apakah dia sedang mempermainkannya? Atau malah dengan sengaja membuat Hye Ji untuk menunggu—

“Aku menunggumu sejak tadi Hye ji-ya”Hye Ji mengepalkan kedua tangannya saat terdengar suara Myungsoo. Hye Ji harus mempercepatnya, karena selain pesawatnya akan lepas landas beberapa jam lagi. Hye Ji juga ingin agar lelaki itu tidak terus menghantui hidupnya, Hye Ji ingin agar Myungsoo cepat meninggalkannya

“Kau mau?”Tawarnya. dengan menyodorkan segelas kopi ke arahnya, Hye Ji menggeleng, membuat Myungsoo tersenyum. Sebegitukah Hye Ji menginginkan agar Myungsoo cepat-cepat meninggalkannya?

Moccachino. Apa kau tidak mau? Ini adalah kopi kesukaanmu”Hye Ji tetap menggeleng

“Mulai sekarang, aku tidak akan menyukainya—“

“Myungsoo-ssi bisakah kita langsung saja”Myungsoo menyesap kedua gelas kopi itu bergantian. Awalnya karena Myungsoo sedikit kesal menunggu Hye Ji yang tak kunjung datang, maka dia memilih untuk memesan kopi rasa moccachino kesukaan Hye Ji. Tapi sepertinya gadis itu benar-benar telah membencinya. Bahkan dia tidak mau untuk meminumnya.

“Aku akan beri waktu beberapa menit saja”

“Apa yang ingin kau katakan”

“Hye Ji-ya…”

“Aku akan kembali ke kamarku, suami—“Tubuhnya menegang saat dengan tiba-tiba lelaki itu membawa ke pelukannya. Hye Ji berusaha berontak, namun Myungsoo bukannya melepaskannya, malah semakin menekan tubuhnya, memeluknya erat.

“Apa yang kau lakukan? Aku—“

“Beberapa menit saja. Ku mohon, aku merindukanmu Hye Ji”

“Brengsek, Aku membencimu—“Kedua tangannya mencoba memukul-mukul kecil pundak yang sedang memeluknya erat, air matanya keluar dari kedua matanya. Hatinya sakit, luka itu kembali terbuka dan semakin lebar saat laki-laki itu seolah sedang mengejarnya kembali. Bisakah dia menghilang saja dari kehidupan Hye Ji? walau begitu tak dipungkiri ada setitik bagian dari tubuhnya yang sangat merindukan Myungsoo.

“Kau meninggalkanku, dan AKU BEGITU MEMBENCIMU!!!!!”Tangisnya pecah, tubuhnya seakan melemas begitu saja. Tubuh Hye Ji tanpa sadar merosot dan Myungsoo semakin mengetatkan pelukannya, membawa perlahan ke kursi di lobi itu. Hye Ji masih belum bisa mengontrol emosinya sekarang, dia masih cukup sakit hati untuk melupakan segalanya yang terjadi dihidupnya selama ini.

“Maaf—“Sepenggal kalimat yang hanya bisa ucapkan saat ini. Myungsoo tidak tahu lagi harus mengatakan apa, yang jelas dia benar-benar minta maaf dari lubuk hatinya, dulu, dia begitu brengsek telah meninggalkan gadis sebaik Hye Ji tanpa ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya. Myungsoo ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu, dan karena itu selama beberapa bulan ini Myungsoo mencoba untuk mencari tahu keberadaan Hye Ji. Dan betapa kagetnya saat di Jezu, dengan matanya sendiri Hye Ji terlihat baik-baik saja dan gadis itu juga bahagia. Myungsoo senang melihatnya seperti itu, tapi. Myungsoo amat sangat menyayangkan jika gadis itu ternyata sudah memiliki suami.

“Aku akan menjelaskan semuanya”

“Hye Ji, sebenarnya aku—“

“Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu”Hye Ji mencoba menguatkan hatinya, berdiri dan melangkahkan kaki nya

“Dengar, aku mohon. Aku tidak ingin menyesal yang kedua kalinya Hye Ji-ya“

“Aku…aku sebenarnya—“Myungsoo sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Hye Ji. Haruskah ia katakan segalanya? Tentang alasan kepergiannya? Haruskah? Myungsoo tidak ada cara lain lagi untuk membuat Hye Ji tidak lagi membencinya. Sejujurnya juga Myungsoo melakukannya buka atas kemauannya sendiri. seandainya kalau Hye Ji tahu apa yang terjadi di hari itu.

“Perusahaan ayahku bangkrut..”Hye Ji membelalakan matanya tak percaya. Bangkrut? Jadi keluarga Myungsoo jatuh miskin? Selama ini? Apakah Myungsoo menganggap Hye Ji adalah gadis matrealistis yang hanya akan memikirkan uang saja. Meninggalkan pacarnya yang sedang kesusahan? Apakah selama ini Myungsoo beranggapan seperti itu, Myungsoo benar-benar tidak mengenal Hye Ji dengan baik.

“Hari itu aku pergi ke amerika, aku tidak mau, tapi ibu ku yang menyuruhku untuk kesana, Hye Ji—“Air mata itu sudah meluncur bebas dari kedua matanya, jatuh membasahi kedua pipinya. Myungsoo sangat tahu kalau Hye Ji begitu sakit mendengar tentang kenyataan yang sebenarnya terjadi. Tapi beginilah, kalau dulu Myungsoo memang meragukan kalau Hye Ji akan tetap disampingnya, sedangkan keluarganya jatuh miskin.

Sebuah tamparan itu melayang begitu saja. Mendarat di pipi kirinya, tangannya menyentuh pipi yang barusan Hye Ji tampar, memang sangat pantas bagi Myungsoo mendapatkan tamparan itu, dia adalah pengecut yang bahkan menganggap Hye Ji sama dengan gadis lainnya, yang tergiur oleh harta.

“Kau mengatakan, kalau kau sengaja menghindariku karena keluargamu jatuh miskin? Apa kau menganggapku seperti kebanyakan para gadis lainnya?”

“Yang hanya menginginkan hartamu? Apa kau MENGANGGAPKKKU WANITA SEPERTI ITU?.—“Myungsoo Menggeleng. Myungsoo telah salah menilai Hye Ji sebagai gadis mata duitan. Dan baru hari ini Myungsoo menyesal karena dulu telah berprasangka buruk tapi, Myungsoo juga punya rencana lain di balik kepergiannya ke amerika. Hye Ji perlu mengetahuinya, meskipun sudah terlambat, tapi setidaknya Myungsoo harus mengatakannya

“Aku minta maaf, aku telah meragukanmu dulu”

“Hye Ji. Sebenarnya sepulang dari amerika beberapa bulan lalu, aku berniat untuk bertemu denganmu dan aku akan melamar—“

“Jangan katakan kumohon, aku sudah bahagia sekarang”Hye Ji mencoba untuk bersikap lapang. Walau sebenarnya hatinya sedikit tersentuh. Namun bila melihat kebelakang, saat dimana lelaki itu meninggalkannya tanpa sebab, Hye adalah pihak yang paling menderita disini, bahkan dia berhari-hari mengurung diri di kamarnya dan hatinya sangat sakit karena orang yang begitu dicintainya meninggalkannya tanpa perkataan apapun.

“Hye Ji—“

“Aku memaafkanmu, dan kumohon pergilah dari kehidupanku, karena aku sudah memiliki kehidupan lain bersama—“

“Aku mencintaimu”Hye Ji seketika membatu. Saat kata-kata itu keluar dan terdengar seperti sebuah syair yang sangat indah, mengalun di telinganya, bernyanyi dan masuk ke relung hatinya. Sungguh, bila beberapa bulan yang lalu Hye Ji mendengarnya. Maka Hye Ji akan sangat senang dan langsung menghambur ke pelukan lelaki itu. Tapi sekarang, rasanya kata ‘aku mencintaimu’ bukanlah sesuatu yang sangat special untuknya.

Hye Ji sepenuhnya telah melupakan lelaki itu, walau masih ada sedikit namanya di hatinya, tapi Hye Ji tidak akan memilih untuk kembali padanya. Sudah cukup untuknya selama ini menunggu seseorang yang bahkan tak kunjung datang, sudah cukup untuknya selama ini menunggu orang itu akan kembali padanya. Nyatanya Hye Ji hanya manusia biasa yang tak bisa menggantungkan kehidupannya pada orang yang sama sekali seolah tidak membutuhkannya. Untuk apa orang macam itu, yang pergi meninggalkannya tanpa sebab, dan kembali ketika kehidupannya mulai membaik. Hye Ji sudah menemukan seseorang yang akan membahagiakannya suatu saat, Suaminya, Cho Kyu Hyun.

“Maaf, karena harus mengatakan ini”

“Jika dulu aku begitu mencitaimu, maka saat ini—“Hye Ji melepaskan pelukan itu, menatap lelaki yang berada dihadapannya. Sorot matanya masih sama, masih mencintainya seperti dulu, tapi maaf, Hye Ji tidak akan goyah. Hye Ji akan tetap berpegang teguh pada pendiriannya.

“Kau masih tetap mencintaiku Hye Ji-ya”

“Lebih tepatnya pernah mencintaimu. Oppa aku akan selalu mengingatmu, berbahagialah…”Dengan kekuatan penuhnya, Hye Ji segera berlari dengan kencang dari lobi itu. Tak dihiraukannya beberapa orang yang menatapnya. Hye Ji tidak bisa membendung segala penderitaan yang coba di pendamnya selama ini. Air mata itu kembali menumpahi bajunya, Hye Ji terisak disana, hatinya sakit mengatakan itu tadi. Sebenarnya Hye Ji juga tidak tega untuk melakukannya. Tapi mungkin inilah yang terbaik untuk mereka, kalau nyatanya Myungsoo dan Hye Ji tidak ditakdirkan untuk bersama.

Flasback

“Selamat ulang tahun oppa”Hye Ji memberikan sebuah kue ulang tahun yang sengaja di masaknya sendiri. dengan senyuman dan kebahagiaan melihat bagaimana kekasihnya menua malam ini. Hye Ji sudah menyiapkan segalanya, kejutan dan pesta kecil untuk kekasihnya. Akhirnya Hye Ji berhasil, membuat Myungsoo tersenyum senang akan hadiah yang diberikannya.

“Make a wish please…”Myungsoo terlihat memejamkan kedua matanya. Hye Ji tersenyum dan berharap dalam hatinya agar kekasihnya selalu diberikan yang terbaik dalam hidupnya. Terutama hubungan mereka yang terjalin baru beberapa bulan saja. Semoga hubungan mereka tetap langgeng sampai nantinya naik ke pelaminan.

“Sekarang potong kue nya, aku menantikan suapan pertamamu….”Myungsoo mengangguk. Mengambil pisau kecil dan segera memotong kue tart itu. Hye Ji melebarkan mulutnya saat suapan kecil itu akan memasuki bibirnya.

“Hye Ji—“

“Mari kita akhiri semuanya—“Hye Ji tercekat, menatap tak percaya apa yang dikatakan kekasihnya. Akhiri semuanya? Setelah mereka berdua melewati berbagai rintangan, dan terlebih baru saja Hye Ji merayakan ulang tahunnya. Sebegitu gampangkah untuk mengatakan akhiri semuanya. Untuk beberapa saat Hye Ji memilih untuk diam, menundukan kepalanya tanpa mau menatap lelaki itu.

“Aku hanya bercanda. Hye Ji coba lihat disana”Hye Ji menegakan pandangannya, mengelap air matanya yang mulai turun, menatap tangan itu yang menunjuk ke atas sana, beberapa menit kemudian terlihat sebuah tulisan ‘Saranghae’ Hye Ji tidak bisa mengatakan apapun, ini adalah kejutan besar menurutnya, yang tak bisa dilupakan seumur hidupnya. Hye Ji tidak menyangka kalau Myungsoo ternyata hanya bercanda mengajaknya putus, dana beberapa menit kemudian ada sebuah tulisan cantik di atas sana ‘Saranghae’

“Kau berjanji kan?”

“Kau tidak akan pernah meninggalkanku oppa?”Myungsoo mengangguk. Hye Ji tersenyum, memilih untuk memeluk tubuh kekasihnya. Malam ini adalah malam yang tidak akan dilupakannya. Myungsoo adalah lelaki satu-satunya yang ia miliki. Lelaki satu-satunya yang sangat ia cintai. Sampai kapanpun Hye Ji tidak akan sanggup untuk kehilangannya.

Kenangan manis itu masih tergambar di benaknya. Dulu Hye Ji begitu senang dengan semua kejutan yang Myungsoo berikan padanya, Hye Ji meneteskan kembali air matanya saat dia ingat, ternyata itulah kenangan manis mereka yang terakhir sebelum Myungsoo pergi meninggalkannya tanpa kabar apapun.

Beberapa minggu setelah pesta ulang tahun kekasihnya. Hye Ji harus gelisah, karena lelaki itu sama sekali tidak pernah menghubunginya maupun mengiriminya pesan. Hye Ji harus menahan rasa rindunya selama berhari-hari bahkan sampai setengah bulan. Hye Ji merasa menjadi gadis hars sedikit menahan gengsi untuk tidak mengabari duluan, namun ini sudah setengah bulan. Hye Ji memilih untuk ke rumahnya. Memastika jika lelaki itu hidup baik selama ini

“Maaf nona, beberapa hari yang lalu tuan telah berangkan ke amerika…”Ucap salah satu pelayan di rumah Myungsoo. Hye Ji sedikit kaget, pantas saja selama ini dia merasakan sedikit aneh, andai saja Hye Ji datang lebih awal, pasti Hye Ji masih bisa melihatnya, anda saja Hye Ji datang lebih awal, pasti Hye Ji akan senang, setidaknya ia bisa memastikan bagaimana kabar lelaki itu. ‘Seandainya’ adalah kata yang diucap ketika telah melakukan yang di kira salah, jadi untuk apa. Hye Ji hanya bisa berdiri di pagar depan rumah Myungsoo, menatap kosong ke dalam rumah itu dari sana

“Bahkan aku tidak bisa melihatmu selama setengah bulan ini…”Selama beberapa menit Hye Ji masih berdiri disana. Dengan linangan air matanya. Hye Ji tidak bisa bertemu bahkan untuk beberapa menit saja dengan kekasihnya, Hye Ji hanya ingin menanyakan apakah dia baik-baik saja? Apakah dia merindukannya? Karena sesungguhnya Hye Ji begitu merindukannya. Hye Ji terduduk lemah di bawah guyuran huja yang baru datang beberapa menit yang lalu, matanya menatap ke atas, ke langit yang sepertinya mulai berwarna hitam itu, di dalam hatinya Hye Ji menyebut dengan pilu, nama kekasihnya, Myungsoo. Dia begitu merindukannya. Sampai-sampai Hye Ji seolah tidak bisa bernafas dengan benar, oksigen nya telah pergi, dan tak tahu kapan dia akan menemuinya kembali. Lelaki itu bahkan tidak pernah mengiriminya pesan.

Apa ini yang namanya patah hati? Apakah selalu cinta pertama yang membuatmu kesakitan dan tak bisa melupakannya? Apakah itu kesan untuk cinta pertama? Hye Ji bahkan tidak tahu lagi untuk keberapa kali ia mengeluarkan air matanya. Hye Ji terduduk di taman belakang hotel itu, rasanya hidupnya kembali kacau, Hye Ji bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang ini.

“Aku mencarimu kemana-mana—“Hye Ji buru-buru mengelap air matanya. Menegakan tubuhnya, tersenyum canggung pada orang di hadapannya

“Aku tadi… menemui temanku”Hye Ji berbohong

“Sebaiknya kita harus cepat berangkat kalau tidak mau tertinggal pesawat”Hye Ji hampir melupakan kalau sore ini dia dan Kyu Hyun akan terbang ke Seoul. Untung saja Kyu Hyun mencarinya, kalau tidak, Hye Ji sudah pasti akan di jezu beberapa hari lagi.

***

“Aku akan membuatkan makan malam, kau duduk saja di meja makan”Hye Ji mulai mengambil bahan-bahan masakan yang akan di buatnya. Sedikit menyadari perubahan sikap istrinya, sedikit dingin dan juga tidak fokus, Kyu Hyun memilih untuk memperhatikan istrinya dari belakang, lebih tepatnya Kyu Hyun berdiri di belakang tubuh gadis itu

“Astaga, kau membuatku kaget—“Ucap Hye Ji yang akan mengambil teflon. Kyu Hyun masih berdiri di belakang tubuhnya tanpa suara. Sebenarnya mau apa lelalki itu?

“Aku akan membantumu”Hye Ji hampir saja membuang teflon itu saking terkejutnya. Apa membantu? Jangan bilang kalau Kyu Hyun akan membantunya untuk membuat dapurnya hancur berantakan, Hye Ji terkesiap saat tangan lelaki itu mulai mengambil alhi pekerjaannya. Membawa teflon dan menaruhnya di atas kompor yang sudah di nyalakannya

“Sekarang?”

“Sekarang?”Ulang Hye Ji. Apanya yang sekarang, Hye Ji sedikit bingung

“Maksudku, apa yang harus kulakukan sekarang?—“Hye Ji tersenyum mencemooh. Ternyata dia benar-benar lelaki yang siap membantunya untuk menghancurkan dapur dan masakannya. Bahkan lelaki itu tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika teflon yang sudah diletakan di atas kompor yang menyala. Hye Ji mengambil botol minyak goreng, kemudian melumuri teflon itu dengan minyak goreng.

“Biar aku yang memasak”Kyu Hyun mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan gadis itu. Kyu Hyun hanya memperkeruh keadaan tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Kyu Hyun harus terkagum-kagum saat gadis itu mulai memasak sayuran dan beberapa daging yang sudah dia bersihkan sebelumnya. Bau wangi masakan itu tercium sampai dimana Kyu Hyun berada. Sedap, Hye Ji sangat pandai memasak. Tanpa disadarinya, Kyu Hyun mulai terbiasa dengan semua masakan Hye Ji.

“Nasi goreng daging, dan sayuran”piring berisikan masakan Hye Ji telah dilihatnya tepat di depannya. Tanpa mau menunggu lama, Kyu Hyun segera memindahkannya, tepat di dekatnya. Kyu Hyun mengambil sendok dan juga garpuh. Melahapnya dengan cepat, Hye Ji hanya tersenyum melihat bagaimana suaminya begitu menikmati masakannya. Hye Ji bersyukur karena selama ini Kyu Hyun tak pernah komplain semua yang di masaknya, dan selalu memakan habis setiap masakannya.

“Kuliah..?”Tanya Kyu Hyun masih dengan melahap masakan istrinya

“Tidak. Sepertinya salah informasi, ku dengar kampus masih libur untuk 2 hari ke depan..”Hye Ji sedikit tidak enak saat membicarakannya. Terutama soal honeymoon itu. Kalau Hye Ji tahu akan begini jadinya, maka Hye Ji tidak akan minta untuk pulang ke korea dengan cepat, tapi mungkin Hye Ji harus melihat sedikit lama wajah Myungsoo di Jezu. Hye Ji sedikit melamun, sendok dan garpuhnya di letakan tepat di atas piring itu.

“Aku benar-benar tidak tahu soal itu—“Hye Ji benar-benar menyesal. Ya karena rencana honeymoon itu sekitar seminggu, dan karena permintaannya dia dan Kyu Hyun harus pulang saat memasuki hari ke empat. Benar-benar sial, bahkan Hye Ji belum mengilingi pulau jezu. Apa boleh buat, semuanya sudah terjadi, dan Hye Ji hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.

“Aku minta maaf”Ucap Hye Ji

“Lupakan, aku bahkan tidak mengingatnya”Balas Kyu Hyun dingin dengan masih menikmati masakannya. Hye Ji terlihat merasa bersalah, walaupun lelaki itu tidak mengatakannya secara langsung. Tapi jelas kalau Kyu Hyun masih ingin berlama-lama di pulai Jezu

“Besok…adalah hari pertamaku di kantor”Hye Ji menatap tak percaya. Apa maksudnya? Apa Kyu Hyun mengatakan akan pergi bekerja di perusahaan ayahnya. Apakah Hye Ji tidak salah dengar, jika lelaki itu benar-benar akan bekerja disana? Oh ini adalah kabar yang membahagiakan.

“Kau terlihat begitu senang?”Ucapan itu sedikit sinis. Hye Ji mengangguk, tak bisa dipungkiri kalau Hye Ji sangat senang karena Kyu Hyun sudah mau bekerja disana.

“Terimakasih”

“Aku sangat senang mendengarnya”senyum itu sangat tulus, kyu Hyun bisa melihatnya dengan jelas, kalau Hye Ji benar-benar tersenyum tulus padanya. Kyu Hyun tidak tahu kenapa dengannya? Dia hanya berpikir semalaman. Bagaimana kalau dia mencoba untuk sedikit mengalah, dan bekerja di kantor appa nya. Tidak buruk juga, ini adalah pengalaman baginya yang pasti akan berguna suatu saat nanti, dan melihat bagaiman reaksi dari istrinya membuat bibirnya tertarik dan membuat sebuah garis melengkung. Kyu Hyun tersenyum begitu Hye Ji tersenyum padanya. Hatinya menghangat dan jantungnya berdetak dengan cukup keras. Apakah ini?

 

 

 

 

Beautiful With You Chapter 2

 

“Sial. Kalian harus mencarinya…!!!”Tegas orang itu dengan kedua tangannya terkepal, menahan amarah yang rasanya akan meledak dari seluruh tubuhnya saat ini, sialan nona muda itu telah lari dari pengawasannya, dan pria itu lengah menjaganya. terdengar helaan nafas yang cukup mengerikan disana, orang-orang berjas hitam itu, memilih untuk menaiki mobilnya, mencari ke segala penjuru di Seoul, menemukan gadis bernama Ching Lang

“Temukan dia, apapun caranya…!!”Ucap salah seorang pria berjas hitam itu. Seluruh anak buahnya mengangguk, memilih untuk berpencar dan memulai pencarian mereka di seluruh kota.

***

Kedua tangannya bergerak, sedikit tak nyaman dalam tidurnya, perlahan kedua matanya terbuka perlahan, merasa sedikit silau dengan sebuah cahaya mentari yang terlihat masuk melalui celah-celah ventilasi di dalam flatnya, dengan masih sedikit pusing, gadis itu memilih untuk duduk, menegakan tubuhnya, walau masih mengantuk, namun gadis itu mengingatnya, kalau hari ini dia harus cepat bangun dan segera mandi, mengganti bajunya dengan seragam sekolah.

“Rasanya seluruh tubuhku pegal”Gumamnya pelan, merentangkan kedua tangannya, memilih untuk berjalan pelan masuk ke kamarnya, Hye Ji mengambil sebuah handuk dan juga beberapa peralatan mandinya,

“Huh benar-benar segar”Ucapnya. dengan sedikit tersenyum, ya, pagi ini akan terasa lebih bermakna hanya dengan sebuah senyuman, Hye Ji berjalan melewati ruang tamu, melewati seorang pria yang kini masih tertidur pulas di kursinya, kedua bahunya menghendik acuh, memilih untuk mengabaikannya, masuk dengan segera ke kamarnya, Hye Ji harus secepatnya mengganti bajunya jika tidak ingin terlambat hari ini.

Halte bus. gadis itu memasuki bus yang kini terlihat berhenti di depannya, setelah memastikan kalau semuanya telah siap, Hye Ji melangkah masuk, memilih sebuah tempat yang selalu menjadi favoritnya di bus, sebuah tempat di pojokan sana.

Pandangannya tak lepas sedikit pun dari seorang gadis yang kini terlihat kebingungan di depannya, ya, Hye Ji memang suka sekali ikut campur, memperhatikan orang-orang disekitarnya, akan bertanya jika ada sesuatu yang janggal menurutnya, entahlah. Hye Ji memang suka sekali mencampuri urusan orang lain, dan baginya itu adalah salah satu kelebihan yang dia punya.

“Kau tidak apa-apa?”Tanya Hye Ji. Menatap seorang gadis yang kini terlihat kebingungan di depannya, gadis itu nampak tersenyum samar, sedikit pelan menggelengkan kepalanya, tidak. dia hanya merasa sedikit pusing saat ini, dan sepertinya memang, untuk pertama kali dalam hidupnya, gadis itu menaiki sebuah bus umum. ya, mungkin sejenis mabuk darat.

“Minumlah eonni, itu adalah minuman hangat yang akan sedikit meredakan pusingmu”Hye Ji menyodorkan sebuah bungkusan kecil kepadanya, gadis itu sedikit malu namun akhirnya memilih menerimanya, dengan cepat meminum nya dan benar, sedikit tubuhnya terasa baikan, pusingnya seakan mulai menghilang, gadis itu tersenyum menatap Hye Ji

“Terimakasih, kau siapa?”Hye Ji balas tersenyum padanya, mengambil jeda untuk bernafas dan membalas ucapan gadis yang lebih tua dihadapannya

“Han Hye Ji, eonni sepertinya bukan orang korea ya?”Gadis itu mengangguk, membenarkan apa yang Hye Ji katakan, ternyata masih ada yang mengenalinya, senyum itu mengembang dari bibirnya, matanya menerawang ke depan.

“Ching Lang, China…”Ucapnya dengan masih tersenyum, menatap ke depan. Hye Ji bisa merasakan kalau gadis itu sedang bersedih, seperti memikirkan sesuatu, terlihat sebuah penyesalan terpancar dari sorot matanya. ya, Hye Ji mengetahuinya, bagaimana pun dia adalah seorang gadis juga. Sedikit tahu, Hye Ji bisa merasakannya. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang yang dicintainya. ah.. siapapun orang itu, sepertinya Ching Lang adalah gadis baik, Hye Ji bisa merasakannya.

“Eonni sangat cantik”Ucap Hye Ji masih dengan tersenyum lembut padanya

“Kau juga, matamu besar”

“Ya..hahaha semua orang mengatakan itu”

“Benarkah?”

“Hum”

“Lain kali kita pasti bertemu lagi, dan Hye Ji aku sangat berterimakasih padamu”Ching Lang memilih berdiri, berjalan sedikit lebih maju menuju pintu keluar bus itu, kedua tangannya melambai ke belakang, tersenyum pada seorang gadis yang dianggapnya sebagai teman, ya, Hye Ji. gadis itu sangat baik dan telah membantunya hari ini, Ching Lang tidak akan melupakannya, suatu saat Ching Lang pasti akan bertemu dengannya kembali. Ya, Ching Lang mempunyai firasat kalau mereka akan bertemu kembali, sepertinya bukan ide yang buruk

“Semoga harimu menyenangkan”Untuk terakhir kalinya Hye ji tersenyum, membalas lambaian tangan itu, menatap kepergian gadis cantik itu dari jendela bus nya. Hye Ji menatap lurus ke depan setelah kepergiannya. Kenapa rasanya Hye Ji bisa seakrab itu dengan gadis yang baru ditemuinya? Rasanya sedikit aneh, mengingat bagaimana sikap Hye Ji, Hye Ji memilih untuk sedikit memejamkan kedua matanya, tidak mau ambil pusing dengan pemikirinnya sendiri akan lebih baik baginya untuk tertidur sebelum menuju ke sekolahnya, ya. Hye Ji masih belum puas akan tidurnya.

***

Hye Ji berjalan pelan di koridor sekolahnya, kedua matanya melirik ke jam digital yang dipakainya, terdengar hembusan nafas pelan, Hye Ji sedikit memberenggut tatkala menatap waktu yang terlalu pagi untuknya 06.30. ya, ini terlalu pagi dan tentu saja Hye Ji menjadi satu-satunya murid yang datang lebih awal, sial, bahkan dia tidak sadar kalau dia berangkat sedikit pagi dari rumahnya.

Hye Ji memilih untuk terduduk di salah satu bangku di koridor itu, kedua tangannya mengetuk-ngetuk disana. menatap datar ke hadapannya, sama sekali belum terlihat siapapun disana, ya, kecuali dirinya sendiri. sialan… kenapa dia begitu ceroboh, mengabaikan jam tangannya dan memilih untuk acuh memasuki bus itu. Pantas saja bus itu terlihat tak penuh, pasti gara-gara Hye Ji bangun lebih awal, ya.. harus diakui ada keuntungan lebih saat Hye Ji kepagian seperti ini, namun dia juga tak terlalu menyukainya, karena bagaimana pun bukan gaya nya untuk menjadi salah satu murid terajin di sekolah ini

“Hye Ji?”Hye Ji tersenyum canggung menatap guru kang yang semakin berjalan ke hadapannya, kedua matanya melirik, mencari celah untuknya bisa meloloskan diri dari seorang guru terkejam dan tersadis menurutnya, namu tidak guru Kang sepertinya tidak membiarkannya untuk lolos, menatapnya dengan seringaian tajam dan terus berjalan ke arahnya

“Lari lima puluh kali di lapangan”

“Nde?”Hye Ji meneguk ludahnya, mungkinkah guru Kang mengingatnya, saat kemarin Hye Ji melarikan diri dari hukumannya? ah sial, kenapa pagi-pagi sekali Hye Ji harus berhadapan dengannya, bahkan Hye Ji masih merasakan betapa seluruh tubuhnya pegal karena berlari di lapangan itu, dan pagi ini, guru Kang menyuruhnya kembali lari disana. ah, kenapa pagi ini terasa menyebalkan untuknya

“Cepat, atau kau mau ku tambah menjadi seratus kali?”Hye Ji menggelengkan kepalanya, memilih dengan sekuat tenaga pergi dari sana, berlari dengan kekuatan penuh untuk segera mencapai lapangan. ah, benar-benar tak terduga, guru Kang sepertinya memang tak lupa, buktinya pagi ini Hye Ji masih di suruhnya berlari di lapangan, pasti gara-gara kemarin Hye Ji kabur dari hukumannya. ya.., sialan…

“Sialan”Teriaknya di lapangan itu dengan masih berlari dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, keringat terlihat bercucuran dari seluruh tubuhnya, nafasnya pendek-pendek dan kakinya begitu lemas, Hye Ji tak sedikit pun berniat berhenti sebelum benar-benar menyelesaikan hukumannya, tidak lagi, ya. Hye Ji tidak ingin guru Kang kembali menambah hukumannya. Hye Ji memilih untuk tetap berlari meskipun seluruh tubuhnya terasa tak bertulang, mempercepat larinya dan segera kembali ke kelasnya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Hye Ji harus menyudahinya dan berhati-hati, lain kali di pelajaran guru kang.

“Hye Ji..”Ucap Na Ra pelan, Hye Ji dengan lemas berjalan ke arah bangkunya, mengeluarkan buku pelajarannya dan memulai memperhatikan guru Kang yang sudah memulai pelajarannya, tanpa sedikit pun berniat membalas ucapan sahabatnya, ya, Hye Ji masih sedikit lemas dan rasanya seluruh tubuhnya terasa pegal saat ini.

“Apa kau di hukum guru Kang?”Tanya Na Ra dengan berbisik di telinganya, Hye Ji mengangguk lemah. Memilih untuk menatap ke depan, meskipun dia tidak mengerti akan tulisan guru Kang, setidaknya Hye Ji mencobanya, mencoba memfokuskan dirinya agar bisa memperhatikan guru Kang dengan maksimal.

Setelah jam pelajaran selesai, Hye Ji memilih untuk menjatuhkan wajahnya ke atas meja nya, memilih untuk menghalangi wajahnya dengan buku paketnya. astaga. Hye Ji benar-benar harus memulihkan tenaganya, sepertinya dengan tertidur di jam istirahat tidak masalah, dan lagi pula guru Kang tidak akan berani untuk menghukumnya.

“Hei Hye Ji”Hye Ji masih terlihat tertidur dengan lelapnya di atas meja nya, mengabaikan suara teriakan Na Ra. dia tidak akan bangun, sampai jam pelajaran di mulai, bagi Hye Ji hanya ada satu jalan untuknya saat ini, untuk memulihakan tenaganya yang telah terkuras habis di lapangan tadi.

“Hye Ji bangunlah. ada seseorang di depanmu”Na Ra masih berusaha membangunakan Hye Ji, gadis itu sama sekali tidak bergeming, memilih untuk menyelami alam mimpinya ketimbang mendengarkan Na Ra yang saat ini sibuk memanggil-manggil namanya

“Maaf, Kyu Hyun-ssi. sepertinya Hye Ji tidur pulas”Jawab Na Ra dengan disertai senyuman termanis di bibirnya, menatap penuh minat pada pria tampan di depannya, Kyu Hyun tersenyum memilih untuk memutar tubuhnya, berjalan perlahan meninggalkan kelas itu

“Kyu Hyun?”Kesadarannya seolah di terimanya, Hye Ji berdiri, sedikit masih pusing di kepalanya, menatap punggung lebar itu, dengan kecepatan yang dia miliki, Hye Ji mengejarnya, mengejar kemana pria itu pergi

“Hye Ji, hei.. ucapkan salam untuknya”Ucap Na Ra dengan rona merah di kedua pipinya, pria itu begitu tampan dan Hye Ji mengenalnya, kenyataan itulah yang membuat Na Ra semakin ingin mengenal jauh pria itu, siapa tahu Hye Ji bisa membantunya, ya. mungkin saja Na Ra bisa berdekatan dengan pria bernama Kyu Hyun itu, dengan bantuan Hye Ji

“Kyu….”Ucapnya ngos-ngos san. Hye Ji berusaha mencekal pergelangan tangannya

“Ada apa?”Tanya Hye Ji, melepaskan cekalan tangannya, pria itu membalikan tubuhnya, menatapnya dengan tatapan yang bahkan sulit untuk diartikan

Sebuah kunci terlihat diberikan pria  itu, untuk beberapa saat Hye Ji menatapnya, sedikit bingung melihat kunci flatnya berada di tangan pria itu, namun pada akhirnya Hye Ji mengambilnya, ah ya, Hye Ji melupakan kalau pria itu juga tidur di flatnya, dan terakhir kali, Hye Ji lupa kalau pria itu adalah orang terakhir yang berangkat ke sekolahnya, dan tentu saja pria itu memiliki kunci flatnya, tapi kenapa dia memberikannya pada Hye Ji? Bukankah dia juga akan pulang ke flat itu? entah kenapa Hye Ji sedikit mengkhawatirkannya, ah… Hye Ji menggelengkan kepalanya, tentu. Dia tidak seharusnya mengkhawatirkannya, pria itu adalah orang asing dan juga Hye Ji sedikit diuntungkan jika pria itu tidak di flatnya lagi.

“Ada sedikit urusan, kemungkinan malam ini aku tidak akan pulang”Hye Ji hanya mengangguk,mendengarkannya dengan seksama, tak bisa dipungkiri kalau hatinya bertanya-tanya, urusan seperti apa yang membuat pria itu memilih tak pulang, namun tidak. Hye Ji merasa kalau dia seharusnya tidak ikut campur, ya, memangmereka adalah orang asing, yang memiliki kehidupan masing-masing.

“Tentu”Jawab Hye Ji pelan dengan menatap lekat pria itu

“Mungkin sampai dua hari ke depan”Pria itu seolah menegaskan kalau dia tidak akan pulang, Hye Ji mengangguk, memilih untuk menatapnya datar, ya, Hye Ji merasa kalau semua itu wajar dilakukannya, dan Hye Ji sedikit bahagia. Karena pria itu telah meninggalkan flatnya, Hye Ji akan menikmati kebebasannya, sendirian di flatnya tanpa satu orang pun yang mengganggunya.

“Ok, tidak ada lagi kan?”Tanya Hye Ji, Kyu Hyun menggelengkan kepalanya, menatap gadis itu, dia sebenarnya tidak ingin meninggalkan Hye Ji sendirian. namun ada sesuatu yang harus di urusnya, meskipun gadis itu selalu besikap dingin dan acuh padanya, namun Kyu Hyun semakin lama dan semakin dalam mengenalnya, sedikit berat meninggalkan gadis itu sendirian di flatnya, ya. Kyu Hyun sudah terbiasa dengan kegalakan yang dimilikinya, gadis itu penyelamatnya dan Kyu Hyun merasa sangat nyaman tinggal di flat kecil itu.

“Aku pergi—“Ucap Hye Ji pada akhrinya, memilih untuk melangkahkan kakinya, pergi dari hadapan pria itu.

“Hei.. Hye Ji, siapa dia hum?”Hye Ji sudah merasakan tubuhnya di tarik seseorang ke belakang tembok, dihadapannya sudah berdiri tiga gadiss yang terkenal suka sekali membuly di sekolahannya, Han Naera, Shin Seul Gi dan Jung Na Young, Hye Ji menengadahkan wajahnya, sedikit kesusahan untuk mengambil nafasnya, astaga,apa yang akan mereka lakukan padanya, Hye Ji terliha sedikit ketakutan menatap ketiga gadis-gadis itu, seorang bernama Han Naera terlihat tersenyum, membelai sepanjang garis wajahnya dengan lembut

“Siapa dia?”Tanya ya dengan menatapnya tajam. Hye Ji mengingatnya, ya, mereka menanyakan siapa pria yang tadi sempat mengobrol dengannya, baiklah. Hye Ji terpaksa harus melakukan kebohongan untuk menyelamatkan dirinya

“Oh.. dia kakak ku”Jawabnya refleks, menatap dengan senyuman di bibirnya. Ketiga gadis itu balas tersenyum dan semakin membelai lembut wajahnya, mereka bertiga bisik-bisik di depannya. dan Hye Ji, dia ingin melarikan diri, berusaha lepas dari cengkraman ketiga gadis itu, namun sayang. Ketiga gadis itu menahannya. membuatnya terdiam di tembok itu.

“Baiklah, jadi kau adalah adiknya ya?”Hye Ji mengangguk dengan cepat, saat ini tidak ada pilihan lain, hanya itu yang bisa ia katakan. akan sangat berbahaya jika Hye Ji mengatakan kalau mereka bukan kakak beradik, Hye Ji tidak bisa membayangkan hidupnya akan jadi seperti apa jika mereka menerornya.

“Aku permisi dulu—“Ucapnya dengan masih ketakutan, menatap gadis-gadis dihadapannya

“Tunggu. bisakah kami meminta nomor ponselnya?”Aishh. Hye Ji mengutuk dirinya sendiri, bahkan tidak. dia sama sekali tidak memilikinya, bagaimana ini? Hye Ji memutar otaknya, mencari cara agar para gadis-gadis ini tidak mengamuk terhadapnya. hanya ada satu pilihan, tentu saja. Hye Ji akan sedikit membuat drama karangannya.

“Tentu. Ah maksudku kakak ku tidak punya ponsel”Ketiga gadis itu mengkerutkan alisnya, tentu saja mereka tidak percaya dengan bualannya, mana ada di zaman modern seperti ini masih ada orang yang sama sekali tidak mempunyai ponsel, Hye Ji meneguk ludahnya, mencari sebuah kalimat yang bisa ia katakan, ya, dia harus membuat ketiga gadis ini yakin dengan ucapannya

“Ah.. dia sedikit aneh, ya seperti ku katakan tadi, dia tidak memiliki ponsel”

“Benarkah?”Tanya Han Naera. Hye Ji mengangguk, sebisa mungkin mencoba meyakinkan mereka bertiga

“Bagaimana ini? kita tidak bisa menghubunginya—“Ucapnya seolah putus asa. Hye Ji tersenyum dan seakan sebuah kebahagiaan baru dirasakannya, ketiga gadis itu saling tatap, mencari cara lain agar tetap bisa dekat dengan pria yang menurut mereka sangat tampan, apapun itu, mereka bertiga akan membuat pria itu jatuh ke pelukannya, ya, mereka bertiga sepakat untuk bermain adil, membuat pria itu setidaknya memilih dari mereka bertiga. dan Han Hye Ji, dia adalah seseorang yang bisa membantunya untuk semakin dekat dengan pria itu.

“Bagaimana dengan surat, tentu aku tidak akan keberatan untuk memberikannya pada kaka ku”Ketiga gadis itu saling pandang, saling mencari sebuah jawaban lewat tatapan mata, Hye Ji tersenyum ,menunggu sampai gadis-gadis itu selesai dengan diskusi mereka, tidak ada salahnya. ya, setidaknya dengan begini mereka tidak akan mengganggu Hye Ji, dan Kyu Hyun, entahlah, seperti apa reaksinya, Hye Ji tidak terlalu peduli, yang terpenting adalah keselamatannya di sekolah ini.

“Baiklah…”Jawab ketiganya dengan tersenyum manis ke arahnya. Hye Ji mengangguk, memilih untuk berjalan pelan keluar dari cengkraman para gadis-gadis itu. Pelajaran berikutnya akan segera di mulai, dan Hye Ji harus dengan cepat kembali ke kelasnya, sebelum guru Kang melihatnya dan memulai hukuman untuknya.

***

“Ayolah Hye Ji, siapa dia hum? Aku penasaran dengannya, dia begitu tampan dan tatapan matanya, astaga.. sangat mengintimidasi dan terlebih senyumnya begitu manis”Hye Ji mengabaikaan celotehan sahabatnya, memilih untuk segera berjalan keluar dari gerbang sekolahnya. Na Ra masih belum menyerah, mengikuti langkah sahabatnya. Kenyataan kalau pria tampan itu, membuat Na Ra merasa semakin penasaran, ingin tahu seperti apa hubungannya dengan Hye Ji dan Na Ra juga menyukainya, ya, sebuah rasa wajar mengingat betapa wajahnya yang begitu rupawan menurutnya.

“Hye Ji, ayolah… bagaimana dengan ice cream?, aku akan membelikannya asal kau katakan siapa pria tadi”Hye Ji menggelengkan kepalanya pelan, sepertinya sahabatnya tidak akan pernah berhenti mengganggunya, astaga. bahkan dia masih mengikutinya, ya. kenyataan akan ketampanan pria itu, membuat hidupnya semakin menyebalkan, Hye Ji tidak pernah tahu kalau efek kenal dengan pria itu,membuat para gadis semakin penasaran padanya, bahkan sahabatnya sendiri pun. astaga.. pria itu membawa pengaruh buruk untuk hidupnya.

“Kakak ku”Jawab Hye Ji pelan, sebua senyuman tulus terpancar dari bibirnya, dengan cepat Na Ra menyesuaikan langkahnya dengan sahabatnya, memilih untuk merangkul pundak sahabantnya

“Yak, kau tidak pernah mengatakan kalau kau memiliki kakak setampan itu?”Hye Ji meneguk ludahnya, dengan sedikit canggung, tersenyum ke arah sahabatnya

“Jadi maksudmu Changmin Oppa kurang tampan?”Tanya Hye Ji dengan sedikit meninggikan nada suaranya, Na Ra menggaruk belakang kepalanya, tersenyum dengan menganggukan kepalanya, tentu saja, bagi Na Ra pria bernama Kyu Hyun itu jelas lebih tampan dan lebih muda dari siapapun, dan Hye Ji. Sebelah tangannya sudah mencubit lengannya, membuat ringisan kecil terdengar dari bibirnya

“Sakit”Ucap Na Ra. Hye Ji memeletkan lidahnya, berjalan dengan sedikit cepat meninggalkan Na Ra, Na Ra terlihat mendengus kesal, mempercepat langkahnya, berlari mengejar Hye Ji

“Hei, awas Han Hye Ji”Teriaknya, Hye Ji semakin mempercepat larinya, sedikit menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Na Ra yang semakin mengejarnya, ya, gadis itu sama sekali tidak menyerah, bahkan masih mengejarnya, kenyataan kalau Hye Ji sedikit unggul di bidang olahraga, tentu saja membuat larinya lebih kencang dan dia sangat senang bisa mengalahkan sahabatnya, Na Ra, ada sebuah rasa sakit ketika dia membohongi sahabatnya sendiri, sial. Kenapa Hye Ji merasa menyesal karena telah mengatakan kalau Kyu Hyun adalah kakaknya, kenapa ada sedikir rasa kesal saat sahabatnya sendiri menyukai pria itu? Hye Ji menggelengkan kepalanya, menepis semua rasa bersalah itu, memilih untuk menunggui sahabatnya di sebuah kursi yang ada di taman, ya, Hye Ji sudah sampai di taman.

“Dasar lambat..”Ucap Hye Ji. Wajahnya terlihat memucat, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Na Ra segera menuju Hye Ji, setengah menyeret gadis itu, membawanya ke sebuah tempat lain di taman itu.

“Hye Ji, lihatlah…”Hye Ji melihat sesuatu yang ditujukuan sahabatnya, kedua matanya membelalak, kedua bibirnya terbuka lebar, melihat seseorang yang sangat di kenalnya, pria itu. Kyu Hyun bersama seorang gadis di sana, mereka berpelukan? Siapa dia? Dan kenapa mereka berpelukan? ah. Kenapa rasanya hatinya terasa berjengit. Tanpa sadar Hye Ji terus saja melihat ke depan, tepatnya ke sepasang kekasih di hadapan mereka

“Apa mereka sepasang kekasih?”Tanya Na Ra sedih dengan masih menatap meteka. Hye Ji mengambil nafasnya pelan, sesekali membuang wajahnya ke samping, tak di pungkiri sedikit rasa pedih yang dirasakannya saat ini

“Entahlah..”Jawabnya pelan, dengan memandang ke depan, sedikit takut untuk melirik ke arah sana, tepatnya ke arah Kyu Hyun dan gadis asing itu

“Kurasa aku merasakan patah hati, huh… bagaimana ini? kakak mu membuatku patah hati untuk pertama kalinya”Hye Ji memilih untuk memeluk sahabatnya, kedua tangannya membelai lembut punggungnya. Ya, sedikit tahu, kalau Na Ra sepertinya memang menyukai Kyu Hyun

“Kita sebaiknya pergi”Na Ra mengangguk, Hye Ji menggiring sahabatnya dari taman itu, berjalan pelan menyusuri sepanjang jalanan itu, ya. keduanya memutuskan pergi dari sana, baik Hye Ji maupun Na Ra, keduanya sama sekali tidak berminat untuk menguping atau sekedar berdiam diri disana, menyaksikan bagaimana sepasang kekasih itu yang sepertinya sedang menikmati waktu kebersamaan mereka disana.

“Pulanglah, ibumu sangat mengkhawatirkanmu”Kyu Hyun menggeleng, memilih untuk berdiri dari tempatnya, menatap beberapa bunga dihadapannya, tidak akan, dia tidak akan pernah pulang sekalipun ibunya memohon, masih mengingatnya, ya, rasa sakit itu masih begitu teringat dibenaknya.

“Apa kau masih marah padaku? Aku minta maaf, sungguh. aku menyesal—“Ucap gadis itu dengan menundukan wajahnya, tak kuasa menahan butiran kristal itu yang mulai menyeruak dari kedua sudut matanya, ya, dia mengakui kesalahannya. Perselingkuhan yang dilakukannya bersama dengan kakak pria yang dicintainya, itu sebuah kesalahan, harus diakuinya, dan Ching Lang menyesal, memilih untuk kembali dengan pria yang telah disakitinya, Gui Xian, dia adalah pria yang selamanya dicintainya.

“Ku mohon kembalilah”Ucapnya parau dengan air matanya yang semakin terlihat membasahi pipi mulusnya, pria itu memutar tubuhnya, mengeluarkan sebuah kain kecil dari sakunya

“Jangan menangis kumohon, setidaknya jangan menyesali apa yang telah terjadi”Kyu Hyun memilih untuk memutar kembali tubuhnya, menatap ke hamparan bunga itu, tidak, dia tidak bisa melihat gadis itu sedikit pun terluka. fakta kalau dia telah menghianatinya dengan kakaknya sendiri, ya, dia sangat kecewa, namun dia juga tidak bisa mengabaikannya, tidak bisa melihatnya menangis dan seolah begitu menyesal akan perbuatannya, Kyu Hyun sangat mencintainya dan menghormati gadis itu lebih dari apapun di dunia ini

“Tidak bisakah kau kembali padaku Gui Xian?”Tanya nya pedih. Kyu Hyun menggeleng, tidak akan. untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kyu Hyun memilih untuk menjauh dari gadis itu, gadis yang sangat dicintainya sampai saat ini, Kyu Hyun menyadari kalau dia tidak bisa memaksakan kehendaknya, dengan membuat gadis itu mencintainya, kenyataan kalau gadis itu mencari pria lain, menandakan kalau gadis itu tidak bahagia dengannya, dia tidak akan mengulangi kesalahannya, dengan membuat gadis itu menderita di pelukannya.

“Pulanglah, Aku akan bertanggung jawab atas pembatalan pertunangan kita”Seakan ketegasan yang tidak bisa terbantahkan. Pria itu memilih berjalan keluar dari taman itu, mengabaikan Ching Lang yang saat ini menangis tersedu. ya, dia begitu menyesalinya, semua yang telah dilakukannya. dia begitu bodoh, melepas pria yang teramat mencintanya, Kyu Hyun. Pasti pria itu begitu kesakitan dengan melihatnya selingkuh dengan kakaknya sendiri, astaga, bahkan Ching Lang baru menyadarinya, kalau dia juga memiliki perasaan untuk Kyu Hyun, kenapa pria itu pergi meninggalkannya? disaat hatinya mulai mengatakan kalau dia juga mencintainya. Mungkin langit sedang marah terhadapnya, ya. Ching Lang akan menerimanya, dia juga tidak akan menyerah, sampai pria itu kembali menerimanya, dan pesta pertunangan itu, Ching Lang tidak akan pernah membatalkannya.

***

Hye Ji memilih untuk menyibukan dirinya dengan beberapa buah buku paket, tak biasanya dia akan belajar kalau bukan karena sebuah tes yang akan di hadapinya besok, namun karena pria itu, pria itu yang tadi sore dilihatnya sedang bermesraan dengan seorang gadis di taman, lupakan, Hye Ji merasa kalau semua itu menyimpang, ya, dia merasa kalau semua itu bukan urusannya, apapun yang dilakukan pria itu tidak ada hubungannya sama sekali. Oh shit, Hye Ji akan memulai belajar malam ini.

“Sialan….”Satu kata yang mewakili perasaannya saat ini. sumpah serapah atau tepatnya mengutuk seseorang, ya. kenyataan kalau gadis itu sama sekali tidak berkonsentrasi dengan buku-buku itu, ingatannya masih dengan jelas, mengingat akan Kyu Hyun dengan gadis asing dan mereka berpelukan cukup lama di taman itu, tanpa disadarinya kedua tangannya mengetuk-ngetuk dia atas meja belajarnya, dengan hembusan nafas pelan, Hye Ji memilih untuk menutup buku pelajarannya, memilih untuk menyandarkan tubuhnya di atas ranjangnya, tidak ada yang lebih baik saat ini, segelas kopi mungkin akan memperbaiki perasaannya.

Hye Ji memilihchocochino, menyeduh bubuk kopi itu dengan air panas dari termosnya, tidak ada salahnya sesekali gadis itu meminum minuman kafein itu, ya, selama ini memang Hye Ji menderita maag kronis, dia tidak bisa mengkonsumsi kopi, namun malam ini, seolah Hye Ji melupakan larangan dokter, dia akan berpesta dengan buku-buku menyebalkan itu dan secangkir kopi Chocochinoakan menemaninya. setidaknya hanya secangkir kopi yang bisa mengerti perasaannya saat ini.

“Astaga…”Hye Ji hampir saja menjatuhkan secangkir kopi itu. Pria itu, bagaimana dia bisa masuk? dengan cepat, Hye Ji berlari menuju pintu, tempat dimana pria itu masuk ke dalam flatnya, sebelah tangannya menepuk keningnya, ya, dia lupa untuk mengunci pintu.

Hye Ji membelalakan matanya, menatap kesal karena pria itu tiba-tiba dihadapannya, merebut secangkir kopinya dan meminumnya tanpa rasa penyesalan sedikit pun

“Kau…”Ucapnya. Hye Ji menatapnya dengan tajam , kenapa dengan pria itu? Tak biasanya dia menjadi pendiam, dan raut wajahnya, dia sepertinya sedang banyak pikiran

“Kau menghabiskannya—“Ucap Hye Ji seolah lemah, memilih untuk meletakan secangkir kopi itu ke dalam meja di dekatnya, Hye Ji melangkahkan kakinya, memilih menarik dirinya, perlahan mulai memasuki kamar nya, namun sebuah cekalan dipergelangan tangannya, membuat tubuhnya memutar, menatap pria itu yang kini berada tepat di belakang tubuhnya

“Kyu—“Ucap Hye Ji pelan, kedua matanya menatap tepat ke arah tangannya, sedikit berusaha untuk melepaskan tangan itu, namun tidak. Kyu Hyun semakin mencengkram pergelangan tangannya, menariknya dan membuat tubuh Hye Ji sukses masuk ke dalam pelukannya, Hye Ji mengerjap-ngerjapkan matanya, memilih untuk menormalkan setiap organ tubuhnya yang terasa berdenyut saat ini. aishhh…

“Sebentar saja”Ucapnya pelan tepat berbisik di telinganya, terdengar helaan nafas pendeknya, terdengar bagaimana pria itu seolah gelisah, ya. ada sesuatu yang bisa Hye Ji rasakan dari bagaimana reaksi pria itu. apa karena gadis itu? gadis tadi sore yang ditemuinya?

“Lepaskan..”Seketika itu juga Hye Ji memberontak, menghempaskan tangan itu yang melingkari perutnya, sedikit ada rasa kesal di hatinya saat ini, entahlah. rasanya perasaannya sedang tak menentu.

“Bisakah kau menemaniku minum?”Hye Ji mengepalkan kedua tangannya, berbalik dan sedikit menahan semua kekesalannya, dilihatnya wajah pria itu seolah lemas, seolah tak ada daya sedikit pun, seolah dia begitu menderita. tapi kenapa? Apa yang membuat pria itu seperti ini? tanpa sadar, Hye Ji menganggukan kepalanya. memilih untuk menerima ajakan minum pria itu

Sedikit kaget Hye Ji menatap bangunan kecil di hadapannya, dengan sebuah tulisan club. astaga, seumur hidupnya bahkan Hye Ji belum pernah bermimpi untuk sekedar memasukinya, dan pria itu justru mengajaknya ke sebuah club, apa mereka benar-benar akan minum di dalam sana? Hye Ji banyak mendengar kalau di club banyak sekali orang-orang yang sedikit ‘nakal’

“Ayo…”Hye Ji mengikutinya saat Kyu Hyun berjalan di depannya, memilih untuk menundukan kepalanya, menatap lantai sepertinya adalah alternatifnya saat ini, dengan sedikit gugup, kedua tangannya meremas sebuah rok yang cukup pendek yang dikenakannya.

“Aku akan kesana sebentar…”Hye Ji ingin mencegahnya dengan mengacungkan sebelah lengannya, namun pria itu berjalan sedikit cepat, meninggalkannya sendirian di tengah kerumunan orang-orang yang kini sedang asik berjoget dengan pasangannya masing-masing, tak bisa di percaya, bahkan Hye Ji ditinggalkannya sendiri. bagaimana ini? Hye Ji tidak terlalu mengenal tempat asing ini.

Pelan, Hye Ji menelusuri semua tempat di club itu, berjalan keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang asik bercengkrama, dengan sedikit gemetar, akhirnya kakinya memutuskan untuk melangkah ke lantai dua. tempat apa ini? sungguh Hye Ji sangat penasaran.

Di bukanya satu persatu pintu kamar yang terlihat berjejer disana. ah, kenapa rasanya tiba-tiba saja Hye Ji merasa kalau dia begitu penasaran, ingin melihat siapa di dalam sana, kedua matanya tertutup saat terlihat dua pasangan asing sedang memadu kasih di dalam sana, astaga… Hye Ji merutuki kebodohannya, kenapa dia bisa-bisa nya merasa penasaran di tempat seperti ini, sudah sangat jelas bukan kalau kamar-kamar memang di sediakan di club bagi mereka yang ingin ‘memadu kasih’

Kaki nya berhenti, tatapannya terasa kabur dan bibirnya menganga lebar, siluet tubuh itu begitu jelas di hadapannya, tubuhnya seketika limblung dan terasa lemas, sebelah tangannya meragap dadanya yang terasa begitu sesak saat ini, tanpa bisa ditahannya air matanya merembes, meluncur ke pipinya yang mulus. Kyu Hyun, dihadapannya pria itu sedang berpagutan mesra dengan seorang gadis yang terlihat di pangkuannya, kedua lengan gadis itu bahkan berada di lehernya, menekannya dan memiringkan wajahnya ke samping, mereka berciuman cukup intens dihadapannya, kenapa rasanya terasa sakit? Kenapa? Hye Ji memilih untuk memundurkan langkahnya perlahan, sedikit pun dia tidak melihat ke belakang, sampai tubuhnya seketika oleng saat kakinya membentur sebuah meja kecil di belakangnya. Sialan..

“Hye Ji…”Ucapnya pelan, Kyu Hyun dengan cepat berdiri dan membuat gadis di pangkuannya sedikit menatapnya sebal, tubuh itu dengan cepat menghampirinya, mengabaikan gadis itu yang memanggil-manggil namanya, Hye Ji kenapa dia bisa disini? bukankah Kyu Hyun sudah meninggalkannya di lantai bawah?

“Aku..aku..bisa sendiri..”Ucapnya terbata, dengan pelan Hye Ji mencoba untuk berpegangan pada meja itu, berdiri. ah tidak.. bahkan seluruh kakinya terasa berdenyut saat ini, rasanya sakit dan Hye Ji tidak bisa melakukannya. Kyu Hyun tersenyum miris, melihat bagaimana gadis itu yang keras kepala, tanpa menghiraukan berontakan dan juga tatapan sinis gadis itu, Kyu Hyun membawa tubuh gadis itu dalam gendongannya, berjalan perlahan meninggalkan lantai dua club itu

“Lepaskan…”Ucapnya lemah. Sejujurnya saat ini entah kenapa rasanya Hye Ji begitu kesulitan untuk sekedar menahan amarahnya, aneh, kenapa dia tiba-tiba merasa marah melihat pria itu bermesraan dengan gadis lain, rasanya hatinya terlampau perih menyaksikannya dengan matanya sendiri, saat pria itu berpagutan mesra dengan gadis lain.

Like A Star Chapter 2a

 

Aku tidak tahu…

Tapi aku mulai merasa aneh setiap kali kau berada di dekatku.

Aku merasa kalau hatiku mulai terbiasa dengan keberadaanmu

 

Terdengar suara cicitan burung mengalun merdu di atas sana. Sinar mentari pagi terlihat cerah di atas sana, menandakan kalau pagi ini telah datang, sinar rembulan sudah tergantikan olehnya. Hye Ji, gadis itu sudah bangun pagi-pagi dan berniat ingin memasak sesuatu di kamarnya, sebelum semua itu terjadi seseorang telah datang dan mengantarkan Hye Ji kembali ke kamarnya dan Kyu Hyun.

Hye Ji menghela nafasnya berat. Bahkan dia tidak diperkenankan untuk ke dapur, memasak sesuatu yang lezat untuknya dan juga Cho Kyu Hyun. Ayah mertua nya pasti di balik semua ini.

Tak mau lama-lama merenung dengan segala keterbatasannya. Hye Ji memilih untuk membuka sedikit gorden kamarnya, menatap takjub akan pemandangan pesisir pantai yang dilihatnya, dengan jelas Hye Ji melihat bagaimana indahnya tinggal di pesisir pantai seperti ini, menyaksikan ombak yang begitu cantik dengan suara-suara manusia yang tengah menikmati indahnya pula jezu.

“Aku pikir ini akan menyenangkan—“Tak dipungkiri kalau sebenarnya Hye Ji menginginkan seperti drama-drama yang pernah di tontonnya di tv. Ketika mereka melakukan honeymoon, sepasang suami istri akan menghabiskan waktu bersama, bermain dan bermesraan kemudian—

Hye Ji memukul kepalanya sendiri, tidak seharusnya Hye Ji memikirkan hal gila yang baru saja terlintas di kepalanya. Tidak mungkin, drama hanya sebuah rekayasa. wajar saja jika kebanyakan pengantin baru di drama akan bermesraan dengan pasangannya, dan toh ceritanya selalu mereka menikah karena cinta, Hye Ji dan Kyu Hyun, bahkan mereka baru bertemu saat berlangsungnya janji suci itu di ucapkan.

“Aku akan keluar”Suara seseorang di belakang membuat Hye Ji menolehkan kepalanya. Menatap seseorang yang kini sudah berpakaian santai. Dengan atasan kaos oblong dan jeans selututnya, rambutnya terlihat acak-acakan dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Kyu Hyun? Hye Ji bahkan tidak ingat sejak kapan Kyu Hyun bangun?

“Apa kau akan disini?”Tanya Kyu Hyun datar. Hye Ji meneguk ludahnya, mencoba untuk memikirkannya, apakah Kyu Hyun menawarinya pergi bersamanya, atau hanya sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban, sungguh otak Hye Ji tidak bisa berpikir dengan jernih

“Lupakan, aku akan jalan-jalan—“Kyu Hyun mulai sedikit emosi

“Aku ikut”Ucap Hye Ji pelan

Mereka berdua berjalan beriringan tanpa ada perkataan yang keluar dari mulut keduanya. Hye Ji masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, Hye Ji memikirkan bagaimana nasibnya kedepannya, bagaimana jika Kyu Hyun tetap tidak menyukainya dan Hye Ji? Bagaimana dengan nasibnya kelak, bahkan Hye Ji sudah mulai kuliah.

Kyu Hyun berhenti berjalan saat dilihatnya sebuah kios kecil yang sejak tadi menarik perhatiannya. Kyu Hyun mendekati kios itu tanpa sadar kalau Hye Ji masih terus saja berjalan ke arah berlawanan

“Ah”Hye Ji kaget karena tangan itu menarik tangannya. Hye Ji lebih kaget lagi karena Hye Ji sudah berada di sebuah kios kecil, dan Kyu Hyun terlihat senang memasuki kios itu. Hye Ji mengikutinya dari belakang

“sangat cantik..”Hye Ji menatap sebuah kalung putih berliontinkan sebuah bintang di tengahnya. Terlihat cantik dan-

“Aku ambil yang ini”Harapannya hancur seketika, saat Kyu Hyun tiba-tiba mengambilnya. Apa Kyu Hyun sengaja membelikannya sebuah kalung? Ah pasti lelaki itu mulai memiliki perasaan padanya. Hye Ji hanya harus bersabar sampai lelaki itu mau memberikan kalung itu padanya

“Terimakasih”Kyu Hyun terlihat senang dengan sebuah kalung perak yang barusan di beli nya. Kyu Hyun menatapnya sebentar sebelum di masukannya ke dalam wadah kecil berbentuk hati miliknya, Hye Ji merasa penasaran, apakah benar Kyu Hyun membelikan kalung itu untuknya. Ah tidak mungkin, dilihat dari sikapnya yang masih dingin padanya, lalu untuk siapa?

“Istri anda begitu cantik tuan, apakah anda ingin memberikan kalung itu untuknya?—“Hye Ji terlihat salah tingkah saat penjual itu memujinya cantik. Kyu Hyun menatapnya datar tanpa banyak ucapan yang keluar dari mulutnya

“Ah maaf tuan, kupikir—“

“Tidak apa-apa, tentu saja aku akan memberikannya untuk seseorang yang sangat special dalam hidupku”Kyu Hyun mengatakannya dengan tegas. Hye Ji menatap lelaki itu, tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya, tapi siapa gadis itu? Siapa gadis yang beruntung mendapatkan kalung cantik dari Kyu Hyun.

***

 

“Kyu—“Ucap Hye Ji pelan. Kyu Hyun menghentikan langkahnya, menatap Hye Ji yang kini terlihat seperti ragu-ragu

“Aku ingin ke toilet”Hye Ji tidak bisa menahan lagi. Rasanya sudah sejak tadi Hye Ji ingin buang air kecil. Kyu Hyun menghela nafasnya berat, sungguh kacau. Harusnya ia tidak membawa gadis itu pergi bersamanya, lihat saja dia sudah mulai mengacaukan hari pertama liburannya. Benar-benar sial, Kyu Hyun akhirnya menggiring Hye Ji menuju toilet umum di dekat sana.

“Hye Ji-ssi”

“Hye Ji—“Masih belum ada tanggapan. Suda sekitar setengah jam yang lalu, gadis itu memasuki toilet namun masih belum kembali. awalnya Kyu Hyun terlihat acuh tak acuh, tapi semakin lama, Kyu Hyun semakin khawatir karena gadis itu belum juga kembali dari sana. Kemana dia? Apa jangan-jangan Hye Ji di culik? Tapi bagaimana bisa, sementara Kyu Hyun menungguinya di depan toilet, tapi bisa saja kan. Penculik itu menyelinap saat Kyu Hyun lengah dan membawa Hye Jin secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.

“Han Hye Ji-ssi kau dimana?”Kyu Hyun sudah mulai mencari ke seluruh toilet wanita. Tapi tidak ditemukan Hye Ji disana, padahal sudah satu persatu toilet itu di ceknya tapi Hye Ji tidak berada di salah satu toilet itu. Kemana dia sebenarnya? Kenapa dia menghilang? Bagaimana jika dugaannya benar jika Hye Ji—

“Kyu Hyun, kau?-“Hye Ji terkaget saat tangannya membuka handle pintu itu, tiba-tiba wajah yang sangat tak asing berada di depannya, dengan raut wajah yang sangat menyeramkan sekali. Kenapa dia berdiri tepat di depan pintu, ada apa? Hye Ji bahkan tidak ingat kalau dia ternyata ketiduran di dalam sana.

“Kau baik-baik saja kan?”Tanya nya khawatir. Kyu Hyun mengamati seluruh tubuh Hye Ji dari ujung kepala hingga ujung kaki, semuanya masih utuh. Kyu Hyun bernafas lega, karena sepertinya Hye Ji baik-baik saja tanpa kekurangan satu macam pun.

“kau kenapa? Tidak biasanya—“Hye Ji mengulum senyumnya, sepertinya Kyu Hyun mencemaskannya. Terlihat dari raut wajahnya yang berkeringat dan sorot matanya, jela-jelas dia mengkhawatirkan Hye Ji.

“Lupakan!”

Honeymoon adalah sebuah kata keramat yang paling mematikan menurut Hye Ji. Semalaman Hye Ji tidak bisa tidur dengan nyenyak saat Cho Kyu Hyun mengajaknya untuk pergi ke pulai jezu dengan niatan honeymoon untuk mereka berdua. Hye Ji adalah gadis kuno yang masih berpikir jika sepasang suami istri pergi untuk honeymoon, maka bisa dipastikan kalau akan terjadi sesuatu diantara mereka.

Kenyataannya tidak berubah. Mau di apartemen ataupun di sebuah hotel mewah berbintang lima sekalipun. Han Hye Ji masih harus tidur di sofa tanpa bantal maupun sebuah selimut yang menghangatkan tubuhnya.

Benar-benar lelaki gila. Dia selalu berusaha menguasai apapun itu, termasuk tempat tidur mereka, Hye Ji tidak diijinkan sedikit pun untuk sekedar duduk disana. Hye Ji menatap dengan sebal ke arah lelaki itu yang kini terbaring memunggunginya. Bisa-bisa nya dia bersenang-senang dengan sebuah ponsel di tangannya, sementara Hye Ji harus rela tubuhnya pegal-pegal keesokan harinya karena tidur di sofa yang sangat keras ini. Hye Ji menatap sebuah kulit kacang yang belum sempat di buangnya, tanpa sadar bibirnya tersenyum begitu sebuah ide terlintas di kepalanya.

“Aku tidak akan membiarkanmu tidur nyenyak Cho Kyu Hyun, setidaknya kau harus merasakan bagaimana rasanya tidur tak nyaman di ranjang itu—“Hye Ji tertawa lebar begitu Kyu Hyun menarik dirinya dan berlalu dari ranjang itu. Matanya melirik sekilas dan tibalah kesempatan saat lelaki itu sedang ke toilet. Tanpa ditahannya, Hye Ji segera memasukan semua kulit kacang dimilikinya ke balik selimut tebal lelaki itu, Hye Ji kembali ke sofa milikinya setelah memastikan semua kulit kacang itu berhasil di taruhnya di atas ranjang yang tertutupi selimut itu.

“Rasakan pembalasanku…!!!”Lagi-lagi Hye Ji tersenyum lebar, hanya tinggal menunggu sampai lelaki itu berteriak keras merasakan bagaimana tubuhnya terasa gatal dan—

“Seprainya kurang nyaman, aneh kenapa sepertinya tubuhku gatal—“Hye Ji tersenyum di balik sana. Sementara itu Kyu Hyun beranjak dan memeriksa seprai yang dipakainya. Betapa kagetnya karena di balik selimut yang di pakainya terdapat banyak kulit kacang yang berterbaran disana. Pantas saja seluruh tubuhnya sangat gatal, terutama di bagian perutnya, saat tanpa sengaja baju di bagian perutnya terangkat dan memperlihatkan kulitnya dan saat itulah kulit  kacang tadi mulai menggesek kulitnya. Benar-benar, mata Kyu Hyun berakhir pada satu manusia yang sekarang memunggunginya, pasti dia, pasti Han Hye Ji yang melakukan itu padanya. Sial benar.

“Jangan pura-pura tidur Han Hye Ji!!”Hye Ji mencoba untuk membuat kedua matanya terpejam sempurna. Saat ini Hye Ji sangat sadar kalau Kyu Hyun berada di dekatnya, lebih tepatnya wajah lelaki itu berada tepat di depan wajahnya, bahkan Hye Ji bisa merasakan setiap hembusan nafas lelaki itu.

“Bangun atau aku akan—“Kyu Hyun sengaja menyentuhkan jari-jarinya yang dingin ke permukaan wajah gadis itu. Membuat Hye Ji dengan cepat terbangun dan terduduk di sofa itu. Hye Ji mencoba menjajal aktingnya, dengan pura-pura tidak tahu apa-apa dan menatap kaget saat Kyu Hyun tersenyum miring padanya

“Apa yang kau lakukan?”

“Hye Ji. Seharusnya itu yang ku tanyakan padamu”Hye Ji mencoba menormalkan wajahnya, memasang ekpresi kaget karena melihat Kyu Hyun berada di jarak yang cukup dekat dengannya

“Maksudmu?”Tanya Hye Ji. Kyu Hyun tersenyum sinis, kemudian lelaki itu berdiri dan memegang ujung baju nya, Hye Ji ketakutan tatkala lelaki itu sepertinya akan membuka bajunya di depan dirinya

“Kau takut?”Tanya Kyu Hyun sinis, Hye Ji menutupi matanya dengan kedua tangannya. Tak ingin melihat bagaimana Kyu Hyun mencoba menelanjangi dirinya sendiri. itulah yang ada di pikiran Hye Ji saat ini, Hye Ji ketakutan, jangan-jangan Kyu Hyun akan melakukan sesuatu padanya—

“Apa kau pikir apa tak sebaiknya kita—“Kyu Hyun mulai membuka satu persatu kancing yang melekat di tubuhnya, berjalan mendekati Hye Ji. Kedua tangan Hye Ji gemetaran, sesekali matanya membuka dan menatap tak percaya kalau lelaki di depannya benar-benar sudah melepaskan kain yang melekat di tubuhnya. Apakah? Apakah Kyu Hyun dan Hye Ji benar-benar akan melakukannya? Hye Ji belum siap, bahkan Hye Ji tidak membayangkan hal ini sebelumnya

“Kau pikir apa? Memasukan semua kulit kacang ke dalam kasur ku”Perlahan-lahan matanya terbuka. Hye Ji menatap lelaki itu yang sekarang ini sedang menatapnya tajam. Hye Ji menyeringai tanpa dosa, itu tadi hanya sekedar pelajaran yang diberikan untuk membuat lelaki itu tak bersikap seenaknya padanya, Hye Ji hanya ingin agar Kyu Hyun tidak egois, dan berbagi ranjang dengannya. Hye Ji hanya ingin mendapatkan tidur layak dengan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk dan bukannya di atas sofa yang sangat keras ini. Apa Hye Ji salah?

“Astaga seluruh tubuhku rasanya gatal”Kyu Hyun cepat-cepat mengambil sebuah kayu putih yang ada di tas nya. Masih belum memakai baju atasan, Kyu Hyun membuka tutup kayu putih itu, dan mengoleskan ke seluruh tubuhnya.

“Apa kau puas sekarang?”Tanya Kyu Hyun yang masih berusaha mengoleskan kayu putih itu ke punggungnya. Hye Ji terlihat bersalah, karena sepertinya lelaki itu terlihat kesakitan dengan bentol-bentol yang ada di seluruh tubuhnya. Hye Ji tidak berniat membuatnya kesakitan, Hye Ji hanya memberikannya pelajaran dan shit Kyu Hyun benar-benar sedang kesakitan sekarang.

“Aku akan membantumu—“Dengan sedikit keberanian yang dimilikinya Hye Ji melangkahkan kaki nya mendekati Kyu Hyun. Hye Ji mulai mengambil alih kayu putih itu, menuangkannya di telapak tangannya dan mulai mengusapkannya di punggung lelaki itu. Kyu Hyun tidak protes sama sekali, karena memang benar, Kyu Hyun tidak bisa melakukannya

“Kau puas sekarang?”

“Seluruh tubuhku gatal karena ulahmu”Seakan belum puas membuat Hye Ji merasa bersalah, Kyu Hyun merecokinya dengan sejumlah pertanyaan dan juga pernyataan yang membuat Hye Ji terdiam. Memang benar Hye Ji bersalah dalam hal ini, tapi dia benar-benar tidak tahu kalau akan seperti ini. Hye Ji masih mengusapkan kayu putih itu di punggung Kyu Hyun

“Aku akan mengabulkan do’a mu”

“Malam ini aku akan tidur denganmu—“Hye Ji menghentikan usapannya secara refleks. Tidur dengannya?, jangan bilang kalau Kyu Hyun akan melakukan—Hye Ji tidak ingat kapan tangannya malah tanpa sadar mencubit punggung lelaki itu, membuat lelaki itu berteriak kencang, kesakitan karena ulahnya.

“Ah maaf”

“Aku tidak sengaja—“Ucap Hye Ji menyesal, sungguh Hye Ji tidak sengaja melakukannya. Hye Ji terlalu kaget karena lelaki itu mengatakan akan tidur dengannya, Hye Ji tidak bisa mengontrol otaknya yang langsung berpikiran akan membunuh lelaki ini, jika benar Kyu Hyun melakukan hal itu padanya. Tak bisa dibayangkan bagaimana hidupnya jika benar Kyu Hyun akan merenggut harta yang paling berharga untuknya.

“Malam ini kau sudah dua kali melakukan kesalahan—“

“Aku akan memberikanmu hukuman”Kyu Hyun tersenyum menyeringai. Menatap wajah bersalah gadis itu. Tak pernah di sangkanya jika ternyata begitu menyenangkan bisa mengerjai Hye Ji. Kyu Hyun tidak berniat, bahkan tidak pernah terpikir untuk menghabiskan malam dengan gadis itu, Kyu Hyun hanya mencoba untuk membalas gadis itu yang sudah mengerjainya.

Plakk

Terdengar suara yang cukup keras menggelegar di kamar itu. Hye Ji menatap tak percaya akan kelakuannya kali ini, benar-benar di luar kendalinya, saat tanpa sengaja tangannya sudah melayang di udara dan menampar pipi suaminya. Oh My God, bahkan pipinya terlihat memerah karena ulahnya. Mati kau Hye Ji, kali ini benar-benar mati!

Hye Ji sangat bersalah, melihat bagaimana lelaki itu cukup kesakitan karena tamparannya yang sangat keras di pipinya, tapi benar-benar Hye Ji tidak merencanakannya, Hye Ji hanya terlalu takut kalau lelaki itu aka berbuat jauh dan mereka—

Mereka akan melakukan hal-hal yang ‘menyeramkan’ kalau di pikir kembali tidak ada salahnya juga jika hal-hal demikian terjadi diantara mereka, dan bukankah mereka adalah suami istri? tapi tetap Hye Ji menginginkan cinta sebelum mereka melakukannya.

“Untuk kesekian kalinya, aku minta maaf—“Sesal Hye Ji. Kyu Hyun memegangi pipinya yang nampak kemerahan dan sangat sakit, sedikit saja pipinya bergerak, maka rasa sakit itu diarasakannya, wow gadis yang luar biasa!

“Aku tidak sengaja”

“Aku akan mengobatimu”Hye Ji mencari-cari perban dan juga salep yang ada di loketnya. Kyu Hyun hanya diam saat tangan itu mulai mengoleskan salep di pipinya

“Apa kau membenciku?”Tanya Kyu Hyun. Hye Ji menaruh salep itu dan kembali duduk di samping Kyu Hyun, tidak. Hye Ji tidak membencinya, hanya saja Hye Ji kesal setiap kali Kyu Hyun memperlakukannya dingin.

“Kulit kacang dan tamparanmu, malam ini benar-benar luar biasa…”Kyu Hyun menyeringai tajam dengan kedua tangannya memegangi pipinya yang masih terasa sakit itu

“Aku hanya-hanya takut—“Ucap Hye Ji kesusahan mengatakan yang sebenarnya. Kalau sesungguhnya Hye Ji takut jika Kyu Hyun akan melakukan sesuatu padanya

“Takut denganmu”

“Kau takut denganku, bahkan setelah malam pertama kita lewatkan malam itu, kau masih bilang takut?”Kyu Hyun bahkan tidak bisa menahan tawanya, melupakan pipinya yang masih terasa sakit, benar-benar gadis di luar dugaannya. Bahkan gadis itu bilang kalau dia sangat ketakutan karenanya. Apa dia lupa? Kalau malam pertama mereka, Hye Ji bahkan tertidur satu ranjang dengan Kyu Hyun, tanpa ada rasa takut sedikit pun. Masih dengan jelas diingatannya, bagaimana Hye Ji keukeuh untuk tidur seranjang dengannya, padahal dengan jelas Kyu Hyun sudah memberi peringatan keras.

“Kau benar-benar gadis luar biasa..”

“Tunggu, aku bahkan tak menjamin kalau aku akan suka padamu, lihatlah—“Kyu Hyun menatap gadis itu dengan seksama, menatap detail setiap lekukan yang ditonjolkan oleh pakaian yang dipakai gadis itu. Sama sekali tidak menarik, bahkan semuanya rata, mau itu di depan atau belakang. Kyu Hyun menggelengkan kepalanya, apa daya tarik gadis ini? Sampai dia ketakutan kalau Kyu Hyun akan menidurinya? Hey ayolah, Kyu Hyun adalah playboy kelas kakap, yang memiliki kriteria yang terbilang wah untuk seukuran tipe gadis seperti ini.

“Aku tidak menemukan ketertarikan pada setiap jengkal tubuhmu”Bisik Kyu Hyun tepat di telinga gadis itu. Kedua tangan Hye Ji terkepal, perkataan lelaki itu cukup membuatnya tersadar, kalau dia benar-benar bukan tipe nya.

“Aku akan tidur di sofa itu, dan kau?”

“Sebaiknya tidur di bawah”Kyu Hyun menyeringai tajam. Dengn cepat lelaki itu sudah mengambil alih sofa, membawa bantal dan juga selimut dari ranjangnya, sementara itu Hye Ji masih berdiri disana, menatap kesal karena tempatnya sudah di ambil alih oleh lelaki kurang ajar seperti Kyu Hyun. Bahkan lelaki itu tidak mau membereskan kulit kacang itu dan kembali tidur di ranjangnya, dia malah lebih memilih untuk mengambil alih tempat tidurnya.

Seakan tidak ada habisnya lelaki itu mengerjainya, di apartemennya dengan jelas Hye Ji mengingatnya bagaimana dia tertidur beralaskan kardus dan sekarang lelaki itu juga berulah memintanya untuk tidur di lantai, jangan harap.! Lebih baik Hye Ji membereskan ranjang itu, ketimbang dia tidur di lantai yang dingin itu

“Terimakasih karena malam ini membiarkanku tidur di ranjang empuk ini”Hye Ji tertawa renyah. Setelah selesai membuang dan membereskan kekacauan yang dibuatnya untuk mengerjai Kyu Hyun. Hye Ji akhirnya bernafas lega, tertidur dengan nyaman di ranjang itu, rasanya empuk dan hangat, tidak seperti waktu di apartemen, Hye Ji harus rela seluruh tubuhnya pegal-pegal dan bekas gigitan nyamuk sangat kentara di seluruh tubuhnya. Kyu Hyun memungginya dna terlihat sudah sangat pulas sekali, sekali lagi Hye Ji berterimakasih pada Tuhan, karena lelaki itu sudah terlelap di sofa itu, tidak mengambil alih ranjang ini, dan Hye Ji bisa tertidur dengan nyenyak malam ini.

***

Museum yang cukup terkenal di jezu, menampilkan boneka beruang yang terkenal dan sangat dicintai setiap orang dan wisatawan dari penjuru dunia. Teddy bear dari berbagai negara disini juga ada teddy bear selama 100 th, termasuk teddy bear yang terpopuler di setiap zaman nya.

Hye Ji menatap takjub akan pemandangan museum yang berada di hadapannya. Bukan hanya menampilkan kisah sejarah di museum ini. Di museum ini juga terdapat kafe dan taman yang menampilkan pemandangan indah pantai Jungmun.

Kakinya melangkah memasuki ruang pameran di museum itu. Ruang pameran dibagi menjadi 2, ruang pameran pertama, Hye Ji bisa melihat penampilan ibu kota Seoul pada masa kerajaan Chosun dan sebelum kemerdekaan dari penjajahan jepang, Hye Ji semakin terpukau karena bisa melihat secara langsung bagaimana drama yang diperagakan langsung oleh boneka-boneka teddy bear yang seakan-akan hidup.

Hye Ji tak mau ketinggalan, dengan cepat Hye Ji menarik tangan Kyu Hyun dan memasuki ruang pameran kedua. Kali ini di ruang pameran kedua Hye Ji menatap takjub, dihiasi sebagai runag khusus kota seoul saat ini, mulai dari kecamatan Apguejeong sampai kecamatan Samcheong, didalamnya terdapat sejumlah daerah seperti Myeondeong tempatnya berbelanja, anak sungai Cheoggye, balai kota seoul dan sebagainya.

“Wah itu kan teddy bear di princess hours? Uhh daebak”Hye Ji tak melewatkan banyak waktu, dengan cepat segera menuju ke ruangan yang tampak terlihat dimana teddy bear itu duplikat dari drama yang pernah di tontonnya dulu, princess hours. Masih diingatnya dengan jelas bagaimana di drama itu setiap ending pastilah yang muncul teddy bear yang mereka ulang adegan dalam drama tersebut, dan hari ini. Hye Ji sangat bahagia karena dengan mata kepalanya sendiri dia bisa menyaksikan bagaimana fantastic nya museum ini bagi pecinta drama seperti dirinya.

“Sebaiknya kita berfoto ya?”Hye Ji mengeluarkan ponselnya, kemudian menekan tombol dan beberapa setelahnya Hye Ji begitu girang karena gambar dirinya sangat cantik berpose dengan teddy bear raksasa. Benar-benar honeymoon yang tidak akan dilupakannya. Ngomong-ngomong soal honeymoon, sudah sejak tadi Hye Ji baru ingat kalau suaminya tidak berada bersamanya. Kemana dia? Oh yaampun, saking asyiknya ber selfie ria bersama teddy bear sampai melupakan suaminya begitu saja.

“Oh. Kau disini rupanya?”—Hye Ji menatap Kyu Hyun yang sedang duduk di salah satu kursi di taman itu, Hye Ji ikut duduk di sampingnya, menatap pantai Jungmun

“Sudah selesai?”Tanya Kyu Hyun. Hye Ji mengangguk, walau hatinya masih sangat ingin berada di museum ini, tapi Hye Ji tidak boleh egois, kalau ada seseorang yang sepertinya kurang menyukai tempat ini. Hye Ji bisa kembali ke museum ini lain kali, berfoto dengan semua teddy bear disini, menikmati kopi dan duduk di taman dengan pemandangan pantai jungmun. Lain kali.

“Kau terlalu asyik dengan teddy bear mu—“

“Aku tidak tahu, tapi aku sudah sangat bosan berada disini”

“Maksudku, sudah beberapa kali aku kesini, dan sampai saat ini keadaan museum ini masih sama saja, jadi—“

“Aku merasa kalau sebaiknya kita pergi saja”Hye Ji hanya mengangguk saat lelaki itu mengajaknya keluar dari museum itu. Matanya menatap dengan sedih ke arah museum, rasanya sedikit tidak rela Hye Ji meninggalkannya. Mungkin bagi orang kaya seperti Kyu Hyun, pasti akan sangat bosan karena berkunjung ke pulai jezu dan menikmati setiap keindahan disini, tapi bagi Hye Ji. Bahkan terbilang untuk gadis itu bisa memakan daging di rumahnya. Hye Ji tidak pernah liburan kemana pun, entah itu dalam negeri maupun luar negeri sekalipun, baginya. Honeymoon ke pulai jezu adalah impiannya sejak kecil.

“Apa kau lapar?”Mobil itu berhenti tepat di sebuah restoran dekat museum itu. Perutnya sudah sangat keroncongan dari tadi, dan karena itulah Kyu Hyun segera mengajak Hye Ji keluar dari museum itu. Hye Ji terlihat sedikit murung, Hye Ji msih ingin disana, rasanya masih belum puas untuknya mengambil selfie bersama teddy bear

“Terserah kau ikut atau tidak, aku akan makan disana—“Kyu Hyun berjalan menyebrangi jalanan, dan tanpa disadarinya kalau gadis itu ternyata juga mengikutinya dari belakang, tak dipungkiri kalau perutnya juga keroncongan dan minta diisi. Hye Ji berjalan mengikuti lelaki itu dari belakang

Menu pilihan Kyu Hyun adalah sup ikan pedas. Hye Ji sedikit menggelinjang begitu menu ikan dipilih Kyu Hyun. Kyu Hyun tanpa ragu mencicipi sup ikan itu, sementara Hye Ji harus sedikit memberanikan diri untuk bisa menyendoknya. Hye Ji tidak suka ikan, dan ikan adalah makanan yang selama ini coba dihindarinya

“Kenapa? Apa makanan ini bukan makanan kesukaanmu?”Tanya Kyu Hyun enteng, lelaki itu terlihat makan dengan lahap dengan beberapa kali menyendokan sup ikan pedas itu ke dalam mulutnya, Hye Ji masih menatap ngeri pada ikan di depannya, kalau Hye Ji tidak makan, Kyu Hyun mungkin saja tersinggung. Hye Ji memilih untuk mencicipinya sedikit

“kita tidak banyak waktu—“

“Aku tidak akan membawamu ke restoran karena nanti malam ada sedikit urusan, jadi makanlah.!”Hye Ji meneguk ludahnya sendiri. rasanya masih sedikit  ngeri membayangkan ikan itu akan memasuki tenggorokannya dan ah, sial Hye Ji tidak punya pilihan lain selain memakan ikan ini. Hye Ji tidak begitu hapal dengan pulai jezu, dan Hye Ji tidak bisa bepergian tanpa Kyu Hyun. Hye Ji tidak ingin nyasar disini. Oh shit, akhirnya Hye Ji memasukannya ke dalam mulutnya

Seperti tanah, terasa hambar dan aneh ketika Hye Ji mencoba untuk menguyahnya. Hye Ji bahkan tidak bisa menjamin kalau dia akan menghabiskan sup ikan itu sendiri, Hye Ji memilih untuk cepat-cepat menelannya, dan memilih nasi untuk dimakannya. Rasa nasi ini benar-benar lebih baik ketimbang ikan itu, setidaknya Hye Ji harus makan, baik itu nasi tanpa apapun, lebih baik ketimbang ikan yang menjadi lauk pauknya.

Keduanya telah sampai dengan cepat di kamar hotel mereka. Kyu Hyun, lelaki itu bahkan sudah meninggalkannya sendirian, dan dengan cepat pergi entah kemana dengan mobilnya. Hye Ji terlihat begitu bosan karena menikmati sore hari di kamar hotelnya, bahkan masih sore untuknya menikmati tempat-tempat wisata di pulau jezu ini, tapi lelaki itu malah meninggalkannya. Huh bosan, Hye Ji memilih untuk menonton televisi ketimbang harus duduk dengan bingung di ranjangnya.

***

Terdengar suara musik yang mengalun dengan keras di tempat itu, terlihat kentara dengan lampu kela-kelip di dalam sana, beberapa wanita malam sengaja memakai pakaian yang minim bahan, menampilkan sisi kemolekan tubuhnya dan mengumbar hal-hal privat di tubuhnya. Beberapa pasang terlihat saling mencumbu dengan rakus di tempatnya, ada pula yang hanya sekedar melepas penat dengan beberapa minuman yang tertuang di dalam gelas di depannya, sebagian orang memilih untuk mengekpresikan dirinya dengan menari dan juga saling mencari kepuasan dengan lawan menarinya. Saling mengecup, meraba dan berakhir di sebuah tempat yang telah disediakan di lantai atas. 19 Club, club yang sangat terkenal di pulai jezu, karena bukan sembarangan orang yang bisa ke tempat ini, hanya beberapa orang saja, dan hanya orang-orang yang tentu saja memiliki dompet tebal yang bisa masuk kesana.

“Hai sayang”Lelaki itu segera mengambil tempat duduk di samping wanita yang siap menyambutnya dengan kecupan manis di bibirnya

“Bagaimana kabarmu?”Tanya wanita berambut pirang

“Baik. Dan selalu baik..”Jawab lelaki itu dengan sebelah tangannya mulai menuangkan anggur ke dalam gelasnya

“Sudah lama sekali ya?—“wanita itu tiba-tiba saja sudah berada dalam jarak sangat dekat dengan lelaki bernama Cho Kyu Hyun. Kedua tangannya sedang mempermainkan kancing kemeja yang dipakaianya, tangan nakal gadis itu dengan sengaja meraba pelan permukaan dadanya yang masih tertutup kemejanya

“Aku merindukanmu sayang”Ucap wanita itu putus asa. Kyu Hyun tersenyum miring, mengecup kilat bibir ranum yang ada didepannya. Tak butuh waktu lama untuk mereka menikmati moment keintiman mereka, wanita itu semakin membalasnya dengan menggebu, tak membiarkan barang sejengkal pun lelaki itu lepas darinya

“Kau selalu hot sayang, aku menyukainya—“Kyu Hyun menyudahinya, dirasa pasokan oksigen yang mulai menipis, mengelap sudut bibir wanita itu yang nampak kemerahan karena ulahnya. Kyu Hyun merangkul wanita itu dengan satu tangannya, menempatkan kepala wanita itu menempel di dadanya.

“Kemana saja oppa? Tak tahukah aku begitu merindukanmu”

“Aku dengan kau telah menikah, apa itu benar?”Kyu Hyun melepaskan pelukannya. Menatap wanita itu dengan tajam, mencengkram lengannya.

“Kau tahu ada beberapa hal yang sangat tidak kusukai ketika aku sedang bersenang-senang?—“

“Maaf oppa, aku hanya—hanya merasa kau semakin jauh denganku”Stela sudah sangat tahu bagaimana sikap lelaki itu. Kyu Hyun sangat tidak suka jika urusan pribadinya harus di bicarakan ketika dirinya sedang menikmati waktunya bersama seseorang yang akan di jadikannya ‘One Night Stand’ tapi Stela, bahkan sudah 2 tahun terakhir ini Stela menjadi ‘One Night Stand’ Stela hanya ingin tahu apa benar lelaki itu sudah menikah, lalu dengan siapa? Dan apakah dia bahagis karena telah memiliki gadis lain? Hanya itu, hanya itu yang ingin Stela tegaskan. Stela hanya ingin tahu hal kecil yang terjadi di hidup lelaki itu.

“Sudahlah, ada baiknya kita cepat kesana—“Kyu Hyun menyeringai, senyumnya mengembang di bibirnya, dengan cepat Kyu Hyun membawa Stela bersamnya ke kamar yang telah di sediakan disana. Tak butuh waktu lama untuk Kyu Hyun bisa menguasai tubuh Stela, seperti biasa hanya Stela yang mampu membuatnya sangat puas dan seperti dibutuhkan, Kyu Hyun sangat menyukai bagaimana Stela sangat memuaskannya di atas ranjang, Kyu Hyun mengakhiri malam itu dengan memunguti pakaiannya dan segera memakainnya. Begitu dirasa cukup, Kyu Hyun segera meninggalkan tempat itu.

“Aku bahkan tidak bisa melarangmu pergi, oppa apa kau tahu kalau aku begitu mencintaimu?—“Stela hanya dapat menangis ketika lelaki itu pergi dari tempatnya dengan cepat, meninggalkan lembaran uang disana. Bukan uang yang stela inginkan. Stela hanya menginginkan dirinya, apa semua yang stela lakukan kurang jelas di matanya? Bahkan stela tidak bisa bernafas dengan benar saat Kyu Hyun tak lagi disisinya. Apakah bisa untuk Stela mendapatkan Kyu Hyun?

***

 

Kyu Hyun menautkan alisnya begitu dirinya sampai di dalam apartemennya. Gelap gulita dan tidak terdengar tanda-tanda kehidupan disana. Kaki nya melangkah ragu takut sesuatu akan di injaknya. Kemana Hye Ji? Apakah dia sudah tidur atau malah kelanyaban? Di waktu yang sudah sangat malam seperti ini. Akhirnya sebuah step lampu di temukannya, Kyu Hyun segera memencet tombol lampu dan Kyu Hyun harus bernafas lega karena tidak gelap gulita di apartemennya

Semuanya bersih dan masih rapih. Sama seperti saat terakhir saat dia meninggalkan apartemen itu, tapi dimana Hye Ji? Kyu Hyun sedikit ragu untuk bisa menebak kalau Hye Ji keluar sendirian di tengah malam seperti ini. Kakinya semakin melangkah ke ranjang yang terlihat sedikit berantakan, dan tunggu, kenapa sepertinya ada seseorang di balik selimut itu. Kyu Hyun menyingkapnya dan melihat kalau Hye Ji sedang tertidur disana, namun aneh, kenapa Hye Ji terlihat mengeluarkan banyak keringat dan sepertinya nafasnya terlihat pendek-pendek. Dengan cepat sebelah tangannya sudah menempel di kening gadis itu.

“Astaga, kau demam?”Hye Ji melenguh pelan. Lemas dan tak bisa membuka matanya dengan benar, Hye Ji memilih untuk terdiam karena pusing yang menderanya akibat demam itu. Kyu Hyun terlihat panik, mengacak-ngacak barang bawaannya. Tidak ada satu pun obat yang bisa ditemukannya. Kyu Hyun beralih ke koper Hye Ji, mencari sebuah benda yang dapat menurunkan demam itu. Sial, bahkan satu pun obat tidak ditemukan disana. Malam-malam seperti ini pasti tidak akan apotik yang buka.

Kyu Hyun terlihat buru-buru menyingkap selimut itu, dan matanya terfokus melihat pakaian yang melekat di tubuh Hye Ji. Kyu Hyun ingat saat dulu ia kecil, ketika demam maka eomma nya akan membuka seluruh pakaiannya dan menempelkan tubuhnya rapat di tubuh Kyu Hyun. Agar mengurangi demam itu, karena memang saat itu untuk mendapatkan obat sangat susah. Tapi apakah Kyu Hyun harus melakukannya? Hye Ji adalah gadis dewasa dan Kyu Hyun—

Kyu Hyun tidak punya pilihan lain lagi selain menelanjangi tubuh Hye Ji. Perlahan tangannya mulai memegang ujung kaos yang dipakai istrinya, Kyu Hyun dengan pelan membantu mengeluarkan kaos itu dari tubuh Hye Ji, menyisakan sebuah tanktop dan benda kecil yang berada di dalamnya. Kyu Hyun menahan nafasnya, bagaimana pun ia adalah lelaki dewasa yang memiliki nalurinya dan melihat tubuh istrinya nyaris telanjang membuatnya—

Bodoh, lupakan itu! Bisa-bisa nya di saat seperti ini dia memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya. Kyu Hyun menggelengkan kepalanya, memejamkan matanya dan berusaha membuka tanktop itu, kain terakhir yang melekat sebelum Bra di tubuh Hye Ji.

“Apa-yang-kau-lakukan?”Hye Ji setengah sadar, menatap keadaan tubuhnya yang nyaris telanjang. Dan tangan lelaki itu sepertinya akan membuka tanktopnya. Tidak, Hye Ji tidak akan membiarkan lelaki itu membukanya, Hye Ji masih cukup waras untuk membiarkan lelaki itu mengambil sesuatu yang berharga dihidupnya

“Diamlah—“

“Aku mohon, aku hanya akan menghentikan demam mu”Kyu Hyun terlihat frustasi, dia tidak punya pilihan lain selain ini. Sungguh, Kyu Hyun benar-benar ingin menyelamatkan Hye Ji. Gadis itu sedang demam tinggi dan Kyu Hyun ingin agar Hye Ji membaginya dengannya, setidaknya pertolongan pertama yang Kyu Hyun berikan untuknya

“Kau percaya padaku?”Hye Ji menatapnya, setengah sadar. Lelaki itu sepertinya tidak berbohong. Hye Ji menganggukan kepalanya, pasrah ketika tangan lelaki itu membuka satu-satu nya kain yang hanya melekat di tubuhnya sebelum Bra yang dipakainya. Kini Hye Ji sudah hampir telanjang, menyisakan CD dan Bra, Kyu Hyun meneguk lidahnya, menyaksikan bagaimana pemandangan yang cukup menggiurkan di depannya, beberapa kali lelaki itu memejamkan matanya, mengusir pikiran jahat agar tidak meniduri gadis yang kini terlihat lemah di bawahnya. Dengan menekan hasratnya, Kyu Hyun segera membuka baju dan juga celana panjangnya, menyisakan sebuah Boxer yang dipakainya.

Dengan gerakan cepat lelaki itu segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sebelah tangannya membawa tubuh lemas Hye Ji ke pelukannya. Hangat, Kyu Hyun memeluknya dengan erat, mengabaikan tonjolan yang terasa di dada nya. Kyu Hyun berharap dengan memeluk gadis itu setidaknya akan meredakan demamnya

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Entah berapa lama Kyu Hyun memeluk gadis itu, namun masih saja gadis itu masih demam tinggi, Kyu Hyun bahkan bisa merasakan kalau tubuh gadis itu sedikit menggigil, Kyu Hyun memilih untuk semakin merapatkan tubuh gadis itu ke pelukannya, mengabaikan rasa lain yang dirasakannya, bagaimana pun dia seorang lelaki normal.

“Terimakasih”Ucap Hye Ji lemas. Kalau saja Kyu Hyun tidak pulang dengan cepat, Hye Ji tidak tahu akan nasibnya saat ini, mungkin juga Hye Ji sudah tidak berada di dunia ini. Kalau saja kyu Hyun tidak membantunya seperti ini. Hye Ji merasakan demamnya sedikit berangsur hilang, Kyu Hyun masih memeluk dirinya begitu erat.

“Tidurlah, aku sedang berusaha mengusir demam mu”Hye Ji mengangguk. Di dalam pelukan Kyu Hyun gadis itu mencoba memejamkan matanya. Hye Ji percaya kalau Kyu Hyun tidak akan berbuat macam-macam padanya, terbukti dengan lelaki itu menahan sekuat tenaga apa yang telah dirasakannya saat kulitnya bersentuhan langsung dengan Hye Ji. Hye Ji tersenyum di balik pelukan itu, Kyu Hyun sedikit berubah. Lelaki itu baik dan bahkan menyelamatkannya di situasi seperti ini.

Hye Ji merasakan kepalanya sedikit pusing, matanya tidak bisa membuka sempurna karena kepalanya yang masih pusing, Hye Ji mencoba untuk mengerjapkan matanya. Membuka secara perlahan kedua matanya. Sinar mentari itu begitu menusuk kedua matanya, Hye Ji seolah sadar kalau hari ini sudah siang dan saatnya ia terbangun dari tidurnya.

“Kau bangun?”Hye Ji mengerjapkan matanya beberapa kali. Lelaki dihadapannya sudah membawa semangkuk besar bubur dan juga susu panas. Lelaki itu terlihat masih sama, dengan ekpresi dinginnya menatapnya dengan datar. benar-benar Cho Kyu Hyun suaminya

“Makanlah, aku sudah susah-susah membuatnya”Hye Ji menatap ngeri pada bubur dihadapannya. Terlihat tidak seperti bubur dan juga penampilannya. Yaampun Kyu Hyun benar-benar gagal dalam hal memasak. Hye Ji mencobanya memasukan satu sendok ke dalam mulutnya, terasa hambar di lidahnya, entah karena Hye Ji sedang sakit atau karena lelaki itu yang tak pandai memasak. Hye Ji menyuapkan bubur itu kembali, menelannya dengan perlahan. Hye Ji tidak mau membuang bubur hasil jeripayah suamianya. Setidaknya rasa hambar lebih baik daripada asin, lagipula tidak cukup buruk bagi pemula seperti Kyu Hyun

“Kau yang melakukan ini?”Hye Ji menatap penampilannya. Semalam dia hanya memakai Bra dan juga CD tapi pagi ini Hye Ji baru sadar kalau dia terbangun dengan memakai kemeja kebesaran. Dan bisa dipastikan kalau Hye Ji tidak memiliki kemeja kebesaran itu. Kyu Hyun, pasti suaminya yang melakukannya.

“Apa masalah?”Tanya Kyu Hyun. Hye Ji tersedak makanannya dan dengan cepat tangan lelaki itu menyodorkan segelas susu, Hye Ji segera meminumnya perlahan, matanya masih menatap lelaki yang sedang menatapnya tajam

“Kau istriku dan aku berhak setidaknya—“Kyu Hyun mencoba memikirkan kembali kata-kata yang keluar dari mulutnya, astaga barusan dia mengatakan ‘istriku’ Kyu Hyun tidak berniat sebenarnya, hanya saja. Berhubung gadis itu menanyakannya. Maka Kyu Hyun pun merasa kalau tidak ada salahnya jika ia melakukan hal itu, bahkan jika lebih sekalipun. Toh mereka sudah menjadi suami istri lalu—

“Tidur denganmu”Ucapnya pelan. Kyu Hyun sebenarnya tidak ingin melanjutkan percapakan ini, tapi apa boleh buat. Kyu Hyun hanya ingin menekankan pada gadis itu, dia bisa melakukan apapun dan mendapatkan apapun yang dia mau.

“Bagaimana kalau aku menolakmu?”Tanya Hye Ji pelan, kalau saja kondisinya sedang tidak sakit, mungkin Hye Ji sudah melayangkan sebuah tinjuan kecil ke wajah lelaki itu. Bisa-bisanya dia membahas sesuatu yang bahkan tidak pernah sedikitpun ia bayangkan.

“Aku selalu mendapatkan yang aku mau—“

“Kapanpun itu”

“Kau tahu? Bahkan seluruh wanita selalu memujaku, datang padaku dan mengantarkan tubuh mereka dengan suka rela”Hye Ji memalingkan wajahnya, saat dengan tiba-tiba jari-jari tangan itu membelai wajahnya dengan pelan, brengsek benar-benar brengsek. Hye Ji bukan wanita semacam itu, murahan. Bahkan Hye Ji berani bersumpah jika selama ia hidup, belum pernah ada satu lelaki pun yang pernah menjamah tubuhnya.

“Kau bukan tipe ku, tapi—“Mata lelaki itu mencoba menerawang pada kemeja kebesaran yang kini dipakai istrinya. Di otaknya masih teringat dengan jelas bagaimana tubuh Hye Ji begitu menggodanya, sial. Bahkan Kyu Hyun bertaruh jika Hye Ji tidak pernah melakukan operasi apapun pada tubuhnya, tubuhnya sangat mulus dan bersih.

“Aku tidak menyukaimu”Deg. Baru seumur-umur Kyu Hyun menyaksikan sendiri bagaimana gadis ini menolaknya. Dengan jelas dan dengan matanya sendiri, begitu terkejut dan seakan harga dirinya terluka, biasanya para wanita akan datang sukarela padanya, memintanya untuk tidur dengan mereka. Tapi Hye Ji, sepertinya gadis ini bahkan tidak menyukainya

“Kau bukan tipe ku”

“Mwo?”

“Aku tidak suka lelaki Cassanova sepertimu”

“Apa–apa kau tidak melihat pesona di diriku hum?”

“Tidak, aku bahkan tidak bisa melihatnya—“

“Dan tuan, aku tidak peduli seberapa banyak wanita yang akan mengejarmu”

“Aku ingin bertanya 1 hal?”Ada beberapa hal yang membuatnya penasaran. Kalau tidak menyukainya lalu kenapa gadis ini mau menikah dengannya. Kyu Hyun hanya ingin memastikannya

“Kenapa kau menikah denganku?”

“I-tu karena sebenarnya aku ingin—“

“Aku, aku—“Apakah Hye Ji harus mengatakan kalau dia melakukan semua ini demi biaya kuliahnya, tidak. Pasti Seunghwan tidak akan menyukainya, dan bisa saja Kyu Hyun akan sangat marah dan bilang pada ayah nya, kemudian seluruh biaya pendidikannya di hentikan, tidak. Hye Ji harus tetap diam sampai semuanya, setidaknya sampai kuliahnya selesai. Dan Hye Ji mampu mengembalikan semua uang yang telah di berikan Seunghwan kepadanya

Perlahan tubuhnya mulai mendekati tubuh Kyu Hyun, menyimpan mangkuk bubur itu ke atas meja. Wajahnya mulai mendekat, dengan sedikit keberanian yang dimilikinya. Hye Ji mulai memejamkan matanya, perlahan tapi pasti bibirnya telah menempel di bibir Kyu Hyun, Hye Ji menyesapnya perlahan dengan lembut dan tidak terburu-buru, mengantarkan sengatan yang membuat Kyu Hyun membalasnya.

Menggebu, seakan-akan tidak ada waktu lagi untuk Kyu Hyun bisa mencicipi bibir istrinya, dengan terlihat sedikit bersemangat, bibirnya mulai menyesap dan membelit lidah istrinya berkali-kali, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat yang sangat nyaman untuknya.

“Apa kau mulai menyukaiku?—“

“Eung.. entahlah”

 

 

 

 

 

 

Tired

Sedikit curhatan saat beberapa tahun yang lalu, dimana merasakan titik jenuh dengan tugas dosen yang menumpuk..hehe. dan baru ke post hari ini 😀

 

“Aigoo Bagaimana ini?”Gadis mungil itu mengacak rambutnya frustasi.Rambutnya sekarang sudah tak berbentuk lagi. Kemeja yang ia pake sudah terlihat sangat lusuh dan beberapa kancingnya sudah terbuka menampakan kulit putihnya yang mulus. Lee Eunji gadis berusia 20 tahun.Salah satu mahasiswa di Kyunghee itu Nampak sangat frustasi.Bagaimana tidak?Dosennya tak segan-segan memberikan pekerjaan rumah yang lumayan menguras tenaga. Kalau hanya 1 dosen saja mungkin Lee Eunji tak kan frustasi seperti ini. Semua dosen catat semua dosen memberikannya PR selama masa liburan 2 minggu ini padanya. Kalau saja ia tahu kuliah akan seperti ini mungkin ia akan lebih memilih untuk bekerja saja. Tapi apalah mau dikata semuanya sudah terlambat.Lagi pula Eunji merasa kasihan melihat ayah dan juga ibunya yang selalu menyuruh Eunji untuk sekolah.

Drt…Drt Benda persegi berwarna merah yang berada di atas meja tak jauh dari Eunji bergeta.Menandakan kalau ada SMS masuk.Eunji dengan malas mengambil Handphone itu.dan melihat siapa orang yang mengiriminya sms tengah malam begini. Eunji tersenyum menampilkan lesung pipinya.Yeoja itu merasa bahagia karena di tengah penderitaan mengerjakan tugasnya masih ada orang yang baik yang mau menemaninya begadang.Ya pemuda tampan berkulit putih bernama Cho Kyuhyun. Kekasih Eunji. Pemuda itu yang selalu menjadi penyemangat Eunji selama ini.Tempatnya bergantung selama ini, dan sandaran baginya.Sungguh Eunji sangat bersyukur pada tuhan karena di berikan kekasih sebaik dan sepengertian.

“Aku akan menemanimu.Jadi kerjakan dengan benar PR-PR mu arraseo?”

“Arra… Sebaiknya tidur saja kyu. Tak usah menemaniku”

“Lalu membiarkanmu begadang sendiri begitu?”

“Ayolah Kyu. Sebentar lagi aku akan tidur. Aku tak ingin melihat wajahmu dengan jerawat yang banyak”

“Baik-baik kau menang Lee Eunji.Aku tidur duluan.Eohhh jangan lupa kalau sudah beres cepat tidur.Jangan lupa sebelum tidur cuci tangan dan kaki, dan menggosok gigi. Selamat Malam. Aku mencintaimu”Eunji tertawa melihat sms balasan dari kyuhyun. Benar-benar, apa kyuhyun menganggap Lee Eunji sebagai anak kecil yang harus diingatkan untuk mencuci kaki, tangan dan menggosok gigi? Eunji memang sedikit kesal dengan kyu. Tapi tak di pungkiri ia juga senang dengan kyuhyun yang memperhatikan dirinya. Ya walaupun bisa di bilang pacarnya tak se sesempurna orang lain. Mungkin bagi orang lain memiliki pacar seperti kyuhyun sangatlah membosankan. Bagaimana tidak?Kyuhyun sangat sulit di temui, super sibuk, bahkan kalau bukan Eunji yang menghubungi pemuda itu.mungkin kyuhyun tak akan ingat kalau ia mempunyai kekasih. Sangat sibuk, pemuda itu memang bekerja pada perusahaan ayahnya dan ia juga menjabat posisi peting disana salah satu Direktur dan pemegang saham. Selama ini Eunji tak mempermasalahkan itu semua.Ia mencintai kyuhyun apa adanya. Bukan karena harta atau pun karena ketampanannya.Ia tulus. Dengan sepenuh hati mencintai kyu.Ia juga bukan gadis matre yang senang di beri hadiah oleh pacarnya. Cukupia hanya membutuhkan perhatian dan juga kasih sayang.

Malam semakin berlarut.Eunji memutuskan untuk membereskan seluruh buku-buku dan juga alat tulisnya.Membawa barang-barang tersebut ke kamarnya.Menyimpannya di meja belajar. Setelahnya ia menuju ranjang. Berbaring dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.

 

***

“Yeobseoyo”Ucap Eunji dengan suara paraunya. Dengan mata setengah terpejam ia menjawab telepon tanpa melihat dulu siapa yang menghubunginya. Tak ada jawaban.Eunji heran.Sebenarnya siapa sih yang menelponnya sepagi ini?Lalu.Ia melihat nama penelpon tersebut. Ia kaget. Kyuhyun se pagi ini sudah bangun dan menelponnya. Sedangkan ia. Bahkan Eunji belum mencuci muka dan masih terlentang di ranjangnya.

“Ada apa?”

“Aku masih mengantuk cho kyuhyun.Kalau tidak apa-apa sebaiknya di tutup saja.Karena aku ingin melanjutkan tidur ku”kesal.Eunji sangat kesal karena kyuhyun tak bersuara sedikit pun. Dengan sekali tekan ia menekan tombol merah. Lalu tidur kembali dengan sebelumnya menyimpan Handphone di atas nakas.

Tok…tok..tok

Suara ketukan pintu pun terdengar. Baru saja Eunji akan tidur. Malah ada yang mengganggunya. Dengan malas ia beranjak dan akan membukakan pintu.

Ceklek..

Pintu terbuka dan menampilkan namja dengan setelan Kaos oblong berwarna biru dongker dengan bawahan jeans ketat serta rambut yang di tata sedemikian rupa.Tampan.Membuat Eunji terpukau dengan pesonanya.Kyuhyun tersenyum menampilkan barisan gigi putihnya yang langsung membuat Eunji salah tingkah.Dengan tanpa menghiraukan Eunji Kyu masuk ke kamar Eunji.Pemuda itu tanpa di perintah duduk di ranjang Eunji.Eunji yang melihatnya, segera mengikuti kyu lalu mengambil posisi di sebelah kyuhyun.

“Untuk apa menelpon jika sudah berada di rumahku?”

“Aku hanya ingin jalan-jalan dengan mu”Kyuhyun memegang tangan Eunji dengan lembut.Mengusapnya dan menciumnya.Lalu kyu menatap Eunji.Sejenak mereka berdua bertatapan. Sepertinya menyalurkan rasa rindu karena beberapa hari ini tak bertemu

“sepagi ini?”Jawab Eunji. Kyuhyun yang mendengar itu hanya tersenyum dan semakin mendekat ke arah Eunji.Menempelkan tubuhnya pada Eunji.Kini tangan yang semula di atas tangan Eunji naik.Mengusap wajah Eunji.Eunji memejamkan matanya. Was-was menanti tindakan apa yang selanjutnya akan kyuhyun lakukan padanya. Nafas Kyuhyunn menerpa cuping telinga Eunji.Hangat dan sangat menggelitik. Suara baritonnya membisikan sesuatu

“sebaiknya cuci dulu wajahmu Lee Eunji. Aku melihat ada kotoran di mata mu serta di kedua sudut bibir mu”Seketika itu juga Tubuh Eunji membeku.Pipi nya merah merona.Malu sangat malau. Rasanya akan lebih baik jika ia menyembunyikan wajahnya di lemari pendingin. Dari pada harus di lihat oleh kyuhyun. Sialan Kau Cho Kyuhyun. Aku malu padamu.Dengan sekuat tenaga Eunji beranjak dan segera menuju kamar mandi.Sementar itu Kyuhyun mengelngkan kepalanya melihat tingkah Konyol Lee Eunji.Tawa terdengar dari mulutnya.

***

“Kyu..Bisakah aku bekerja saja”ucap Lee Eunji dengan kyuhyun yang sedang memainkan rambutnya. Kini mereka sedang di taman yang tak jauh dari rumah Eunji. Kyuhyun yang mendengar itu menghentikan kegiatannya. Dahinya mengkerut dan menatap Eunji dengan penuh bingung

“Aku fikir kuliah itu takan semenderita ini.Ketika aku SMA aku selalu mengatakan Aku ingin cepat-cepat masuk ke perguruan tinggi lalu setelahnya bekerja dan jika umur ku sudah matang aku berniat untuk membangun rumah tangga.Tapi setelah menimang-nimangnya. Aku mau bekerja saja”

“Menjadi mahasiswa memang menyenangkan pada awalnya. Ya selain terkenal seorang mahasiswa juga akan di pandang semua orang, dianggap serba bisa. Apa aku sebaiknya bekerja saja ya? atau mungkin kita menikah saja Kyu. Setelah itu kita mempunyai anak dan merawat nya bersama-sama.Bagaimana?”Ucapan Eunji membuat Kyuhyun tersedak kaget.Eunji bingung kenapa kyuhyun sampai se kaget itu.apa Kyuhyun tak mau menikah dengannya?? Eunji marah.Ia membalikan badannya dan sekarang posisi Eunji memunggungi Kyuhyun.

 

“Dengarkan Aku Lee Eunji. Aku sangat Mencintaimu.Dan cintaku padamu lebih besar darimu. Aku ingin kita menikah tapi nanti setelah kau lulus kuliah dan bekerja. Sesuai rencanamu.Aku ingin memberikan kebebasan padamu.Aku tak ingin kau terkekang denganku. “

“Aku tahu sekarang ini banyak sekali tugas yang di berikan dosen padamu. Karena itu lah yang menjadi alasan mu ingin bekerja kan”Eunji menganggukan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan kyuhyun. Memang.Eunji mengakui banyaknya tugas yang di berikan dosen padanya.Membuat semangatnya hilang.Rasanya beban hidup nya semakin meningkat.

“Tugas-tugas itu jangan kau jadikan beban fikiran.Tugas-tugas itu takan selesai jika hanya di fikirkan saja.Sebaiknya segera di kerjakan”Kyuhyun memeluk tubuh Eunji.Mendekapnya erat.Membawa kepala Eunji bersandar pada dada bidangnya.Membelai rambutnya.Mencoba memberikan semangat pada Eunji.

“Banyak-banyak bersyukur.Dan jangan pernah katakana menyerah selagi kau hidup.Lihat di sekelilingmu.Masih ada orang yang sangat ingin sekolah tapi orang tuanya tak mampu.Pergunakan sebaik-baiknya kepercayaan orang tua. Tunjukan pada orang lain Lee Eunji seorang wanita kuat. Dan gapailah cita-cita yang kau impikan. Kelak setelah kau lulus kuliah aku akan melamarmu. Dan setelah kau berhasil bekerja dan menjadi penulis novel terkenal Aku akan menikahimu. Itu janjiku”bagaimana mungkin kekasihnya menjadi sedewasa ini.Eunji semakin menenggelamkan kepalanya dan memeluk erat Kyuhyun. Sungguh ia bahagia mendengar kata penyemangat dari kekasihnya. Ia jadi sadar, di usia 20 th ini masih banyak yang harus ia lakukan. Membahagiaan kedua orang tuanya. Melihat mereka tersenyum bangga dengan prestasi yang ia dapatkan. Bekerja pada perusahaan yang ia impikan selama ini menjadi penulis terkenal. Setelahnya ia akan memikirkan dan mengingat janji kekasihnya padanya melamar dan juga menikahinya.

“Terimakasih Kyu. Aku mencintaimu.Aku berjanji Akan menyelesaikan pendidikanku. Bekerja dan menjadi penulis novel terkenal”

 

Aku selalu bersyukur pada Tuhan mengirimkanmu untuku.Kau penyemangat dan juga kekuatanku Kyu.Semoga selamanya kita bersama.Dan Aku sangat mencintaimu. Terimakasih

 

 

Complicated

Aku menatap langit biru itu, tersenyum cerah seperti mentari yang sudah siap menyapa pagi ini. Aku meyakinkan diriku, untuk bisa hidup dengan baik. Mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi. Aku mencoba hidup dengan baik, mencoba untuk tegar menghadapi betapa kejamnya dunia ini.

Aku mungkin hanya seorang gadis biasa. namun hatiku sekuat baja, aku bukanlah gadis lemah yang akan menangisi sesuatu yang jelas malah membuatku sakit hati, aku lebih memilih untuk diam dan mencoba bersikap tenang dengan semua ini. Mungkin ada sesuatu yang lebih baik menantiku setelah cobaan ini berakhir.

“Na Ri”Aku menoleh begitu nama ku di panggil. Aku mencoba tersenyum senang saat orang yang memanggilku melangkah mendekatiku

“Hei. Aku membawa sebuah file yang harus kau edit”Senyum di bibirku berkurang, tatkala seseorang itu kian mendekat, duduk di sampingku. Lagi-lagi aku hanya menjadi seorang yang dimanfaatkan untuk kepentingan nya. Aku menghela nafasku, sejenak, aku membuang kekesalanku. Apa salahku? Kenapa seolah-olah setiap orang begitu mudah untuk memperalatku? Ah lupakan, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, mungkin orang di sampingku sedang sibuk, tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan benar, dia butuh bantuanku. Setidaknya aku masih dibutuhkan. Aku mencoba tersenyum ringan menatap mata itu.

“Terimakasih”Dia memeluku. Mengusap punggungku pelan, aku mengangguk di balik pelukannya. Aku ingat, malam ini aku harus pulang ke rumah ku untuk bertemu orang tua ku, ah tapi. Lukman, dia butuh bantuanku, aku merogoh tas ku, mengetikan permintaan maaf ku untuk ibuku, aku tidak bisa pulang malam ini, ibu maaf, aku ada kepentingan mendadak.

Aku merenggangkan otot ku, merileks kan sejenak tubuhku dengan membaringkan tubuhku sejenak di atas ranjang kamar ku. Rasanya mataku pedih, setelah beberapa jam berada di depan komputer dan kepala ku rasanya panas, menatap sederet barisan kata-kata yang harus ku review dan ku edit, begitu melelahkan menjadi seorang author tenyata, senyum ringan tersungging di bibirku. Aku baru menyadari ternyata sekolahku selama ini tidak sia-sia. Rasanya aku harus berbangga hati karena dulu nilai bahasa indonesia ku cukup tinggi, sedikit aku bisa memahami dan menggunakan ilmu yang telah ku serap dari guru-guru yang selalu mengajariku khusunya tentang permasalahan tata bahasa dan juga cara penulisan, aku menerapkannya dengan baik saat menjadi author. Ku rasa besok Lukman harus memberiku traktiran makan siang yang sangat mewah. Aku sangat yakin, kalau edit tan ku sangat bagus.

“Selamat pagi”Sapaku kepada semua orang yang ku lewati di lobi kantor. Kaki ku melangkah memasuki kantor tempatku bekerja. Aku tersenyum cerah dan bangga membawa hasil edit tan ku. Lukman pasti akan senang melihat hasil kerjaan malam ku yang sangat mengagumkan. Tanpa menunggu lama, aku memutuskan untuk mampir sebentar ke ruangan sebelah, tepatnya ruangan tempat Lukman berada. Aku harus mengembalikan file edit tanku. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu bagaimana reaksi nya yang akan memujiku habis-habisan.

“Dia begitu polos ya? Kenapa dia mau saja di suruh untuk mengedit semua pekerjaan mu? Aku sangat yakin kalau dia memiliki perasaan padamu”Aku menghentikan langkahku. Memilih untuk tetap berdiri tepat di pintu iu. Rasanya jantungku seakan berhenti berdetak saat ku dengar semua perkataan orang itu, Lukman. Aku tak menyangka kalau kau begitu tega memanfaatkanku, sama saja seperti mereka. Kau, temanku satu-satu nya, kenapa kau membuatku merasa sangat menyedihkan. Aku masih berdiri di depan pintu itu dengan sebelah tanganku yang memegang dada ku, rasanya disini sakit.

“Aku sangat yakin kalau dia mau di ajak tidur dengan mu. Hei bro, bagaimana kau manfaatkan saja dia”Hatiku semakin sakit mendengarnya, bahkan lelaki brengsek itu diam saja saat temannya mengusulkan sebuah ide gila agar aku mau di ajak tidur dengannya, yang benar saja. Aku bukan gadis murahan yang mau merelakan kesucianku untuk lelaki yang jelas-jelas bukan suamiku, ibu. Aku tidak kuat jika harga diriku di injak-injak seperti ini. Apa yang harus ku lakukan? Aku berniat baik dengan menolong temanku, tapi kenapa dia malah memanfaatkan ku.

“Kau sangat cerdas”Aku masih saja berdiri dengan tatapan datarku. Menatap pintu itu yang masih tertutup rapat, ku lemparkan berkas hasil editan ku, tak ku pedulikan pintu itu yang terbuka, menampakan seorang lelaki yang sepertinya kaget melihatku berjalan menjauhinya, dia memanggil-manggil namaku, tak ku pedulikan, aku berjalan dengan cepat meninggalkan kantor itu

Aku berdiri tepat di sebuah taman bunga. Tempat ini hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat kerjaku, Aku memegang ponsel ku, memencet tombol off. Aku tidak peduli jika pun bos ku akan memecatku karena hari ini aku tidak mentaati peraturan kantor, ‘untuk tidak berkeliaran selama jam operasional’ fikiranku sedang kacau saat ini, aku membutuhkan udara segar untuk merefresh otak ku, mengembalikan semangat yang selalu ada dalam diriku.

Akuharus menjadi orang sukses, aku harus menjadi seorang wanita yang memiliki 1000 kekuatan super untuk tetap bangkit di tengah keterpurukan seperti ini. Sebuah pepatah mengatakan “hidup bukanlah sesuatu yang harus kau keluhkan” “di setiap kehidupan, pasti akan ada masa nya untuk sulit dan bahagia” mungkin semua ini adalah sebuah cobaan agar aku tidak terlalu begitu arogan dengan kehidupan yang ku miliki, tidak seharusnya aku bersikap arogan dengan segala kemampuan yang ku miliki, masih banyak yang bahkan memiliki keterampilan di bidang nya.

“Kau baik-baik saja?”Aku mengingatnya, setiap dimana aku terpuruk. Pastilah kata itu yang akan di tanyakannya padaku. Masih teringat dengan jelas, bagaimana dia begitu khawatir saat melihatku tersenyum lesu ke padanya.

“Kau tidak sendirian, tenanglah, aku akan selalu berada di sampingmu”lagi-lagi suara itu seakan terdengar menggema di kepala ku. Lelaki itu, terlalu mendominasi hidupku, selalu membuatku tergantung padanya.

Aku tersenyum senang saat dia mengulurkan tangannya kepadaku. Kami bergandengan tangan, menuyusuri sepanjang jalan menuju rumahku, tangannya melambai begitu aku berjalan menjauhinya, menuju ke dalam rumah ku. Aku menutup pintu rumah dan diam-diam melihatnya yang masih berdiri di samping sepeda nya. Dia tersenyum cerah dan menatapku, jantungku berdetak dengan cepat tatkala dia masih berada di sana, masih menatap ku dengan semua rasa cinta yang dia miliki.

“Aku akan selalu berada di sampingmu. Jangan khawatir, hiduplah dengan baik”Tangisku semakin pecah. Saat kenangan manis berputar di kepala ku. Kenangan yang hanya sekejap bisa ku nikmati bersamanya. Fatan, tahukah kau betapa aku merindukanmu? Aku bahkan tidak bisa sekedar menatapmu atau menggandeng lengamu seperti dulu. Kenapa dengan kita? Kenapa kita bisa berjauhan seperti ini?

Terkadang aku berfikir. Mungkin seperti ini lebih baik untuk kita. Fatan dengan kehidupan baru nya dan aku yang masih berdiri menunggunya. Disini, kenapa cinta begitu rumit? Kenapa cinta justru malah menyakiti kita? Aku tidak tahu jawabannya. Yang jelas aku malah semakin merindukanmu.

Tak bisa ku salahkan siapapun disini, aku menyadari diriku yang begitu egois. Tak seharunya aku memilih untuk menyakiti diriku sendiri, dengan mengorbankan perasaan ku sendiri demi orang lain. Tapi apalah dayaku, aku tidak bisa bahagia di atas penderitaan sahabat ku.

“Selamat sel. Akhirnya kau menikah juga”Aku membuka akun BBM ku, tak sengaja aku melihat sebuah foto yang menampilkan salah satu sahabatku yang sedang tersenyum manis dengan menggendeng seorang lelaki di sampingnya. Mereka berdua tersenyum manis ke arah kamera dengan sebuah gaun putih yang mereka gunakan. Air mataku kembali keluar, mengaliri kedua sudut mataku, aku bahagia melihat sahabatku bahagia dengan pria yang dicintainya. Akhirnya Seli bisa juag Move on dan menemukan kembali kekasih hatinya.

“Maaf tidak sempat mengabarimu, ngomong-ngomong aku senang karena kau mengirimiku hadiah yang sangat cantik, Terimakasih Nari”Aku tersenyum kembali membaca chat tan dari Seli. Huh.. aku tak menyangka kalau Seli akan menjadi orang pertama yang menikah duluan diantara sahabat-sahabatku. Namun di balik itu, aku turut bahagia dan bersyukur karena Seli nampaknya bahagia dengan pernikahannya

Aku memutuskan untuk terduduk di salah satu bangku taman. Dengan ponsel yang masih setia ku tekan-tekan. Kali ini aku tak sengaja melihat foto seseorang yang sedang tersenyum dengan seorang gadis di samping nya. Mereka berdua tampak serasi dengan kaos couple yang mereka gunakan. Apa lagi ini? Tak kuasa aku menatap foto itu lama-lama, rasanya hatiku kembali sakit saat melihatnya dengan wanita lain, Fatan, dia adalah orang yang aku rindukan. Di foto itu dia sedang bersama seorang wanita. Hancurlah hatiku, hancur semua harapanku, hancur semua mimpiku untuk bisa kembali bersama dengannya.

Katakanlah aku pengecut. Aku tidak bisa melihatnya bersama wanita lain, aku tak kuasa melihatnya tersenyum bahagia dengan wanita lain. Apakah aku layak untuk di sebut sebagai wanita? Bahkan, aku tidak bisa mengungkapkan perasaan sesungguhnya yang aku miliki.

“Kau disini”Suara itu aku mengenalnya. Aku berbalik dan menemukan seseorang yang akhir-akhir ini selalu ku rindukan. Fatan, dia tersenyum dan semakin mendekatiku. Ini mimpi atau sekedar bayangan karena aku terlalu merindukannya? Aku mengucek kedua mataku, namun masih dengan jelas, ku lihat dirinya berdiri tegak di depan ku,

“Enak?”Tanya nya. Kini kami sedang berada di sebuah restoran dekat dengan rumah ku. Aku tidak tahu kenapa Fatan mengajaku makan di restoran, ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba mengajaku keluar. Hatiku semakin tak karuan, saat melihatnya tersenyum padaku.

“Nari”Panggilnya pelan. Aku menoleh dan balas tersenyum padanya, aku semakin terjerat pesona nya. Dia masih saja bersikap baik dan sopan, salah satu sifat yang paling aku sukai darinya. Aku meletakan sendok dan garpu, menatapnya. Menunggu dia akan mengatakan apa padaku

“Aku tidak memiliki hutang apapun padamu”Aku memolotokan mataku. Kenapa dia tiba-tiba membahas hutang, aku bahkan tidak ingat dia punya hutang apa padaku. Dia menatapku tajam, tak sedikit pun membiarkan mataku untuk menatap hal lain selain dirinya, kenapa dia tiba-tiba saja seolah sedang menegaskan padaku. Tak biasanya dia bersikap serius seperti ini.

“Apa kau datang ke pernikahannya?”mulutku. rasanya lancang aku menanyakannya. Kenapa tiba-tiba aku mengeluarkan kalimat yang tidak oleh ku tanyakan padanya. Fatan, pasti dia merasa sedih jika ingat wanita yang dicintainya telah menjadi istri orang lain sekarang. Ah Nari kau memang bodoh, tak seharusnya kau menanyakan hal itu

“Kau baik-baik saja”Tanya nya. Aku mengangguk, kenapa dia tak sedikit pun menjawab pertanyaan ku. Apakah dia tidak ingin mendengarnya, aku menjadi merasa bersalah, tak seharusnya aku menanyakan hal itu. Tentu saja, tidak mungkin dia merasa baik-baik saja. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu seeorang, pasti tidak mudah untuk Fatan menerima kenyataan ini.

“Syukurlah”Aku merasakan jantungku berdetak dengan cepat. Kenapa rasanya selalu berdebar saat dia tersenyum ke arahku. Sadarlah Nari, sadar. Fatan bukan siapa-siapa untukmu. Aku menatapnya dengan sedikit menunduk, mencoba menyembunyikan wajahku yang pasti sedang bersemu merah karena tatapan matanya yang seolah mengintimidasiku.

“Ah. Aku kalah, kau bisa menyebut salah satu tempat yang ingin kau datangi Nari”Aku semakin terperanjat. Kenapa dia jadi membahas soal masa lalu kami. Pertama soal hutang, aku masih mengingatnya dengan jelas kalau dia berhutang mentraktirku makan saat dia menerima gaji pertamanya dan malam ini dia membuktikannya. Ya walaupun bukan gaji pertamanya, jelas-jelas dia sudah bekerja di perusahaan itu 2 tahun, jadi bisa dikatakan sudah lama sejak dia menyebut gaji pertama. Namun aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku menganggap kalau dia memiliki alasan lain tidak menepati janji nya. Dan ya, liburan? Dia masih mengingatnya? Janji konyol kami, tentang ‘siapa yang cepat bekerja di bank’ dan yang kalah harus mentraktir yang menang, liburan. Fatan, kau memang lelaki sejati. Aku sangat resfect padamu.

“Ayolah”Ucapnya. Dia menyentuh kedua tanganku, tersenyum manis ke arahku. Tidak, dia semakin mempesona dengan senyumannya. Aku tidak boleh kembali terjerat pesonanya, bisa sangat gawat kalau aku kembali mencintainya.

“Korea”Aku melepaskan tangan ku. Menyentuh bekas tangannya di tangan ku, rasanya aku hampir mati terkejut karena semua tindakannya. Dia selalu mempunyai sikap yang membuat orang semakin menyayanginya.

“Baiklah. Kau pesan saja dan nikmati liburanmu”Aku mengangguk dengan menyeruput segelas Milkshake strawberry kesukaan ku

“Tan”Panggilku pelan, mataku berkaca-kaca, entahlah. Rasanya sudah sangat lama aku merindukan dirinya. Dan hari ini dia benar-benar ada dihadapanku. Tersenyum ke arahku

“Oh. Sebentar, ada telepon masuk”Aku menetap ke arah samping, menghapus air mataku yang kembali menetes di kedua sudut mataku. Mendengarnya berbincang dengan seseorang membuatku amarahku memuncak, dia sedang di telepon pacarnya. Aku yakin itu, yang menelpon adalah pacaranya, Fatan menjawabnya dengan intonasi yang sangat pelan dan juga dari kata-kata nya terdengar lembut. Cemburu? Kenapa juga aku harus cemburu. Bukankah ini pilihanku. Aku mencoba tersenyum menunggunya selesai berbicara dengan pacarnya lewat ponsel

“Aku tidak menyangka kau sangat berbeda. Ah maksudku kita sudah sangat lama tidak bertemu seperti ini”Dia tersenyum mengangguk. Dia tidak mengerti maksudku yang sebenarnya. Maksud dari ucapanku adalah ‘aku sangat merindukanmu, sudah sangat lama aku tidak menatapmu dari dekat’ dia berekpresi dingin, menatapku tanpa berkedip sedikit pun. Kenapa? Kenapa dia seolah baru saja mengenalku, bahkan kita sudah sangat baik dalam menjaga komunikasi selama ini, kenapa hatiku mengatakan kalau Fatan akan mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. Tidak, aku tidak siap mendengarnya. Tanpa ku sadari, aku menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku.

“Datanglah”Aku membuka kertas itu dan betapa kaget nya saat namanya dan nama kekasihnya tertera disana. Pernikahan? Fatan akan menikah, jadi dia benar-benar akan meninggalkanku? Aku tidak boleh egois, aku harus menunjukan dukunganku untuknya, aku berusaha menahan deraian air mata ku, menutupi semua luka yang semakin menusuk hatiku, Fatan tidak melihatku kesakitan dengan semua ini. Aku tersenyum ke arahnya. Dengan penuh minat, aku melipat kembali undangan itu, memasukan nya kembali ke dalam kantungnya.

“selamat”Satu kata itu yang dapat keluar dari mulutku. Aku terlalu bingung untuk mengatakan apalagi, aku mengulurkn tanganku dan Fatan menjabat tangan ku, sejenak kami berjabat tangan dan berakhir dengan Fatan melepaskan jabatan tangannya, aku tersenyum dan kembali menyeruput milkshake strawberry ku. Aku mencoba untuk tak meledak dihadapannya. Aku sekuat tenaga menahan semua kesakitan yang kian menusuk hatiku. Demi Fatan, aku harus terlihat bahagia.

“Kau bahagia?”Aku menatpanya dan dia menatapku. Ku anggukan kepalaku, dia tersenyum dan matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu kenapa, mungkin dia terlalu bahagia karena pernikahannya yang semakin dekat.

“Boleh aku memelukmu”Aku tidak tahu dengannya, aku mengangguk, Fatan berdiri dan seketika itu juga berada di hadapanku, memeluku dengan erat. Aku begitu nyaman berada di pelukannya, tanpa terasa air mata ku menetes seiring pelukan hangat yang dia berikan untuku.

“Kau tahu kan?”Dia melepaskan pelukannya. Membuatku mendongak, menatap langsung kedua matanya. Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkannya, namun aku mengangguk. Aku tidak tahu sejak kapan bibir itu menempel di kening ku, aku terdiam saat dia mengecup kening ku cukup lama. Air mataku kini benar-benar keluar dari kedua mataku. Kenapa? Disaat seperti ini, justru dia seolah menegaskan kalau dia juga punya perasaan yang sama untuku, kenapa?

“Untuk terakhir kalinya. Apa aku boleh memelukmu?”Aku mengangguk lagi. Aku tahu betapa bodohnya diriku yang seolah pasrah, menerima apapun yang diberikannya untuku. Aku tidak tahu dengan diriku sendiri, yang jelas aku merasakan sangat nyaman berada di dekatnya.

“Hiduplah dengan baik, temukan seorang lelaki baik untuk melengkapi gadis baik sepertimu”Aku semakin menangis di pelukannya. Kenapa kata-kata itu terdengar sebagai kata terakhir yang akan di katakannya padaku, kenapa kata-kata itu terdengar seperti dia memiliki perasaan padaku dan peduli denganku. Aku merasa selama ini cintaku tak bertepuk sebelah tangan seperti dugaanku selama ini. Apakah dia memiliki perasaan yang sama dengan ku?

“Mungkin terlambat, tapi aku sangat peduli padamu”Ucapnya. Aku melepaskan pelukan itu. Menatapnya tajam seolah menyuruhnya untuk memberikan penjelasan yang bisa lebih ku mengerti, jari telunjuknya berada di bibirku, seolah menyuruhku untuk diam. Lagi-lagi aku begitu bodoh, membiarkan dia memeluku kembali tanpa adanya pertanyaan dariku.

“Tak peduli apapun alasannya. Aku sangat sangat menginginkan saat ini, saat bersama mu seperti ini”Nafasku seakan tercekat mendengarnya. Fatan, kenapa baru hari ini kau mengatakannya. Kenapa saat seperti ini kau baru jujur padaku, selama ini aku tidak begitu mengerti tentang setiap bentuk perhatian kecil yang selalu dia berusaha berikan padaku. Aku menganggapnya sebagai bentuk perhatian biasa seorang teman. Dan terlebih aku menutup hatiku untuknya, aku tidak ingin terlihat jahat dengan merebut seseorang yang disukai sahabatku sendiri. Oh Tuhan, aku tidak menyadarinya. Dan kenapa aku begitu bodoh untuk berkata jujur kalau aku juga menginginkannya. Aku menginginkan berada di dekatnya.

Kata lain dari ‘mencintai’ bukanlah ‘memiliki’ melainkan sebuah perpisahan. Aku tidak bisa memastikan apakah aku benar-benar melepasmu dan merelakanmu. Yang jelas aku akan mencoba mengikhlaskan apa yang tidak ditakdirkan untuku. Aku percaya takdir, yang menyuruhku menunggu. Sampai sebuah kata ‘bahagia’ menghampiriku. Meskipun bukan dengan mu, Aku akan mengingatmu selamanya, sebagai salah satu masa laluku yang paling indah…

Saya hanya minta dengan sangat, jika kalian mengunjungi blog saya dan membaca beberapa ff saya, mohon untuk tidak menjadi sillent reader, saya meminta dengan sangat tolong beri saya saran atau mungkin komentar dengan apa yang saya tulis disini.. jujur, saya masih belajar, masih terus belajar tentang cara menulis dan saya juga punya cita-cita lebih terhadap hal yang saya sukai ini, jadi saya mohon.. tolong komen di setiap ff yang saya post, saya tidak meminta kalian untuk menyukai tulisan saya, saya hanya ingin adanya umpan balik.. mengerti kan?..